Ceramah KH.Hasyim Muzadi: 3 Hal Dalam Puasa

KH.Hasyim Muzadi : 3 hal dalam puasa

Marilah kita berikhtiar dengan ikhlas untuk meningkatkan mutu dari puasa kita. Masing-masing ibadah itu baik, namun kualitas ibadah yang dilakukan seseorang dengan orang lain tidak sama, shalat pun demikian. Shalat yang standar adalah shalat yang bisa mencegah fahsya dan mungkar. Bisa mencegah perbuatan keji yang disebabkan oleh nafsu syahwat. Dan mungkar adalah semua perbuatan yang merusak. Sebenarnya shalat yang 5 waktu itu bisa mencegah meskipun tidak menghilangkan. Tetapi berapa banyak  orang yang shalat sekaligus melakukan fahsya dan mungkar.

Artinya daya tahan dari shalat itu tidak sama antar satu orang dengan orang lain. haji pun juga sama. Ada orang yang sebelum naik haji sudah rusak tetapi setelah naik haji dan pulang menjadi rajin shalat. Ada juga yang biasa saja. Ada pula yang pulang dan pergi tetap sama karena niatnya buat travel. Tapi ada yang malah tambah tidak karu-karuan karena merasa sudah berhaji merasa dosanya sudah diampuni dulu oleh Allah SWT.  Jadi seandainya orang indonesia yang berhaji mabrur semua berarti ada 240000 ribu yang berubah jadi baik.  Tapi itu teorinya namun nyatanya belum begitu.

Mari kita tingkatkan kualitas Ramadhan dan puasa  kita sehingga kita mencapai berkah-berkah yang diketengahkan oleh nabi besar Muhammad SAW  yaitu bahwa ramadhan itu mensucikan orang,  menghapuskan semua dosa-dosa yang lalu, dan pada akhir ramadhan kita kembali seperti bayi yang baru lahir sehingga kita menjadi fitrah kembali. Itu semua adalah standar tujuannya tapi kita bisa sampai dimana, apakah bisa sampai semua, atau separuh, atau seper empat, atau tidak dapat apa Cuma dapat lapar dan dahaga. Mari kita renungkan posisi kita berada dimana dalam berkah berpuasa ini.

Maka ada 3 hal yang perlu diperhatikan yang pertama adalah niat. Niat sangat menentukan. Niat yang dibarengi dengan keikhlasan hanya untuk Allah SWT bukan untuk lain-lain. Jangan untuk diet badan atau lainnya yang bersifat duniawi. Kalau menuju kepada Allah SWT yang lain-lain ikut, tapi kala menuju kepada yang lain-lain maka akan tidak sampai kepada Allah SWT. Misalnya kalau kita ke Surabaya insyaallah kalau ke Semarang sampai tapi kalau menuju ke Semarang maka belum tentu sampai ke Surabaya. Jadi orang yang niat akhirat itu dunianya akan ikut sehingga ahlakahnya menjadi baik dan orang lain akan berbuat  baik lagi. Itulah yang disebut orang yang menuju akhirat akan mendapatkan dunia, dan orang yang hanya menuju dunia dia hanya mendapatkan dunia tanpa akhirat.

Yang kedua tentang keihlasan. Didalam niat lillahita’ala yang menyangkut perintah Allah SWT tetapi juga ada keikhlasan untuk melakukannya. Inilah yang akan menentukan bobot puasa kita. disamping ikhlas harus juga mengikuti aturan-aturan puasa. Seperti syarat rukun, sunnah dan larangan dalam puasa. Jadi sekalipun niatnya sudah benar tapi bentuknya puasa salah maka tetap batal. Meskipun sudah niat  tapi minum pada jam 11 siang maka puasanya tetap batal. Larang-larangan puasa menyangkut nafsu, baik nafsu makan,seks atau serakah itulah larangannya.

Orang serakah itu adalah orang yang tidak pernah berterimakasih kepada Allah SWT seakan-akan Allah SWT tidak pernah memberinya sesuatu. Padalah semua yang kita terima harus kita syukuri baru kemudian meminta lagi kepada Allah SWT. Orang yang demikian akan hidup tenang dan menatap masa depan dengan gembira.

Yang menhancurkan kita adalah 3 nafsu tadi. Makan berlebihaan ahkirnya merusak badan. Nafsu seks tidak terkontrol akan rusak kemanusiaan. Keserakahan yang tidak ada habisnya membuat kita seperti orang yang minum air laut semakin minum semakin haus. Bapak ibu mendapatkan uang hanya 50 ribu tetapi kalau halal  dan dipakai untuk makan maka akan terasa nikmat. Tapi ketika sehari mendapat uang 1 juta lalu digunakan untuk yang tidak baik maka akan merasa kurang untuk kebutuhan yang lain.  jadi orang yang serakah akan selalu kekurangan.

Yang berikutnya memelihara perilaku. Puasa ada tingkatan pertama minimal Cuma tidak makan dan minum asalkan sah. Yang kedua selain sah dia mengendalikan panca indranya.  Yang ketiga adalah orang puasa yang mampu mempuasakan fikiran dan hatinyanya dari hal-hal yang jelek. Tapi dalam proses itu kita harus pelan-pelan. Jangan hari ini masih nakal terus besok pagi sudah bergaya sperti waliallah. Tidak usah meloncat diatas kemampuan maqom tetapi bergeraklah sesuai dengan kemampuan kita maka akan sampai dengan sendirinya sesuai dengan izin Allah SWT.

Share and Enjoy

    Komentar

    comments