Catatan Pinggir Dari Pulau Cendrawasih (5)

Oleh: Heri Gunawan

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (An-Nahl [16]: 125).

Islam datang ke tengah-tengah masyarakat pada waktu itu, sebagai sebuah solusi dan menawarkan serta mengajak menusia menuju jalan keselamatan. Mengajak menusia untuk bertauhid dan mengenal sang pencipta-Nya. Sesuai dengan nama agama itu sendiri yakni Islam (Agama Keselamatan).

Perlu diketahui, Islam tidak mungkin berkembang pesat bahkan eksis hingga sekarang dan ke Nusantara, tanpa adanya orang yang mengajak dan memperkenalkan Islam (Juru Dakwah) itu sendiri. Dengan demikian sejatinya Islam adalah agama dakwah. Dakwah yang menawarkan kepada manusia akan kebaikan dan keselamatan dunia hingga akhirat. Membebaskan manusia dari kegelapan dan belenggu menuju pancaran Ilahi, menyelamatan manusia dari “kebobrokan” dan kejahilan menuju umat yang maju dan berperadaban. Sebagai contoh, para penyebar agama Islam (Juru Dakwah) di Nusantara ini, salah satunya yang terkenal di Pulau Jawa yakni Wali Songo. Dengan menggunakan pendekatan budaya dan kultural, sehingga dakwah Wali Songo para wali ini, sangat diterima oleh masyarakat jawa pada waktu itu.

Di samping itu, dalam berdakwah para wali ini, tidak pernah sedikit pun menggunakan kekerasan melainkan dengan cara lemah-lembut. Bahkan ketika diserang, mereka tidak pernah membalas dan melawan. Para Wali tersebut hanya membalas dengan kebaikan dan berdoa agar mereka sadar dan kembali menuju jalan kebenaran. Karena kekerasan apabila dilawan dengan kekerasan tidak akan pernah ada akhirnya. Hal ini juga, serupa dengan falsafah agama Budha yakni “Di dunia ini, kebencian tidak pernah dapat dilenyapkan dengan kebencian, Kebencian hanya bisa dilenyapkan dengan cinta kasih (Kasih Sayang) dan saling memaafkan. Ini adalah kebeneran Abadi. Bahkan Nabi Musa ketika menghadapi Raja Firaun yang sangat kejam dan bengis, oleh Allah beliau diperintahkan agar melawan dengan cara yang lemah-lembut. “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”(Qs. Tâhâ [20]: 44).

Lebih jauh, para (Muballig) atau ulama-ulama terdahulu, tidak pernah memaksa seseorang harus mengikuti atau masuk Islam. Karena bagaimana mungkin seseorang akan beribadah, pasrah dan mendekatkan diri kepada Tuhan dengan hati ikhlas dan khusyuk apabila masuk Islam dengan cara pemaksaaan. Tentu akan sangat sulit sekali, untuk tunduk dan berserah diri secara totalitas kepada-Nya apabila
keimanan diawali dari sebuah pemaksaan. Sehingga rata-rata masyarakarat Nusantara pada waktu itu berbondong-bondong memeluk agama Islam dengan kesikhlasan dan kesadaran mereka sendiri.

Tidak ada paksaan dalam menganut (Agama) Islam (Qs. Al-Baqarah [2]: 256). Ayat ini merupakan dalil bahwa dalam berdakwah, seorang “muballig” tidak boleh memaksakan kehendaknya untuk diikuti. Tugas para pendakwah _(muballig)_adalah menyampaikan bukan memaksa, mengajak bukan menyuruh, ramah bukan marah-marah. Adapun masalah mengikuti, sadar atau tidaknya objek dakwah _(masyarakat)_adalah urusan dan hidayah Tuhan.

Satu hal yang tidak kalah penting bagi seorang pembawa dakwah adalah harus mampu memberikan contoh dan keteladanan (uswah) yang baik. Keteladanan (uswah) dalam hal dakwah ini, bisa kita lihat dalam panggung sejarah yang telah diperagakan oleh para pendakwah (Juru Dakwah) beratus-ratus abad silam. Nabi Musa tidak sekedar mempromosikan prinsip kebenaran dan keberanian, akan tetapi untuk mengukuhi prinsip sebuah kebenaran, sehingga dirinya memimpin langsung untuk merobohkan atau meruntuhkan penguasa yang zalim pada waktu itu yakni raja Fira’un. Begitu juga dengan Sidarta Gautama yang dengan kepasrahan dan ketulusannya melepas seluruh kekuasannya demi menyambut terang di bawah pohon podis dan setelah wahyu itu diturunkan dengan lantang ia menyerukan keniscayaan dan kekusaan dikelola lewat cara yang benar dan menjunjung tinggi akal sehat.

Sejatinya contoh-contoh para pembawa dakwah di atas merupakan representasi dari cara dakwah Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa wahyu Ilahi, yang mana semua gerak gerik dalam hayat beliau semuanya mengandung makna kebaikan dan keteladanan. Tidak ada satu pun baik perkataan maupun perbuatan beliau kecuali mengandung makna dakwah. Dengan gelar Al-Amin (terpercaya) yang beliau miliki, menggambarkan bahwa seorang pendakwah _(muballig)_harus memiliki sikap jujur dan berani dalam segala hal, baik itu perkataan maupu tindakan. Kebenaran harus ditampakkan dan kejahatan harus diberantas dan bumi hanguskan.

Penulis juga setuju dengan Prof Muhammad Ali Aziz dalam bukunya “Ilmu Dakwah” mengungkapkan bahwa sejatinya dakwah, bukan hanya wewenang atau hak paten para ulama atau tokoh agama semata, melainkan setiap muslim bisa melakukan dakwah, baik melalui tulisan, lisan dan perbuatan. Untuk memperkuat pendapatnya di atas, Muhammad Ali dalam bukunya tersebut menceritakan pengalaman pribadinya bahwa di kampungnya terdapat terdapat seorang laki-laki bernama Yudo, seorang laki-laki bertato dan berambut panjang. Yudo sangat fanatik dengan agama Islam yang dianutnya walau pun tidak pernah pergi ke Masjid. Setiap minggu Yudo berkumpul dengan pemuda dan orang dewasa yang seirama dengannya untuk nyanyi dangdut sekaligus bermain musik bersama. Di antara teman-teman Yudo ini ada juga yang non muslim. Inilah yang membuat Muhammad Ali tertegun yakni ketika beliau sedang berdakwah di Tokyo Jepang tepatnya bulan Ramadhan. Saat itu tiba-tiba beliau mendapat SMS singkat dari ketua RT kampungnya bahwa dua orang masuk Islam di depan Yudo.
Sehingga Muhammad Ali berfikir, bahwa beliau sudah berdakwah selama puluhan tahun di pelbagai tempat, akan tetapi tidak ada satu pun orang masuk Islam karena ceramah beliau. Sedangkan Yudo seorang pendakwah tanpa mimbar dan panggung bahkan hanya dengan berkumpul atau _“bakar Ikan dan main musik”_dan sebagainya mampu membuka hati orang lain yang tidak pernah tersentuh oleh dakwah dalam bentuk ceramah agama. Lebih lengkapnya lihat: (Ilmu Dakwah: Kencana 2009).

Untuk menutup pembahasan mengenai dakwah ini, saya akan menceritakan sedikit pengalaman pribadi ketika diminta untuk mengisi kajian bulan ramadhan kemarin. Tepatnya di Musholla markas besar polsek kabupaten Sorong Papua barat.
Waktu itu, saya diminta untuk memberikan ceramah “kultum” oleh seorang polisi yang kebetulan anaknya nyantri ditempat saya tinggal. Tanpa berfikir panjang saya pun menyanggupi permintaan tersebut, karena memang niat dan tugas saya datang ke Papua Barat adalah untuk melaksanakan pengabdian baik di Pesantren maupun ke tengah masyarakat. Singkat cerita, setelah sebelumnya menyampaikan sedikit kata pengantar dan perkenalan saya pun langung menyampaikan ceramah dengan segela keterbatasan pengetahuan yang saya miliki.

Sebuah Tausiah yang saya sampaikan pada waktu itu mengangkat tema tentang al-Quran dan mengajak masyarakat agar kembali dan berpegang erat kepada al-Quran. Terutama anak-anak dan keturunan mereka harus dibekali pemahaman al-Quran yang kuat. Jangan sampai mereka terseret dan terpengaruh oleh perkembangan zaman sehingga membuatnya semakin jauh dari al-Quran. Salah satu hadist yang saya sampaikan pada waktu itu adalah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Dawud. Bahkan hingga sekarang pun setiap kali mengisi kajian, hadist tersebut terus saya suarakan. Hadist tersebut tidak lain adalah yang dinukil oleh Abi Zakariya Yahya atau yang terkenal dengan Imam Nawawi dalam kitab at-Tibyannya yakni:
“Barang siapa yang membaca Al-Quran dan mengamalkan apa yang ada di dalamnya (Al-Quran), maka Allah akan memakaikan kedua orang tuanya suatu mahkota pada hari kiamat, mahkota tersebut lebih bagus dan terang dari cahaya matahari di Dunia. Maka bagaimana pendapat kalian terhadap orang yang mengamalkan hal ini” (HR. Abu Dawud). Lihat (Abi Zakaria Yahya bin Syarifuddin An-Nawawi As-Syafii _At-Tibyan Fi Adabi Halatil Quran._Hal: 16).
Lanjut cerita “Tahddus bi Nikamtillah walâ Fakra” beberapa minggu setelah menyampaikan ceramah atau kajian tersebut. Seorang polisi “mohon maaf” tidak saya kenal sama sekali datang ke pesantren tempat saya tinggal. Beliau datang untuk menyerahkan anaknya supaya tinggal atau nyantri di tempat saya. Bahkan beliau pun menghampiri dan memeluk saya dan berkata: Saya adalah salah satu jamaah waktu itu, ketika pak ustadz menyampaikan ceramah tentang al-Quran. sekarang saya menyerahkan anak saya agar mondok dan belajar al-Quran di pesantern ini. Setelah saya mendengar panjang lebar penjelasan pak ustadz mengenai Al-Quran kemarin, akhirnya saya sadar dan memantapkan niat agar anak saya belajar dan harus bisa membaca al-Quran.

Demikianlah kurang lebih, yang disampaikan oleh polisi tersebut pada waktu itu. Yang membuat saya terharu dan bersyukur. Syukur tiada terukur pada waktu, sungguh luar biasa, ternyata apa yang saya sampaikan tanpa saya sadari didengar dan diikuti oleh salah satu jamaah. Bahkan dengan pangalaman yang agak mirip, pernah suatu hari, saya mengantar atau mendampingi santriwan dan santriwati untuk pergi mengikuti sebuah perlombaan. Katika akan pulang, bersama para santri saya menunggu taksi di pinggir jalan. Beberapa saat hujan pun mulai turun deras. Dalam keadaan seperti terjepit dan kehujanan itu, tiba-tiba sebuah mobil mewah mendekat dan menawarkan diri untuk mengantar kami pulang ke Pesantern. Sejatiya saya sedikit ragu dengan tawaran tersebut karena belum kenal, setelah sedikit berbincang-bincang dalam mobil, saya baru tahu ternyata beliau adalah salah satu jamaah ketika saya mengisi ceramah bulan ramadhan.
Pengalaman yang sungguh luar biasa, sehingga saya teringat pesan yang pernah disampaikan oleh guru kami Al-Magfurlahu (Alm) Abah Hasyim Muzadi bahwa “Suatu amal kebaikan itu tidak akan pernah hilang. Untuk para santrinya beliau juga selalu mengutip salah satu ayat dalam surah al-Isra’: “Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri”(Qs. Al-Isrâ’ [17]: 7).

Untuk menutup uraian mengenai dakwah ini, marilah kita renungkan sebuah ungkapan dari Imam al-Ghazali: Hikmah atau kebaikan adalah sesuatu yang hilang bagi ummat Islam, maka ambilah sesuatu tersebut di mana pun anda menemukannya.
(Wallahu A’lam).

Sorong, Papua Barat, Sabtu 26 Agustus 2017

Silahkan diShare

Komentar

comments