BERISLAM DALAM PERBEDAAN

                      Depok, WALISONGOONLINE – Perbedaan adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan. Tuhan sengaja menciptakan perbedaan agar kita saling mengenal. Mungkin sudah mafhum dibenak kita bahwa ada banyak sekali perbedaan di dalam Islam. Begitu beragamnya aliran dan mazhab yang masing-masing mempunyai fondasi dan dasar-dasarnya sendiri dalam memahami dan menjalankan cara hidup Islaminya. Dan hal ini menyebabkan banyak tafsir dan pendapat yang berbeda.

        Dan masyhur dikalangan kita, bahwa Islam sangat mengakomodir perbedaan. Salah satu landasannya adalah hadits “Perbedaan umatku adalah rahmat”(HR.Baihaqi). Meski hadits ini masih diperdebatkan validitasnya tapi kita masih bisa menghikmahinya untuk keutamaan amalan.

        Sepintas hadits ini sangat menggembirakan. Islam sungguh punya jalan tengah diantara perbedaan yakni rahmat atau kasih sayang. Perbedaan yang ada digiring dan diupayakan agar menjadi rasa kemakluman untuk saling belajar dan menghormati dan berujung pada persaudaraan dan kasih sayang. Seringkali pula kita dinarasikan kisah-kisah hikmah tentang perbedaan dari zaman Nabi hingga para guru dan kyai-kyai di Nusantara ini.

        Semisal kisah tentang perbedaan pendapat para sahabat pasca Perang Khandak (5H). Rasulullah SAW menginstruksikan sahabatnya, “Jangan shalat Ashar, melainkan di Bani Quraidzah!” (HR. Bukhari, Muslim). Para sahabat tebelah dua dalam memahami instruksi nabi tersebut. Ada yang memahaminya secara tekstual, sehingga tidak shalat Ashar kecuali sudah sampai lokasi. Ada juga yang memahaminya secara kontekstual, sehingga memahaminya segera melaksanakan shalat tepat waktu. Menariknya, saat kedua kelompok ini mengadu kepada nabi, beliau sikapi dengan arif dengan tidak mencela keduanya.

        Atau kisah dari kalangan tabi’in ketika Ima Abu Hanifah dan penganut madzhab Syafi’i serta yang lainnya berkunjunh ke Madinah dan mereka tetap shalat di belakang imam-imam Madinah yang bermadzhab Maliki (dalam mazhab Syafi’i bismillah termasuk dalam surat Al Fatihah sehingga wajib dibaca sedangkan dalam mazhab Maliki sebaliknya).

        Ataupun kisah keteladanan dari para kyai. Yaitu pada saat seorang tokoh Muhammadiyah Buya Hamka dan tokoh NU KH Idham Chalid berada dalam satu pesawat menuju Mekah. Masing-masing bergantian menjadi imam shalat Shubuh. Saat Idham menjadi imam, beliau tidak membaca qunut karena ada Hamka di belakangnya. Demikian juga Hamka, saat menjadi imam, beliau membaca qunut karena ada Idham Chalid di belakangnya. (Abdillah Mubarak Nurin, Islam Agama Kasih Sayang, 86).

        Dalam sejarah keberislaman kita, kita tak kehabisan cerita-cerita hikmah semacam ini yang sering diperdengarkan dipelbagai kesempatan. Namun dalam kenyataannya terkadang hadits ataupun kisah keteladanan diatas hanya sebagai mutiara jargon semata dimimbar. Diluar rumah ibadah kita mudah dan gemar sekali reaktif pada perbedaan. Perbedaan justru sering menimbulkan gesekan dan konflik yang mengakar dan memanjang di dunia virtual maupun dunia aktual. Bahkan menjadi bomerang yang menimbulkan kebencian satu sama lain dan menebarkan peperangan di antara sesama umat Muslim.

        Kita bisa melihat keadaan negeri kita ini akhir-akhir ini. Perbedaan kelompok keagamaan seringkali membuat ketegangan yang tak sedikit. Dari mulai pertarungan di dunia maya hingga sentimen antar kelompok di didunia nyata. Hal ini tak jarang membuat masyarakat bingung dan bahkan yang tragis adalah para orang awam yang menikmati dan bersemangat dalam memperuncing perbedaan ini tanpa mereka sadari. Islam sebagai sebagai payung bersama justru menjadi arena tarik-ulur klaim antar kelompok.

        Oleh karenanya dalam tulisan singkat ini, mari kita belajar bersama bagaimana menyikapi perbedaan dan arif dalam keberagaman. Setidaknya ada beberapa hal yang patut kita renungkan dan upayakan dalam mendewasakan kita ketika berbeda.

Pertama, Menghargai pendapat orang lain

        Hal yang terpenting dalam menyikapi perbedaan pendapat terhadap masalah ijtihadiyah atau cabang adalah bagaimana seseorang bertindak lebih dewasa untuk dapat menghargai pendapat orang lain, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh para Imam Mazhab. Diriwayatkan bahwa Imam Syafi’i rahimahullah ketika menziarahi kuburan Abu Hanifah di Kofah, beliau melakukan shalat shubuh tanpa qunut yang dipandang berseberangan dengan pendapatnya. Selesai shalat para jamaah yang berada bersamanya saat itu bertanya kenapa beliau meninggalkan qunut sementara menurut mazhabnya qunut shubuh adalah sunat muakkad. Dengan penuh rasa kedewasaan beliau menjawab: “saya sengaja meninggalkan qunut sebagai penghormatan dan penghargaan kepada pemilik kuburan ini yang berpendapat bahwa qunut shubuh tidak disunahkan”.

        Dan hari ini kita dihadapkan pada banyaknya aliran dan ormas keagamaan dengan berbagai perbedaan pendapat, pantas kiranya agar kita meneladani cerita atas agar bisa menghormati pendapat orang lain dan lebih bijak menghadapi perbadaan. Dan seumpama ada ajaran yang melenceng ataupun salah biarlah itu menjadi kewenangan otoritas keagamaan di negara kita.

Kedua, Tidak mengklaim bahwa pendapatnyalah yang benar

        Menarik untuk disimak bahwa mulai dari generasi para sahabat sampai dengan ulama mujtahid, mereka sangat berhati-hati dan tidak mau ijtihadnya disebut hukum Allah atau syariat Allah. Namun mereka mengatakan, “Ini adalah pendapatku, jika benar ia berasal dari Allah, jika salah maka ia berasal dari saya dan dari setan, Allah dan Rasul-Nya berlepas diri darinya (pendapat saya).”

        Demikian juga Imam Syafi’i rahimahullah berkata dengan kerendahan hati : “Jika hadits-hadits yang menjadi peganganku dalam berijtihad shahih maka inilah pendapat mazhabku”. Dalam kesempatan lain beliau pun tidak mau mengklaim bahwa pendapatnyalah yang paling benar dan tidak pernah salah seraya berkata: “Pendapatku adalah benar tapi masih ada kemungkinan salah, sementara pendapat orang lain adalah salah tapi masih ada kemungkinan benar”.

        Artinya dalam masalah furu’iyyah atau cabang dalam agama, kita harus selalu berendah hati untuk menerima kemungkinan adanya kebenaran dipihak lain diluar dari kita dan tidak tergesa-gesa untuk menyalahkan bahkan mengkafirkan. Apa yang kita yakini dan amalkan adalah benar, namun apa yang dilakukan orang lain juga belum tentu salah. Dan semoga kita semua sama-sama dalam kebenaran.

Ketiga, Sadari kapasitas diri

        Seringkali konflik perbedaan yang terjadi dimasyarakat adalah perdebatan kusir antara orang yang tidak terlalu mendalami agama dengan baik dan benar. Namun semangatnya dalam berbicara tentang agama melebihi kapasitas keilmuan agamanya. Oleh karenanya, kita harus menyadari kapasitas diri dimana letak keilmuan kita.

        Tidak pantas rasanya apabila hanya dengan asumsi atau opini kita saja, tiba-tiba dengan percaya diri menyalahkan bahkan ada yang berani menghina ulama yang telah mendalami agama sekian lama. Dan kasus seperti ini bisa kita lihat di sekitar kita  hari ini.

        Kalaupun ada pendapat ulama yang perlu dikritisi, biarlah menjadi kajian ilmiah dan diskusi ilmiah para cendekiawan dan ulama agar lebih sehat dan terarah. Bukan untuk konsumsi orang awam yang seringkali berakhir pada perdebatan kusir dan konflik ketegangan.

        Demikianlah seklumit perbedaan dalam Islam ada dan akan terus selalu ada. Maka upaya kesiapan kita adalah menata akal pikiran dan hati untuk menyikapi dan menghikmahinya. Islam adalah agama mulia lagi luas. Mari jadikan Islam Rahmatalil’alamin bukan sekedar slogan, namun laku nyata kita pada lingkungan kita dan masyarakat kita dengan penuh kerahmatan dan kedamaian.  Jangan sampai kita membonsai Islam dengan kedangkalan dan kesempitan akal  kita. Begitupula Islam adalah cara dan tujuan kita hidup dalam keridaan Allah. Bukan sekedar alat legalitas menghakimi dan menyalahkan orang lain. Kita berislam adalah agar menjadi baik bukan untuk merasa lebih baik daripada orang lain.[ Ali makhsum ]

 

Share and Enjoy

Komentar

comments