ETIKA KEPADA ORANG TUA

 

            Depok, WALISONGOONLINE – Eksistensi kita di dunia ini merupakan satu hal yang wajib disyukuri. Karena Allah Swt memberikan orangtua yang peduli dengan kemashlahatan kita. Memang tidak  secara mutlak karena mereka kita ada di dunia. Tanpa atau melalui mereka, jika Allah Swt. menghendaki, boleh jadi kita pun hidup di bumi-Nya meski dalam status tidak sebagai anak dari orangtua kita.

             Namun permasahannya adalah mereka telah ditakdirkan sebagai orangtua kita, yang melahirkan, menyusui, mengasuh, membesarkan, bahkan sampai kita sudah saatnya berumah tangga, kasih sayang mereka tidak pernah pudar sama sekali. Karena orang tua akan terus menyayangi anak-anaknya walaupun mereka telah tumbuh dewasa dan menua, tetapi seorang anak yang sudah dewasa dan berkeluarga belum tentu sanggup merawat orangtua yang sudah menua dan tak berdaya.

            Secara fitrah, setiap makhluk hidup diberikan Allah Swt rasa cinta, peka dan peduli kasih sayang terhadap sesama, bahkan hewan sekalipun. Melihat dari aspek kefitrahannya, jika ada orang yang rela berkorban sebagaimana orangtua kita – tanpa meninjau aspek agama, meskipun hal ini diperintahkan – , maka secara naluri kita akan tergerak untuk mencoba memberikan balasan yang terbaik terhadap mereka meski hal itu tidaklah mudah dilakukan.

             Kewajiban kita berbuat baik terhadap keduanya bukan disebabkan karena mereka telah berlaku baik terhadap kita. Akan tetapi hal itu lebih karena merupakan mutlak perintah Allah Swt. yang tidak bisa ditawar-tawar.

            Pesan yang disampaikan al-Qur’an dalam surat al-Isra’[17]: 23 , menyatakan bahwa kita tidak hanya diperintahkan untuk tidak durhaka terhadap keduanya, akan tetapi diperintahkan pula untuk berbakti kepada kedua ibu-bapak kita. Durhaka terhadap keduanya tidaklah sama konsekuensinya dengan durhaka terhadap sesuatu yang lain. Demikian penjelasan yang ditulis oleh Quraisy Shihab.

            Lebih lanjut, Quraisy Shihab menjelaskan bahwa kata yang digunakan dalam berbakti kepada orangtua adalah kata wabilwalidaini ihsanan, yakni menggunakan huruf jar ba, yang bermakna ilshak. Padahal dalam bahasa arab kata ihsan bisa bergandengan dengan huruf jar yang lain seperti li yang berarti untuk, atau kata ila yang berarti kepada.

            Dipilihnya kata ba sebagai gandengan kata ihsan, karena kata ba bermakna melekat. Sesuatu yang melekat berarti berdekatan. Ini mengisyaratkan bahwa berbakti kepada orangtua memerlukan kedekatan bahkan harus selalu berdekatan tanpa adanya jarak antara anak dan kedua orangtuanya.

            Disisi lain kata li yang bermakna untuk, menggambarkan bentuk pemberian kepada objek, yang mungkin saja akan memberikan kesan bahwa bakti yang diberikan seorang anak hanya untuk kepentingan orangtuanya semata. Padahal tidaklah demikian, segala bakti yang dipersembahkan seorang anak kepada orangtuanya akan berdampak pula pada kemaslahatan anak tersebut. Sedangkan kata ila yang bermakna kepada, menggambarkan adanya jarak antara subjek dan objek. Ini akan mengesankan adanya suatu jarak dan tidak adanya hubungan yang kuat antara anak dan orangtuanya.

            Setelah itu, Quraisy Shihab melanjutkan bahwa bentuk bakti seorang anak kepada oarngtuanya tidak menghalanginya meski keduanya berbeda keyakinan. Oleh karenanya, al-Qur’an menggunakan kata ma’ruf , yakni baik menurut ukuran budaya ketika memerintahkan memperlakukan orangtua yang berbeda keyakinan. Allah Swt. berfirman dalam QS. Luqman [31’:15: “ Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan aku dengan sesuatu yang tidak ada penegetahuanmu  mempersekutukan Allah, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya  di dunia dengan ma’ruf”. Ketika keduanya memerintahkan hal-hal yang dilarang Allah Swt, seorang anak tidak wajib menaatinya bahkan hatinya tidak boleh senang akan perintah tersebut. Namun demikian, hal itu tidak menggugurkan kewajiban seorang anak untuk tetap berlaku baik erhadap mereka serta tidak mengabaikan kemashlahatan mereka menyangkut urusan duniawi.

            Kebaktian seorang anak kepada orangtuanya tidak hanya sebatas ketika mereka masih hidup di dunia, akan tetapi hal tersebut akan terus berlanjut meski keduanya sudah tidak lagi hidup bersama anak-anaknya. Pun demikian, bukan sekedar mendo’akan mereka, tetapi di antaranya pula menjaga nama baik setelah mereka tiada lagi di dunia.

            Sebagai seorang anak hendaknya tdak merasa malu atau kehilangan harga diri melakukan hal-hal yang dianggap hina jika dilakukan terhadap orang lain. Jangan merasa malu dengan status sosial mereka dimasyarakat sebagai orang yang papa, jangan merasa malu atau gengsi bergandengan tangan, memeluk, mencium mereka hanya karena pendidikan yang dienyam tidak setinggi orangtua teman-teman kita. Karena sudah pada tempatnya (adil) kita merendahkan diri terhadap keduanya setelah kita merendahkan diri dihadapan Allah Swt. dan Rasul-Nya, apapun kondisi  mereka.

            Hal yang mungkin saja terjadi adalah ketika seseorang dihadapkan pada dua pilihan, mana yang harus didahulukan antara ayah dan ibu? Maka jawabannya adalah jangan mempertentangkan keduanya. Memang di satu kondisi tertentu ibulah yang harus diutamakan karena peranannya yang telah melahirkan dengan segala kepayahan, bahkan nyawapun dipertaruhkan. Namun, kendati demikian ibu tidak selalu didahulukan dari ayah. Berkaitan dengan hal ini, Quraisy Shihab mengatakan penuhilah permintaan ibumu, namun jangan kau durhakai ayahmu.

            Terakhir, Quraisy Shihab berpesan bahwa yang perlu diingat disini adalah jika kita sebagai orang tua, tentunya memiliki peranan penting untuk mengantar mereka berbakti kepada kita. Nabi Saw. bersabda, “ Allah merahmati seseorang yang membantu anaknya berbakti kepadanya “. Ketika beliau ditanya, “ Bagaimana caranya?”, Beliau menjawab: “ Dia menerima yang mudah/sedikit dari anaknya, memeafkan yang sulit/berat darinya, tidak membebaninya melebihi kemampuannya dan tidak juga memaki dan menghinya.

 

Share and Enjoy

Komentar

comments