Halal bihalal dan Istighatsah Mappi

PAPUA- PCNU kabupaten Mappi Papua Selatan, usai menggelar Halal bihalal dan Istighatsah Sugra Sabtu (22/07/2017) sore lalu, bertempat di Masjid Nurul Huda Jalan Telkomsel Distrik Obaa Kota Kabupaten Mappi Papua. Istighatsah ini merupakan agenda bulanan PCNU Mappi, Hanya saja, kegiatan Istighatsah kali ini diselenggarakan dengan acara Halal bihalal guna untuk mendoakan keselamatan kota Mappi dan negara Indonesia tercinta ini.

Adapun orang yang memprakarsai berdirinya PCNU kabupaten Mappi yaitu KH. Muhammad Arif,S.Pd.I, asal dari Banyuwangi Jawa Timur, sekarang menjadi ketua Lembaga Ma’arif, ketua Tanfidliyah Nahdlatul Ulama (2010-sekarang), penasehat MUI, Penasehat BAZNAS dan Kepala Bimas Islam urusan Haji dan Umrah Mappi. PCNU Mappi ini berdiri tahun 2010 M atas keprihatinan kiai Arif melihat kondisi umat Islam di Mappi yang sudah sedikit banyak terkena doktrin faham Salafi Wahabi. Kondisi ini menggerakkan hati kiai Arif untuk mendirikan PCNU harapannya agar Islam Rahmatal lilalamin yang berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah An-Nahdliyah dapat berkembang di daerah pedalaman seperti di kabupaten Mappi ini. Salafi Wahabi lebih dulu masuk di kota ini, dia masuk tahun 2007 M, kemudian mereka (Wahabi) mendoktrin pengurus-pengurus masjid Nurul Falah untuk mengikuti fahamnya, sebagian pengurus tersebut ada yang ikut doktrin mereka dan sebagian lagi mendirikan masjid baru Nurul Huda. Tutur Ketua BAZNAS Mappi, Ust Husni Adam.

Letak geografis Mappi ini berada diantara kabupaten Asmat dan kabupaten Bouven Digoel, ketiganya merupakan pemekaran dari kabupaten Merauke. Merauke ke Mappi dapat ditempuh lewat jalur darat, laut dan jalur udara. Jalur darat membutuhkan waktu sehari semalam, jalur laut 3 hari 2 malam dan jalur udara hanya 50 menit dengan memakai pesawat kecil seperti Susi Air dll dengan harga diatas satu juta rupiah.

Istighatsah ini dimulai pukul 15.50 WIT usai shalat ashar, dalam sambutan bapak Sudarsono, “Di bulan Syawal yang akhir ini melalui moment Halal bihalal, mari senantiasa kita saling bermaaf-maafan antar sesama umat Islam khususnya dan umumnya kepada semua manusia. Kita uri-uri (lestarikan) kebiasaan-kebiasaan NU diantaranya wiridan, kirim fatihah kepada leluhur, tahlilan, yasinan dll, yang mana kebiasaan-kebiasaan tersebut terbukti dapat mengajak orang jawa yang dulunya non-Islam menjadi masuk agama Islam. sekarang NU dan Muhammadiyah saling bersatu, karena kedua organisasi tersebut sama-sama mendapat serangan dari kelompok-kelompok yang lain. Wahabi tidak hanya menyebarkan permasalahan ibadahnya, mereka juga mereka tidak setuju atas dasar proklamasi kemerdekaan 17 Agustus di Indonesia.

Pembacaan nama-nama arwah oleh Ustadz Abdul Kohar dari anggota PCNU Mappi. Kemudian pembacaan Istighatsah Qashirah oleh Ustadz Ali Mansur selaku pengasuh pesantren Nurul Huda dan pengurus BAZNAS. Tausiyah agama disampaikan oleh saudara Ahmad Faidlon asal Purwodadi, Grobogan Jawa Tengah. Dia sebagai santri Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Depok asuhan alm. KH. Ahmad Hasyim Muzadi (mantan PBNU 2000-2010), Santri tersebut dikirim ke Mappi Papua dalam rangka mengabdian kepada masyarakat yang merupakan agenda tahunan pesantren pesantren dan kampus sebagai syarat pengambilan ijazah S1.
Dalam ceramahnya, santri tersebut menceritakan tentang sejarah pertama adanya halal bi halal di Indonesia. Bertepatan pertengahan Ramadlan tahun 1948, KH. Wahab Chasbullah di panggil president Ir.Soekarno ke Istana negara, guna untuk diminta pendapat tentang situasi politik di Indonesia yang tidak sehat. Kemudian kyai Wahab memberi saran untuk menyelenggarakan silaturrahmi dengan memakai istilah halal bihalal dan alhamdulillah pada hari raya Idul Fitri semua tokoh politik dan agama, mau datang ke acara yang diadakan oleh presiden kala saat itu. Kata “Halal bihalal” mempunyai dua analisa. Pertama, thalabu halal bi thariqin halal: mencari penyelesaian masalah atau mencari keharmonisan hubungan dengan cara mengampuni kesalahan. Kedua, halal yuzja’u bi halal: pembebasan kesalahan dibalas pula dengan pembebasan kesalahan dengan cara saling memaafkan, tuturnya.
Persatuan dan kesatuan dalam menjaga keutuhan NKRI juga disampaikan oleh santri tersebut, hal itu dia gambarkan melalui Piagam Madinah (Madinah Charter) di dalam Rasulullah SAW membangun negara Madinah dan saling memaafkan satu sama lainnya melalui moment Idul Fitri tahun 1438 H, imbuhnya.
Alhamdulillah halal bihalal dan istighatsah ini sukses, dengan mengundangan 300 orang diantaranya masyarakat setempat, tokoh-tokoh agama, Kapolres, Brimob dan Kompi yalet dll. Umat Islam di Mappi ini minoritas tetapi mereka tetap antusias dan bersemangat dalam mengikuti acara tersebut.
Mappi, Kamis 27-Juli-2017

Share and Enjoy

Komentar

comments