Catatan Pinggir Dari Pulau Cendrawasih (9)

Oleh: Heri Gunawan

“Doa adalah ikhtiar batiniah sedangkah ikhtiar adaLah doa lahiriah” KH. Hasyim Muzadi.

Sorong, WALISONGOONLINE – Apabila hari minggu kemarin saya menghadiri acara khatmul Quran maka pada hari minggu ini, di Pesantren bersama masyarakat mangadakan pembacaan shalawat Al-Fatih. Acara tawassulan atau pembacaan shalawat ini dilakukan setiap minggu keliwon, yang mana minggu keliwon ini sebagaimana informasi yang saya dapatkan biasanya jatuh pada minggu kelima (minggu pertama setiap bulan). Minggu keliwon ini sejatinya merupakan tradisi Jawa yang dibawa oleh kyai Jawa yang datang dan berdakwah Papua, lalu kemudian dimantapkan dan diamalkan di Pesantren-pesantren dan masyarakat.

Selain masyarakat, banyak juga wali santri yang menghadiri acara bulanan ini. Bahkan diantara mereka datang dari jauh dan menempuh waktu berjam-jam serta harus bertarung melawan jalan lumpur dan becek. Sehingga terkadang diantara mereka ada yang datang ketika acara sudah selesai. Di samping itu ada juga jamaah yang sulit hadir karena jarak yang sangat jauh atau tinggal di pulau seberang seperti Manokwari, Klamono SP 5, Fakfak, Kaimana, Raja Ampat, Misol, dan sebagainya. Mereka kesulitan untuk hadir karenakan perjalanan yang harus ditempuh sangat jauh dan berat yakni harus menyebrangi laut atau mengarungi jalur sungai berjam-jam lamanya disamping kendala-kendala lainnya.

Adapun tujuan utama dari minggu keliwonan ini merupakan bentuk usaha batiniah kepada-Nya sekaligus mendoakan pondok dan santri-santri yang ada. Pesangsuh pesantern Roudlatul Khuffadz Kyai Muhammad Yasin biasanya mengibaratkan para santri layaknya kendaraan yang sudah rusak. Kendaraan yang sudah rusak tersebut akan terasa berat untuk diperbaiki atau diangkat apabila sendirian, sebalikanya apabila dilakukan dengan cara kerjasama dan saling bahu membahu maka kendaraan tersebut akan sangat mudah untuk diperbaiki. Bahkan kendaraan yang sudah sangat rusak parah sekali akan menjadi mengkilat dan kembali berharga lagi seperti baru apabila diperbaiki bersama.

Sehingga dengan adanya acara keliwon seperti ini, beliau ingin mengajak dan mengatakan kepada para jamaah bahwa tawassul dan doa bersama ini merupakan usaha batiniah bersama disamping usaha lahiriah seperti belajar, sekolah, diniah dan sebagainya. Acara bulanan ini juga sebagai ajang temu musyawarah antara pihak pondok dan walisantri. Setiap problem atau masalah yang ada akan dipecahkan dan selesaikan dalan acara ini. Begitu juga setiap usulan akan ditampung dan dipertimbangkan kemudian diterapkan atau sebaliknya dimentahkan apabila kondisi tidak mendukung. Acara diskusi atau musyawarah antara pihak pondok dengan jamaah ini biasanya dilakukan setelah tawassulan selesai yang kemudian ditutup dengan acara ramah tamah.

Memang acara seperti ini sangat luar biasa dan harus dipertahankan dan dirutinkan secara kontinyu. Karena antara usaha lahiriyah dan batiniah harus berimbang antara keduanya. Karena apabila salah satunya tidak terisi maka akan pincang dan tidak berjalan secara normal. Sebagai contoh, kita bisa melihat di negara Eropa dan negara-negara barat lainnya, dalam hal ini sebut saja seperti di Amerika. Dalam novel “Bulan Terbelah di Langit Amerika” Hanum dan Rangga sangat apik dan lihai sekali ketika menceritakan pengalamannya saat bertemu dengan seorang milliarder kaya-raya bernama Phillipus Brown yang menyumbangkan harta bendanya terutama ke negara-negara timur tengah yang terus diwarnai konflik dan peperangan. Phillipus Brown mengatakan bahwa kekayaan yang dihasilkan berkat usahanya tersebut sesungguhnya tidak ada apa-apanya. Bahkan kekayaan tersebut bagai bumerang baginya sehinga membuat hidupnya hancur dan harus bercerai dengan istri tercinta. Pada akhirnya milliarder ini pun memutuskan untuk menyedekahkan harta benda dan kekayaannya, sehingga dengan jalan berbagi inilah dia menemukan kebahagiaan dan ketenangan hati, ia menemukan apa yang kita kenal dengan The Power_atau _The Miracle of Giving.

Begitu juga di Jepang tidak sedikit orang bunuh diri padahal Intelektualitas mereka terisi, dari segi kebutuhan dan materi mereka tidak kekurangan, penemuan atau ide-idenya juga bagus karena dalam malakukan dan mengerjakan sesuatu mereka sangat tekun dan seriuas. Akan tetapi dengan segala pencapaian mereka yang luar biasa ini, mengapa banyak yang bunuh diri dan cepat mengambil keputuasan fatal ketika sedikit terkena porblem atau masalah? Salah satu penyebabnya adalah spiritulitas yang tidak terisi dan terlupakana. Usaha zahiriah mereka terus dilakukan akan tetapi usaha batiniah kering kerontang.

Bahkan ironisnya lagi betapa banyak orang-orang Eropa yang bunuh diri bukan karena terkungkung berbagai permasalahan, dililit kemiskinan dan sebegainya akan tetapi mereka bunuh diri justru karena kakayaan yang melimpah ruah tidak tahu harus dibawa kemana kekayaan yang dimiliknya. Mereka terkungkung dan bingung memikirkan harta benda yang mereka miliki sehingga bunuh diri dan melakukan hal-hal yang konyol menjadi jalan terakhir. Dari dua contoh di atas saja kita bisa melihat bahwa usaha lahiriah walaupun dengan hasil melimpah luar biasa tidak akan memberikan kepuasan dan kebahaginaan dalam diri setipa manusia tanpa di barengi usaha batiniah.

Sehingga sungguh bijak dan luhur ungkapan Al-Magfurlahu (Alm)Abah Hasyim Muzadi sebagaimana pembukaan tulisan di atas yang mana usaha lahiriah saja tidak cukup tanpa dibarengi dengan usaha batiniah dan bertawakkal kepada-Nya. Karena apabila tidak dibarengi dengan usaha batiniah ini maka manusia akan cepat mengambil keputusan yang fatal dan berputus asa ketika menemukan halangan dan hambatan. Pun sebaliknya seseorang tidak cukup hanya mengandalkan usaha batiniah atau berdoa semata tanpa dibarangi usaha dan kerja keras. Karena tujuan dan cita-cita akan berjalan lancar dan mudah tercapai apabila kedua-duanya (usaha lahiriah dan batiniah) dilaksanakan dengan benar.

Sorong, Papua Barat 21 September 2017.

Share and Enjoy

Komentar

comments