KH.Hasyim Muzadi di Acara Maulid Nabi Muhammad SAW

KH Hasyim Muzadi-Maulid nabi Muhammad saw di UI

Depok(Universitas Indonesia) 17/02/2016 – Niat kita dalam mengadakan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah mencocokkan amal tindakan kita dengan ajaran Rasulullah SAW. Bagaimana caranya agar kita dapat sebanyak mungkin meneladani Rasulullah SAW. kalau ingin penuh meneladani Nabi Besar Muhammad SAW maka ada 3 hal yang harus kita lakukan. Pertama kondisi hati kita sendiri  bersih atau tidak. Semakin bersih akan semakin mudah meneladani Rasulillah SAW. dan semakin tidak bersih akan semakin  ada sekat antara diri kita dengan peneladanan kepada Rasulillah SAW.  Orang yang gampang meniru Rasulullah SAW adalah orang yang hidupnya hanya berharap kepada Allah SWT. Jangan merasa bisa hidup sendiri, dan merasa semua dapat diatasi sendiri tanpa Allah SWT. Hari ini memang kita hidup didunia tetapi tujuan akhirnya adalah akhirat. Maka ketika kita beranggapan hanya disini kita hidup maka akan terpotong hubungannya dengan Rasulillah SAW.

kemudian banyak berdzikir.  Dzikir bisa dengan lisan seperti lailahaillah, dzikir bisa dengan akal ketika kita merenungkan kebesaran Allah SWT, dzikir bisa dengan  kerja keras dalam rangka menjalankan ajaran Allah SWT. Jadi dzikir bisa dalam bentuk apa saja asalkan isinya dari Allah SWT dan menuju Allah SWT.

Yang kedua kita mempelajari ajarannya. Ada peristiwa-peristiwa besar yang perlu diteliti. Pertama adalah peristiwa turunnya wahyu. Rasulullah SAW diperintahkan untuk membaca iqra bismirabbika padahal Rasulullah SAW tidak bisa membaca. Mana mungkin orang yang tidak bisa membaca disuruh membaca. tetapi dengan Rasulullah SAW tidak bisa membaca maka ada hikmah besar  yaitu bahwa semua yang berasal dari Rasulullah SAW bukan dari pendapat orang lain, atau duplikasi dari orang lain.

Iqra adalah perintah membaca kepada Nabi Muhammad SAW  namun tidak disebutkan apa yang harus dibaca tetapi ada syarat membacanya yaitu harus dengan bismirabbika. Yang dibaca adalah ayat-ayat Allah SWT, bukti kebenaran adanya Allah SWT, meneliti alam, dan fenomena. Diperlukah hati yang bersih, mata yang jeli dan penelitian-penelitian. Penelitian termasuk perintah Allah SWT hanya salah kita adalah ketika ada penelitian tentang alam tidak memasukkannya kedalam deretan ajaran Nabi Muhammad SAW.

Dalam membaca fenomena diperlukan ulil albab yaitu ahli dzikir dan ahli fikir. Jika hanya ahli fikir saja maka ilmunya akan terbawa oleh nafsunya. Jika hanya ahli dzikir  tanpa berfikir maka akan tertinggal didalam masalah duniawi.  Orang yang ilmunya tinggi tapi tidak diiringi dengan taat kepada Allah SWT maka ilmunya akan  diambil oleh nafsunya dan menjadi ilmu yang jahat.

Orang yang sekolah hukum harusnya menegakkan hukum tetapi malah jual beli hukum, makelar hukum dan akhirnya banyak orang hukum yang dihukum. Itulah fenomena iqra yang tidak bismirabbika. Setelah itu semua harus segera ibadah seperti shalat. Shalat akan mengembangkan iman, menjaga iman, dan membuat iman yang ada didalam  pengertian kita tumbuh menjadi tawasut didalam hati kita. jadi tidak usah diskusi tentang tuhan atau tentang malaikat, langsung saja shalat  maka iman akan berkembang dengan sendirinya. Oleh karena itu amalan-amalan fadhilah bukan bid’ah, tapi pengembangan dari pokok ibadah.

Setelah Nabi Muhammad SAW hijar barulah berbicara tentang hablumminannas yaitu bagaimana islam mengatur kita. Jangan ada yang beranggapan hidup didunia itu tidak penting. Dunia ini kecil jika dibandingkan dengan akhirat. Namun hidup kita didunia ini yang menjadi penentu nasib kita diakhirat. Ketika Rasulullah SAW hijrah ke Madinan urusan sosisal mulai ditata, bagaimana berkeluarga, bagaimana akad nikah yang baik, bagaimana hak-hak azazi manusia dan kewajiban manusia.

hak dan kewajiban tidak dapat dipisah. Hak ada karena kewajiban dan kewajiban akan melahirkan hak. Oleh karena itu didalam islam, bahasa arab dari hak dan kewajiban adalah  haqun. Ketika hak dan kewajiban dipisah maka akan mengalami kerusakan dan akan berjalan karena nafsu.  Di Madinah diajarkan ekonomi keluarga, ekonomi negara, penegakkan hukum, dan penegakkan budaya.

Yang ketiga adalah meneladani perilaku Rasulullah SAW didalam kehidupan sehari-hari baik sebagai kepala keluarga atau sebagai yang lain. maka untuk mengerti secara lengkap diperlukan membaca dengan cermat sejarah perjalanan Rasulillah SAW. karena sejarah perjalanan Rasulillah SAW adalah wujud dari ajaran agama islam. Bagaimana Rasulullah SAW menjadi penggembala, bagaimana ketika berdagang, ketika susah, ketika gembira, ketika memimpin perang, ketika berdakwah dan lain-lain.

karena masyakrata pada jaman Rasulullah SAW masih sederhana maka pada zaman sekarang perlu dikembangkan yang disebut juga ijtihad. Namun dalam melakukan pengembangan tidak boleh lepas dari pokok ajaran Rasulullah SAW. Didalam perilaku Rasulillah SAW ada masalah substansi dan teknis. Substansi masuk pada ajaran agama dan teknis masuk kepada budaya. Budaya dapat dikembangkan asalkan tidak bertentangan dengan substansi. Pengembangan budaya Itu adalah wilayah dari para ulama atau para mujtahid yang dapat mengambil keputusan berdasarkan al-Quran dan hadist Rasulillah SAW.  Pada zama Rasulullah SAW, yang diatur di Madinah adalah ukhuwah baynal muslimin, ukhuwah baynal adyan, iqomatul haq(penegakan hukum), musawatul ihtisad(pemerataan ekonomi) dan budaya. Maka ketika itu bukan daulah islamiyah tetapi misakun madinah (sensus madinah).

Jika semua itu digabungkan maka akan menjadi amar makruf nahimunkar. Jika kita dapat melakukan amar makruf nahimunkar maka kita sekarang menjadi umat yang terbaik. Pertanyaanya adalah apakah umat sekarang sudah menjadi umat terbaik ?. mudah-mudahan di indonesia begitu. Tapi negara negara ditumur tengah seperti  syiria, irak, turki dan lain-lain bagaimana. Masalah disana pasti bukan karena islamnya tapi karena orang islamnya.  Islam akan tetap hebat tetapi kualitas umat islamnya tergantung orangnya masing-masing.

Akhirnya kita ini menjadi umat yang selalu diserang. Serangan yang sekarang lagi banyak dibicarakan adalah serangan LGBT. LGBT adalah kelainan seksual maka harus dicegah agar tidak berkembang dengan melakukan pencegahan sejak dini dan melakukan rehabilitasi. Jika anak-anak kita  ada kelainan maka segera di perbaiki agar menjadi normal lagi. Yang laki-laki di laki-lakikan yang perempuan diperempuankan. Tapi kalau sudah terlanjur seperti itu maka kita harus tetap bersikap baik dengan cara merehabilitasi mereka.  Yang harus kita tolak adalah kampanye-kampanye yang bertujuan untuk memperbanyak LGBT. Agar mereka tidak seperti umat Nabi lut yang diazab Allah SWT.

Kemarin Ada seorang ibu menemu saya di pondok.  Dia bilang kalau suaminya selingkung dengan orang lain. kalau selingkuh dengan perempuan lain saya masih bisa mengerti karena maklum dia laki-laki, tapi kalau selingkuhnya dengan sesama laki-laki saya tidak tahu bagaimana beratnya ibu itu menanggung deritanya. Jadi masalah LGBT itu bukan masalah HAM atau masalah demokrasi tetapi masalah kelainan yang harus dicegah dan dipersempit sehingga dengan begitu kita sudah melakukan nahimunkar terhadap masalah itu. Tetapi masalahnya sekarang yang berkuasa media. Media dapat mengubah hijau menjadi merah dan merah menjadi putih.

 

 

Share and Enjoy

Komentar

comments