Catatan Pinggir Dari Pulau Cendrawasih (6)


Oleh: Heri Gunawan

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (Qs. Al-Asr [103]: 1-3).

Setiap manusia oleh Allah diberikan waktu yang sama yakni dua puluh empat jam siang dan malamnya. Dengan anugrah waktu yang sama ini, manusia diberi kesempatan seluas-luasnya agar mengisi dan beraktivitas dengan ragam kesibukan masing-masing untuk meraih apa yang diinginkannya. Namun demikian, walaupun dengan kalkulasi waktu yang sama yakni dua puluh empat jam ini, tetap saja ada orang yang terlambat, orang yang gagal, bahkan dari mereka ada yang menyesal karena tidak bisa dan gagal memaksimalkan waktunya dengan baik sehingga gagal meraih keinginan dan cita-citanya.

Sebenarnya mulai dari kegagalan, keterlambatan, hingga penyesalan di atas, salah satu faktornya adalah masalah waktu. Artinya kurang pandai “apabila tidak mau dikatakan tidak” dalam hal mengatur (manage), atau jangan-jangan waktunya disia-siakan atau digunakan untuk sesuatu yang kurang bermanfaat dan produktif. Hingga implikasi dari sebuah kegagalan atau kurang pandai menggunakan waktunya secara maksimal adalah penyesalan yang tidak tara. Sehingga untuk menghidari kegagalan maupun penyesalan yang datang di hari kemudian adalah seseorang dituntut untuk pintar dan lihai mengisi setiap waktu luang dengan pelbagai kesibukan dan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dan produktif.

Keberhasilan seseorang bisa dilihat, salah satunya dari bagaimana dia menghormati dan menghargai waktu yang ada, artinya mereka terus berusaha memanfaatkan dan menggunakan waktu yang ada semaksmial mungkin. Mereka sangat menyadari bahwa waktu apabila telah pergi tidak akan pernah kembali selama-lamanya, yang tinggal hanyalah bekas (atsar)_dan hasil dari penggunaan waktu tersebut. Kesuksesan dan kebahagiaan bagi mereka yang berusaha memaksimalkan waktunya, pun sebaliknya penyesalan yanga tiada tara bagi mereka yang menyia-nyiakannya. Dalam hal ini, sekelas sahabat Umar bin Khattab pun pernah berkata: _“Seandainya saja masa muda itu bisa dibeli, maka saya akan membelinya walaupun dengan emas sekalipun”.

Lebih jauh, Quraish-Shihab “Secercah Cahaya Ilahi” setelah menjelaskan panjang lebar mengenai waktu ini, selanjutnya beliau mengetengahkan perkataan sahabat juga yakni Ali KW ” Rezeki yang luput pada hari ini masih bisa dicari dan diharapkan perolehannya besok, tetapi waktu yang berlalu saat ini, jangan harap ia kembali lagi”.

Ungkapan dua sahabat di atas menunujukkan betapa berharganya waktu maupun kesempatan yang dianugrahkan Tuhan kepada kita saat ini, sehingga jangan sampai disia-siakan. Bahkan sebuah ungkapan yang sudah tidak asing lagi di telinga kita “Waktu bagaikan pedang”. Pepatah ini memberi kesan bahwa seseorang yang tidak memanfaatkan (menyia-nyiakan) waktunya dengan baik, maka sesungguhnya penyesalan di belakang hari sudah menunggu, bahkan penyesalan itu lebih sakit dari tusukan pisau dan benda tajam sekalipun. Apabila anda terkena atau tertusuk benda tajam, mungkin anda akan segera mencari dan akan menemukan obatnya langsung untuk menyembuhkan bekas tusukan tersebut, akan tetapi bagaimana seandainya penyesalan yang menimpa anda, yang akan dibawa-bawa sepanjang hayat anda.

Lebih-lebih di zaman modern saat sekarang ini, yang terus diwarnai dengan penemuan dan terobosan-terobosan baru, mulai dari teknologi yang semakin canggih dan menawarkan segala sesuatu dengan cara yang sangat mudah dan gampang lagi instan. Pada akhrinya akibat dari kemajuan ini, tantangan untuk bisa memanfaatkan dan menggunakan waktu secara maksimal menjadi sangat sulit. Sehingga kemajuan zaman dan kemoderenan teknologi ini bagai dua mata pisau, dalam arti tidak hanya menawarkan sebuah kemudahan dan kesenangan semata, akan tetapi sekaligus sebagai sebuah ancaman yang bisa saja membuat manusia lalai dari tugas dan kewajibannya, bahkan hingga teknologi ini sekaligus mempermudah seseorang untuk melakukan berbagai kejahatan (diskriminasi) dan kemaksiatan-kemaksiatan lainya.
Dalam hal ini, saya menjadi teringat apa yang telah diungkapkan Rifai Rifan dalam salah satu bukunya ”Man Sabara Zafara” bahwasanya berapa banyak orang yang ludes masa mudanya atau waktu luangnya di depan You Tube, Faceebook dan medsos lainya. Mereka menghabiskan waktunya dengan sesuatu yang kurang bermanfaat atau produktif. Menurut penulis, dari sini kita bisa melihat bahwasanya disadari atau tidak, apa yang diungkapkan oleh penulis produktif kelahiran Lamongan di atas ada benarnya dan sekaligus menjadi semacam pukulan dan “semburan” bagi kita yang terkadang acap kali lupa dan terbuai oleh alat-alat yang memanjakan seperti sekarang ini. Apa yang diungkapkan oleh Rifan di atas sejatinya mirip dengan ungkapan Charles Percy Snow; “Teknologi adalah sebuah keanehan; dengan satu-tangan ia memberimu hadiah besar dan dengan tangan lainnya ia menusukmu dari belakang”. Sehingga di sinilah seseorang dituntut untuk mampu dan cerdas mengatur waktunya dengan baik. Kapan waktu bekerja, waktu belajar, waktu istirahat, dan waktu bermain (refreshing) dan sebagainya. Yang kesemuanya tersebut harus imbang (balance) dalam pengguananya secara disiplin. Tentunya yang tidak kalah penting adalah penggunaan atau berusaha memaksimalkan waktu dengan baik ini, harus terbangun juga dari kesadaran setiap pribadi setiap orang.

Sehingga menjadi miris dan menyedihkan sekali apabila seseorang tidak bisa mengatur dan menggunakan waktunya secara maksiamal hanya dengan dalih dan alasan zaman sudah berubah dan teknologi semakin canggih. Sebagai misal, android (gadget) yang sudah mewarnai kehidupan kita sehari-hari, bahkan anak yang masih sangat kecil pun sudah mahir menggunakan dan memainkannya.

Jelas dalih atau alasan di atas sangat sulit bahkan tidak masuk akal dan tidak bisa diterima, sungguh menurut penulis sebuah alasan yang tidak masuk akal. Karena apabila hanya dengan alasan demikian sehingga tidak bisa memanfaatkan waktu dengan baik dan maksimal, lalu bagaimana dengan orang-orang di luar negeri (Eropa) sana. Alat alat dan teknologi mereka lebih canggih dari kita, bahkan dalam hal teknologi ini, mulai dari internet dan sebagainya kita sudah sangat ketinggalan jauh. Dengan demikian, sekali lagi menurut penulis yang membedakan adalah mereka sangat menghargai waktu dan kesempatan yang ada. Sehingga mereka terus berusaha mengatur (manage) setiap waktu dan peluang yang ada. Tentunya mereka juga sangat serius dan bersungguh-sungguh dalam mengejar cita-cita dan keinginannnya.

Dengan budaya menghargai waktu (kesempatan) yang begitu tinggi ini, sehingga mereka sedikit pun tidak kalah atau terpengaruh oleh teknologi-teknologi yang memanjakan seperti saat ini. Keseriusan mereka dalam menggunakan waktu yang mereka miliki sangat tampak sekali, seperti pengalaman yang pernah diungkapkan oleh HM. Amin Rais ketika beliau masih kuliah di luar negeri (Eropa) yakni “Dalam satu harinya orang-orang di sana (Eropa) biasa membaca buku beratus-ratus halaman, bahkan tidak kurang dari tiga ratus halaman buku yang mereka lahap (baca) setiap hari. Pengalaman Amin Rais di atas salah satu contoh kecil yang ada di Barat, bahwasanya walaupun zaman atau teknologi semakin canggih dan menajakan, akan tetapi mereka juga tidak kalah pintar dan cerdas dalam memanfaatkan segala kesempatan atau waktu yang ada. Bahkan mereka mampu menggunakan alat-alat canggih ini sebagai sarana dan penopang untuk meraih apa yang mereka rencanakan _(pleaning)_dan cita-citakannya ke depannya.[]

Sorong, Papua Barat 02 September 2017.

Silahkan diShare

Komentar

comments