Catatan Pinggir Dari Pulau Cendrawasih (2)

Oleh: Heri Gunawan

Dari pesantren lahirlah pejuang pejuang bangsa dan para pendekar pendekar yang tangguh. Demikianlah sedikit cuplikan tulisan kata pengantar Said Agil Siraj (SAS) dalam buku Atlas Walisongo yang ditulis oleh Agus Sunyoto.

Pesantren adalah salah satu lembaga yang sangat sakral keberadaannya di Indonesia. Dari pesantaren-pesantren inilah tempat lahir dan tumbuh suburnya pejuang-pejuang bangsa pada waktu itu dalam tanda kutip penulis tidak menapikan para pejuang pejuang lainnya. Bahkan bisa dikatakan pesantren adalah bagian yang tidak bisa bisa dipisahkan dalam perjuangan bangsa ini. Kerena sesungguhnya berdirinya dan merdekanya Indonesia tidak lepas dari campur tangan para ulama dan para santri yang terus ikut berjuang menumpaskan para penjajah pada waktu itu. Baik itu perjuangan lahiriah maupun batiniah Sehingga sangat cocok apa yang dikatakan KH. Said Aqil Siraj pada pembuakaan tulisan di atas.

Untuk melacak perjalanan pesantren secara lebih jauh, menarik penjelasan Herry Nurdi (Herry Nurdi Konspirasi Intelektual Yahudi, Cakra Lintas Media: 2010). Beliau mengatakan dengan adanya para ulama dan pesantrennya yang cukup berpengaruh pada waktu itu sehingga mengancam dan membuat para penjajah merasa cemas dan khawatir. Akhirnya demi mempertahankan kekuasaannya salah seorang orientalis (Orang barat yang mendalami ilmu-ilmu ketimuran yakni Islam) berkebangsaan Belanda Snouck Hurgronje (Salah satu dedengkot orientalis yang pernah tinggal di Indoensia) memberi nasihat kepada Belanda untuk memperketat dan mengawasi lembaga-lembaga yang bernuansa Islam dengan menerapkan berbagai peraturan yang ketat. Akhirnya pada tahun 1882 belanda mendirikan lembaga khusus yang bernama Priesterreden atau pengadilan agama. Salah satu tugas lembaga ini adalah mengawasi kehidupan beragama umat Islam sekaligus mengontrol peranan pesantern dan mengawasi materi yang ada diajarkan.

Bahkan pada tahun 1905 mereka menerapkan peraturan yang lebih lebih ketat lagi, dengan mengluarkan keputusan yakni semua pengajar para guru dan ustadz harus memiliki surat izin dari Belanda apabila ingin mengajar di pesantren. Lebih parah dan kejamnya lagi Snouck menyarankan agar kolonial Belanda melakukan beragai kekerasan dan teror terhadap para ulama’. Jika di Aceh Snouck menyarankan untuk membunuh para ulama maka di Jawa rekomendasinya lebih halus dan memanjakan para ulama dengan harapan para ulama akan melupakan tugasnya. Salah satu cara Belanda pada waktu itu adalah dengan memudahkan para ulama berangkat ke tanah suci untuk berhaji atau belajar dan sebagainya.

 

Akan tetapi yang perlu kita ingat dan menurut penulis, Belanda mungkin mereka telah lalai dan terbuai entah itu apa namanya dengan kesenangan dan kakayaan yang mereka dapatkan dari hasil Jajahannya. Mereka akhirnya lupa bahwa semakin mereka menyiksa dan men zalimi_orang lain semakin besar juga pertolongan dan kasih sayang Tuhan kepada orang yang tertindas. Mereka _(orang-orang terjajah)_tidak akan pernah diam, walaupun mungkin tidak mampu melawan dengan menggunakan fisik akan tetapi mereka masih punya Tuhan tempat mengadu dan minta pertolongan. Doa-doa yang mereka panjatkan sejatinya lebih canggih dan berbahaya dari senjata yang mereka miliki. Bahkan sekalipun mereka tidak berdoa pun Allah akan membantu hamba hamba-hamba-Nya yang ter _zalimi dan tertindas ini. Sekarang terbukti, apa yang kita lihat dan rasakan saat ini. Siapakah yang masih bertahan di bumi Nusantara yang maha kaya-raya dan berlimpah ruah buminya ini. Mereka yang menindas atau yang tertindas..?? Para ulama’ dengan pesantren yang dibangunnya berjuangan dengan para santrinya hingga mampu membasmi dan memberangus mohon maaf para bandit-bandit brengsek penjajah dan kawan-kawannya sekalipun mereka menggunakan barang-barang canggih ini. Pesanteren walaupun ditekan dan memiliki sejarah panjang bahkan hingga pengalaman pahit sekalipun, hingga saat ini masih terus eksis bahkan semakin menunjukkan taringnya dalam mengawal bangsa ini. Kita semua entah itu santri atau tidak, hingga saat ini bisa merasakan berbagai kontribusi maupun dampak positif yang diberikan oleh pesantren.

Melanjutkan penjelasan Hary Nurdi (Harry Nurdi Konspirasi Intelektual Yahudi, Cakra Lintas Media: 2010) sebagaimana penulis sebutkan di atas dari pesantern-pesanternlah tempat tumbuh suburnya para pejuang negeri ini bagai jamur yang tumbuh di musim hujan. Lihat saja, di Jawa timur KH Hasyim Asy’ari, muassis (pendiri) NU yang sudah tidak diragukan lagi pengaruhnya, KH Yusuf Hasyim, di Jawa Tengah Kasman Singodimedjo. Di Jawa Barat seorang Ulama berjuluk Singa Bekasi, KH Noor Ali. Menteri agama pertama Republik Indeosia pada waktu itu, Moh. Rasyidi, alumni pondok pesantren Jamsaren, Muhammad Natsir alumni Pesantren PERSIS, sebagai perdana menteri, KH, Wahid Hasyim, Alumni Pesantren Tebu Ireng, KH, Kahar Muzakkir dkk menjadi panitia persiapan kemerdekaan, KH, Muslih Purwokerto dan KH Imam Zarkasyi alumni Persantren Jamsaren sebagai sebagai wakil perdana Menteri dan ketu MPRS, KH Idham Khalid, dan masih banyak ulama-ulama berpengaruh lainnya di luar Jawa yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu. Dan yang perlu dicatat Memang awal-awal kemerdekaan Indoensia para ulama dan santri-santrinya menempati semua lini dan memainkan perannya masing-masing. Mereka sama sekali tidak bernafsu untuk mengusai dan duduk di bangku politik, tetapi sesungguhnya karena merasa peduli dan benar-benar ingin mengabdikan diri untuk bangsa ini.

Kita juga tidak bisa menutup mata juga, dalam perjalanan perjuangannya Bung Karno pun seringkali silaturrahim dan berkunjung (sowan), hingga surat menyurat dengan para kiai dan ulama untuk bermusyawarah memohon saran dan nasihat-nasihat dari mereka demi memperjuangakan kemerdekaan. Selanjutnya dari pesantren juga tempat tumbuh subur para pujangga-pujangga seperti Raden Ngabehi Ronggowarsito seorang santri Kiai Hasan Besari yang berhasil menjadi pujangga terkenal. Lebih jelas lihat (Harry Nurdi Konspirasi Intelektual Yahudi, Cakra Lintas Media: 2010). Memang dari buku ini penulis mendapat banyak ilmu tentang dunia pesantren sekaligus menemukan wajah pemikiran orintalis dan kebusukannya yang terus berusaha merongrong umat Islam bahkan mereka bagai Iblis berjubah Wali. Sebagai tamhaban untuk mengetahui sejarah perjalanan dan perjuangan para ulama dan santri ini, Silahkan baca juga buku (Milal Bizhawi Resolusi Jihad-Laskar Santri) se-ingat saya buku ini secara apik menggambarkan perjuangan para kiai dan santrinya melawan penjajajah.

 

Dengan flashback atau mundur ke belakang melihat sedikit cuplikan sejarah berdirinya negeri ini, penulis berkesimpulan bahwa negeri ini sejatinya berhutang besar besar kepada umat Islam. Wabil Khusus_kepada para pesantren yakni para kiai dan santri-santrinya. Sehingga di zaman sekarang, apabila pemerintah dan para pejabat-pejabat negara melakukan berbagai kriminalisasi atau penindasan terhadap para ulama maupun pesantren dengan bentuk apapun itu, maka sesungguhnya hal ini merupakan bentuk kekeliruan besar atau dengan kata lain _mohon maaf mereka telah menghianati _Founding Father_yakni para pejuang-pejuang bangsa. Bahkan Lebih jauh lagi, hingga saat ini dua organsasi besar masih terus eksis menopang dan menjaga keutuhan negeri ini, lahir dari rahim pesantren yakni Nahdlatul Ulama dan Muhammadiah. Dua organisasi paling besar di negeri ini yang saling bersinergi dan kerjasama satu dengan lainnya dalam rangka mengawal Indoseia dari berbagai serangan-serangan baik dari dalam maupun luar.

Selanjutnya untuk sedikit menyempurnakan ulasan tentang dunia pesantren ini, penulis ingin bercerita sedikit tentang perjalanan Kiai Muhammad Yasin (untuk selajutnya saya sebut Abah) dalam mendirikan pesantren yang penuh dengan getar-gatir dan lika-liku. Penulis berharap dengan cuplikan kisah beliau nantinya sebagai pelajaran dan motivasi bagi kita dalam berjuang melakukan segala hal. Tentunya melakukan hal-hal yang menyangkut kebaikan-kebaikan. Kenapa penulis bercerita tentang Abah Yasin, karena disinilah saya tinggal selama melaksanakan tugas pengabdian di Papua ini. Di Pesantren beliaulah tempat saya tinggal sambil belajar mengajar dan Abah menerima saya apa adanya yang masih sangat awam ini. Karena tinggal di pesantren ini, penulis sedikit banyak mengetahui tentang perjalanan dan perjuangan beliau. Dari cerita beliau dan cerita orang-orang disekitar akhirnya penulis berkesimpulan, apabila seseorang kurang bersabar dalam perjuangan maka ia akan kalah dan tumbang serta sangat sulit untuk bangkit kembali. Dan penulis yakin dengan (haqqul yakin) perjuangan dan pengorbanan semacam ini pasti pernah dirasakan dan dilaluai oleh semau kiai dan ulama, lebih-lebih mereka yang memiliki pesantren sudah pasti memiliki rekaman dan sejarah perjuangan yang cukup panjang. Bahkan kisah perjuangan para kiai-kiai ini apabila ditulis berjilid-jilid tidak akan pernah ada habis-habisnya.

 

Abah, demikianlah panggilan para santriwan santriwati kepada beliau. Beliau asli Banyuwangi Jawa Timur yang datang ke Papua, pada waktu itu untuk merantau. Sebelumnya pada tahun 1986 beliau tinggal di Pesantren Pesantren Salafiyah Miftahul Ulum Tolabudin di Kabupaten Bondowoso Jawa Timur dibawah asuhan KH. Hafid Syam dan KH. Munawwir Syam, beliau menjadi abdi dalem di pesantren tersebut untuk mengantarkan, bersih-bersih rumah kiai (gurunya), sekaligus bersih-bersih halaman Pesantren. Saat mengabdi beliau sangat sabar menghadapi hinaan dan cacian dari santri-santri yang lain. Di pesantren itulah Abah diberi pesan oleh gurunya dengan ungkapan Jangan pernah sekali-kali mempunyai keinginan untuk kepingin jadi orang yang di depan dan tersohor.

 

Pada Tahun 1992 beliau pulang dari pesantren dan kembali ke pangkuan sang Ibunda tercinta. Karena beliau ingin memperdalam ilmu Bahasa Arab, maka beliau mempunyai keinginan untuk memasuki Pondok Pesantren Modern Walisongo Ngabar Ponorogo-Jawa Timur yang di bawah pimpinan KH. Ibrahim Toyyib dan KH. Ishaq Thoyyib dan di sana beliau menjadi abdi dalem lagi. Abah yang sekarang menetap di Distrik Aimas Kabupaten Sorong ini diberi pesan oleh kiainya pada waktu itu Galilah potensi yang ada pada bidang agama dan berdirilah pada kakimu sendiri. pesan inilah yang menjadikan beliau sosok yang hidup mandiri dan inilah prinsip yang selalu Abah pegang.

 

Sepulang dari Pessantren, Abah membuka pesantren bersama kiai Marzuki yang diberi nama Pondok Pesantren Darussholihin Desa Sumbersewu, Kecamatan Moncer, Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur selama setahun. Di pondok ini bersama kiai Marzuki, Abah memadukan antara pondok pesantren moderen dan salafiyah. Perkembangan di pondok pesantren Darussholihin sangat bagus sekali. Seiring berjalannya waktu tidak terasa sudah satu bulan satu tahun di pesantren, Abah merasa kehausaan ilmu dalam bidang kitab kuning. Oleh sebab itu, muncullah dibenak Abah untuk memassuki Pesantren lagi. Akhirnya Abah memilih Pesantren Al-Hikam di daerah Desa Jalen Kecamatan Genteng Kabupaten Banyuwangi pada tahun 1994 yang diasuh oleh Kiai Imam Bayhaki. Pada Tahun 1995 Abah kembali ke Pesantren Darussholin yakni KH. Marzuki dan KH. Muhidil Ali menasehati Agar beliau untuk segera berkeluaga. Dari situlah KH. Marzuki dan KH. Muhiddin Ali memilihkan pasangan untuknya yaitu salah seorang seorang santriwati Gus Munif seorang Hafizah bernama Uswatun Hasanah.

Demikianlah sedikit perjalanan Abah menuntut ilmu. ketika masih tinggal di Jawa yang mana beliau berpindah dari satu tempat ketempat yang lain. Di samping itu, ketika Abah masih tinggal di Pesantern, ia lebih banyak dan mengutamakan mengabdi dari pada belajar. Sehingga dengan keberkahan para kiainya dulu, sekarang Abah merasakan dan berhasil membangun pondok pesantren Roudlatul Huffaz, salah satu pondok pesantern dan kiblat anak-anak belajar di Papua Barat.

 

Selanjutnya penulis akan meceritakan sedikit apa yang penulis tangkap dari salah satu pengobrolan bersama beliau. Kebetulan pada bulan Ramadhan kemarin pernah suatu malam saya ngobrol dengan beliau hingga sahur ditemani secangkir kopi dan makanan ringan serta kue sisa-sisa berbuka puasa. Di sanalah saya sangat tertegun dan terharu hampir mengeluarkan air mata mendengarkan kisah dan perjuangan Abah, hingga berhasil mendirikan Pesantern Raudlatul Huffaz yang berdiri megah saat ini.

 

Kedatangan beliau ke pulau Cendrawasih pada waktu itu karena alasan ekonomi yang sangat mendesak. Keterpurukan dalam hal ekonomi ini, beliau merasakan empat bulan setelah pernikahannnya. Sehingga pada tahun 1996 beserta istrinya, Abah memutuskan untuk hijrah dan merantau ke pulau Nusantara yang paling timur. Selama enam bulan Abah tinggal di rumah kakak iparnya yang benama H. Syaful Anam yang pada waktu itu lebih awal datang ke Papua dan saat itu masih menjabat sebagai ketua KUA di Teminabuhan. Setelah itu Abah bersama sang istri pindah ke Aimas Ladang sekaligus mendirikan pendidikan agama dimulai dari TPA dan sambil bekerja memproduksi kerupuk yang dijualnya dengan berkeliling.

 

Beberapa bulan kemudian bersama sang istri dipindahkan ke SP 3 Jalur 2 (nama tempat di sini, kalau di tempat lain kira kira tingkat desa). Di sana beliau menempati mushola sambil mengajar anak ngaji dan bekerja sebagai kuli bangunan di pondok pesantren Nurul Yaqin dengan penghasilan perbulan Rp 3.000 saat itu, di samping itu di sela-sela waktu, beliau menjual bawang keliling. Di situlah beliau mendirikan organisasi semaan Al-Qur’an pertama kalinya di Papua Barat karena memang sang istri, sebagaimana penjelasan di atas adalah seorang Hafizah. Beliaupun menawarkan ide tersebut di setiap mushola dan masyarakat pun menyetujuinya. Ide Abah muncul untuk mendirikan semaan al-Quran ini karena melihat minimnya pendidikan agama di masyarakat dan anak-anak di Papua yang muslim disekitar tidak terurus. Setelah idenya itu disetujui oleh warga, akhrinya setiap hari di samping banting tulang, Abah juga harus mengantar istrinya mengajarkan al-Quran menggunakan sepeda ke musholla-musholla.

 

Pada bulan Desember tahun 1997 Abah dipanggil MUI untuk dikirim ke Klamono Sp 5 (Sahabat-sahabat mungkin sudah mengetahui kondisi klamono SP 5 ini yang sudah saya ceritakan pada cacatan sebelumnya tapi dulu masih lumayan bagus “mohon maaf” tidak separah sekarang). Di sana Abah menjadi Dai lokal untuk para transmigrasi, pada waktu itu dipimpin oleh KH. Ibrahim Muthallib. Seiring berjalannya waktu beliau mulai membentuk pengajian ibu-ibu dan bapak-bapak di Klamono ini. Pada tahun 1998 Abah bersama temannya mendirikan Sekolah Menengah Pertama di Klamono. Akan tetapi sekolah ini tidak bertahan lama dan harus gulung tikar karena tidak adanya tenaga pengajar walaupun santrinya lumayan. Dan menurut penulis yang pernah kesana bahwa infrastruktur yang masih sangat minim adalah salah satu penghambat untuk membangun pendidikan semacam diniah, apalagi berbentuk formal seperti Sekolah Menengah Pertam (SMP) disamping sulit dijangkau oleh masyarakat luas, apalagi pemerintah. Dan memang salah satu perjuangan para kiai di sana adalah dalam beberapa minggu sekali harus pergi menjual hasil tanaman-tanama ke kota dengan menggunkan perahu yang jauhnya minta ampun berjam-jama di atas air. Hasil dari penjualan tamanan ini nantinya tidak lain adalah untuk pembanguan pondok dan makan santri santrinya.

 

Karena di klamono ini Abah merasa kurang maju dan harus hijrah, akhirnya pindah dan pada tahun 2001 beliau membuka pondok pesantren yang diberi nama Roudlotul Khuffadz di samping bekerja sebagai petani. Akan tetapi tidak bertahan lama, karena seiring berjalannya waktu Abah di perintahkan oleh Kepala NU kota untuk mendirikan Pondok Pesantren di Kampung Baru Kota Sorong sambil merintis Mts An-Nur. Lagi-lagi di sini Abah tidak bertahan lama dan hanya berjalan selama 2 tahun karena melihat situasi dan kondisi tanahnya kurang cocok untuk dijadikan sebagai pengembangan pendidikan formal maupun non formal, akhirnya beliau pindah ke Distrik Aimas dan numpang di rumah salah seorang warga selama beberapa bulan ke depan.

 

Pada tahun 2003 Abah diminta oleh KH. Sutejo dan teman-teman untuk mengikuti organisasi NU dan melanjutkan pondok pesantren Minhajut Tholibin yang dulunya bernama Roudlotul Tholibin. Akan tetapi, lagi-lagi di sini Abah tidak bertahan lama, mungkin dengan berbagai alasan dan pertimbangan akhirnya beliau memutuskan untuk pindah. Dan sempat pada waktu itu ketika beliau keluar dari pondok ini banyak santri-santri yang mengikuti kemana pun beliau akan pindah.

Pada waktu itu Abah juga sempat mengeluh hingga sempat putus asa tidak mau membangun pesantren lagi karena selalu saja gagal dan tidak bertahan lama. Belum lagi tekanan demi tekanan dari orang-orang sekitar membuat beliau merasa terhina. Sehingga saat itulah Abah bahkan ingin fokus bertani untuk menghidupi keluarga saja dan tidak mau mengurusi anak-anak atau para santri lagi. Akan tetapi melihat santri yang terus mengikutinya kemanapun beliau pergi dan pindah, yang tidak memiliki tempat tinggal, akhirnya beliau berniat dan bangktit kembali membangun pesantren atau lembaga keagamaan yang kurang lebih ini yang ke tiga belas kalinya.

 

Akhirnya dalam kondisi seperti ini, Abah sempat pulang ke Jawa sebentar berusaha mencari dana dan modal untuk membangun Pesanteran lagi. Akhir pada tahun 2006 beliau dibantu oleh ibunda tercinta yang bermodalkan Rp. 20.000.000 hasil dari menjual tanah warisannya. Uang tersebut dipakai untuk membeli tanah seperempat hektar dengan harga 11.000.000. dan 9.000.000 lainnya Rp untuk membangun rumah. Dalam pembangunan ini, beliau terus diberi spirit oleh kakak iparnya yaitu H. Syaiful Anam, insyinyur Syamsul agribuddin, Pak suprianto, Pak Sohibul. Merekalah orang-orang yang sangat mendukung Abah untuk mendirikan pondok pesantren Roudlotul Khuffadz di samping dukungan dari sang mertua. Hingga sekarang santriwan dan santriwatinya sudah mencapai kurang lebih 200-an dengan dilengkapi berbagai fasilitas yang cukup memadai.

 

Sudah terbangun juga lembaga pendidikan formal meliputi Raudlatul Atfhal (RA), Madrasah Ibtidaiyah Roudlotul Huffadz, Madrasah Tsanawiyah Roudlotul Huffadz dan Madrasah Aliyah Roudlotul Huffadz di samping berbagai kegiatan non formal unggulan seperti program Tahfiz al-Quran dan kegiata- kegiatan lainnya. Perlu diketahui bahwa di Papua, apabila suatu pesantren dengan jumlah santri 200-an maka sudah dianggap besar serta di perhitungkan oleh Pemerintah walaupun mungkin ‘dibandingkan’ dengan didaerah daerah lain seperti Jawa masih dianggap sedikit. Ini karena di Papua dengan kondisi muslim yang masih minoritas Muslim. -_

Sumber cerita ini-: Kiai (Abah) Muhammad Yasin, Abdur Rohman dan Mas Fakruddin.

 

Dengan mengetahui berbagai perjuangan dan pengerobanan ini, akhirnya saya berfikir mungkin inilah salah satu tujuan dan hikmah Al-Magfur-lahu (Alm) Abah Hasyim Muzadi mengutus dan menyebarkan santrinya keseluruh pelosok Nusantara. Agar kita sebagai santri mengetahui bahkan merasan bagaimana pahit masinya sebuah perjuangan para kiai-kiai dalam membimbing ummat. Karena mungkin dikampus atau bangku kuliah pengalaman semacam ini, mungkin sulit untuk didapatkan karena hanya mengandalkan teori-teori dan belum sampai pada praktik. Sehingga pengabdian ini, menurut penulis adalah sebuah pengejewantahan dari salah satu triologi moto Sekolah Tinggi Kulliyatul Quran (STKQ) Al-Hikam yakni kesiapan hidup. Sehingga ketika kita kembali kepada masyarakat sudah terbiasa memecehkan masalah (Problem Solving) dan tentunya tidak kaget apalagi terkejut menghadapi berbagai persolahan-persoalan yang ada. Di samping itu salah satu nasihat atau doktrin yang selalu memantik semangat saya dalam pengabdian ini adalah apa yang pernah di saya dengar dari guru dan mursyid kami Ustazd Hilmi Al-Iraqi bahwa perjuangan adalah sesuatu yang sangat berat dan sulit. Akan tetapi sesulit dan seberat apapun perjuangan itu harus kita lakukan, karena perjuangan adalah perintah Allah dan Allah pasti membantu.[]. Wallahu a’lam

Share and Enjoy

    Komentar

    comments