HAKIKAT HAJI

Oleh: KH. Moch. Hilmi Ashiddiqi
Di saat sekarang ini kita berada pada waktu ibadah haji. Yang mana waktu itu sudah jelas ditentukan oleh Allah swt, sebagaimana disebutkan dalam kitab-Nya QS al-Baqarah [2]: 197,(الحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُوْمَاتٌ) Ihram Haji dilaksanakan pada bulan-bulan yang dimuliakan oleh Allah swt yakni Syawwal, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah. Dua dari tiga bulan tersebut merupakan salah satu dari asyhur al-Hurum (empat bulan yang dimuliakan Allah yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab, lihat QS al-Taubah [9]: 36).
Hakikat haji adalah kembali menuju kepada Allah swt. Namun disimbolkan dengan menuju kepada Baitullah, sebagaimana dijadikan sebagai definisi haji secara bahasa. Sehingga orang yang menunaikan haji diharapkan kembali mendekat kepada Allah swt baik secara lahir maupun batin.
Haji merupakan ibadah yang meliputi beberapa ritual atau lebih dikenal dengan sebutan manasik. Inti dari manasik haji ada pada wukuf di Arafah. Sebagaimana sabda baginda Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan oleh al-Tirmidzi, al-Nasa’i, Ibnu Majah dari Abdurrahman bin Ya’mur: الحَجُّ عَرَفَةُ Sehingga orang yang berhaji, mau tidak mau –meski kondisi fisik tidak mendukung- harus berada di padang Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah.

Hakikat wukuf di Arafah adalah mengenal diri sendiri dengan mengakui segala kesalahan dan dosa, sebagaimana akar kata Arafah yang berarti ‘mengenal atau mengerti’. Ketika seseorang sudah mampu mengenal dirinya, lambat laun dia akan mengenal Tuhannya, Allah swt.
Ibadah haji merupakan sebuah bentuk peringatan terhadap sejarah perjalanan manusia. Bapak semua manusia, Nabi Adam as ketika ditetapkan untuk tinggal di bumi setelah berbuat kesalahan, ia terpisah dengan pasangannya Hawa. Keduanya terpisah saling mencari satu sama lain sampai ketemu setelah sebelumnya diajari oleh Allah swt ‘kalimat’ –lihat QS al-Baqarah [2]: 37- untuk mengenal dirinya dengan mengakui kesalahannya. Oleh karena itu Para Ulama menilai “kalimat” itu sebagai bagian dari sarana menuju Alloh dan doa yang berisikan pengakuan kesalahan dan permohonan ampunan dan rahmat-Nya. Doa itu tersurat dalam firman-Nya QS al-Aʻraf [7]: 23,

(رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخٰسِرِيْنَ)
Seyogyanya hakikat haji ini tidak hanya dilakukan bagi jamaah haji saja, namun dianjurkan juga bagi kaum Muslimin di berbagai pelosok bumi. Kembali kepada Allah swt memohon ampun (memperbanyak istighfar). Terutama doa Nabi Adam di atas dianjurkan untuk sering-sering dipanjatkan pada bulan Dzulqa’dah. Semoga kita semua bisa berhaji secara hakiki, Amin. (AFR)

Disadur dari pengajian kitab al-Ghunyah karya al-Syeikh Abdul Qadir al-Jailani.
Masjid al-Hikam Depok, 29 Juli 2017 – 5 Dzulqa’dah 1438

Share and Enjoy

Komentar

comments