ISRA’ MI’RAJ

                Depok, WALISONGOONLINE – Di dalam buku-buku sirah, peristiwa Isra’ dan Mi’raj Rasulullah ﷺ terjadi antara tahun kesepuluh sampai tahun ketiga belas kenabian. Ada yang berpendapat bahwa peristiwa ini adalah penghibur yang diberikan Allah ﷻ kepada Nabi Muhammad ﷺ pada tahun-tahun kesedihan.

        Peristiwa ini terjadi ketika Nabi Muhammad ﷺ sedang berada di sekitar Ka’bah. Kemudian Jibril a.s. datang menemui dan membangunkan Beliau ﷺ. Jibril a.s. kemudian membawa Nabi Muhammad ﷺ keluar dari lingkungan Ka’bah menuju suatu tempat yang disana terdapat hewan yang ukurannya lebih kecil daripada bagal dan lebih besar daripada keledai. Hewan ini bernama Buraq yang dalam suatu riwayat memiliki sayap dan sekali ia melangkah maka langkahnya adalah sejauh mata memandang. Dengan mengendarai Buraq inilah kemudian Nabi Muhammad ﷺ melakukan perjalanan Isra’ dan Mi’raj.

        Kemudian, ketika Nabi Muhammad ﷺ hendak menaiki Buraq, Buraq ini terlihat seperti tidak suka kepada Nabi Muhammad ﷺ. Melihat kejadian itu Jibril a.s. menegur Buraq dengan berkata, “Ada apa kamu, wahai Buraq? Apakah kamu tidak tahu bahwa ini adalah Nabi Muhammad ﷺ ? Tidak ada makhluk yang lebih mulia dari Beliau.” Lalu Buraq pun malu sampai-sampai ia berkeringat. Maka naiklah Nabi Muhammad ﷺ di atas Buraq.

        Dalam waktu yang sangat singkat, Nabi Muhammad ﷺ pun sampai ke Al Quds (Masjid Al Aqsha). Di tempat itu, Nabi Muhammad ﷺ bertemu dengan beberapa Nabi, salah satunya Nabi Isa a.s. Kemudian, mereka melaksanakan shalat di dalam Masjid Al Aqsha dan Nabi Muhammad ﷺ menjadi imam untuk para Nabi tersebut.

        Setelah selesai menunaikan shalat bersama para Nabi, Nabi Muhammad ﷺ pun naik menuju Sidratul Muntaha. Pada saat akan memasuki langit pertama, ada malaikat yang bertanya kepada Jibril a.s. dan Nabi Muhammad ﷺ. Malaikan itu bertanya, “Siapa?” lalu dijawab oleh Jibril, “Jibril”. Kemudian malaikan langit itu bertanya lagi, “Dengan siapa?”  dijawab, “Rasulullah Muhammad ﷺ”. Setelah mendengar jawaban itu, maka malaikan langit membukakan pintu langit dan mempersilakan untuk memasukinya. Kejadian itu terulang pada saat setiap kali Nabi Muhammad ﷺ dan Jibril a.s. akan memasuki langit-langit di atasnya. Dan setiap memasuki langit tertentu, Nabi Muhammad ﷺ bertemu dengan seorang Nabi yang berada pada langit tersebut.

        Setelah melalui langit-langit, maka tibalah Nabi Muhammad ﷺ di hadirat Allah ﷻ , yaitu di Sidratul Muntaha. Di tempat itu lah Nabi Muhammad ﷺ mendapatkan perintah untuk melaksanakan shalat sebanyak 50 waktu. Nabi Muhammad ﷺ langsung menerima perintah itu dan turun ke langit. Ketika turun ke langit, Nabi Muhammad ﷺ bertemu dengan Nabi Musa a.s. Mendengar Nabi Muhammad ﷺ menerima perintah untuk melaksanakan shalat 50 waktu sehari maka Nabi Musa a.s. memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk kembali menghadap Allah dan menerima keringanan karena menurut Nabi Musa a.s., umat Nabi Muhammad ﷺ tidak akan mampu melaksanakannya. Maka naiklah Nabi Muhammad ﷺ kembali menemui Allah ﷻ meminta keringanan dan diberikan pengurangan 5 waktu shalat. Ketika Nabi Muhammad ﷺ turun dan bertemu Nabi Musa a.s. lagi, Nabi Musa memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk meminta keringana lagi kepada Allah ﷻ. Kemudian Nabi Muhammad ﷺ pun naik lagi. Peristiwa meminta keringanan ini pun terjadi hingga shalat hanya dilakukan sebanyak lima waktu dalam satu hari, dan lima waktu itu pahalanya sama dengan 50 waktu yang diperintahkan waktu awal sebelumnya. Ketika bertemu lagi dengan Nabi Musa a.s., Nabi Musa a.s. memerintahkan untuk memintah keringanan lagi, namun Nabi Muhammad ﷺ tidak mau karena telah malu kepada Allah ﷻ. Kemudian Nabi Muhammad ﷺ pun turun ke bumi dan kembali ke Makkah.

        Pagi hari setelah perjalanan tersebut, Nabi Muhammad ﷺ langsung mengabarkannya kepada penduduk Makkah, bahwa Beliau ﷺ telah melakukan perjalanan ke Al Qudz (Syam) dalam waktu satu malam. Hal itu sangat mengherankan dan tidak dapat diterima akal karena pada waktu itu, perjalanan dari Makkah ke Syam membutuhkan waktu satu bulan perjalanan, sehingga tidak mungkin jika hanya ditempuh dalam waktu satu malam saja. Peristiwa ini membuat para kafir Quraish mengatakan bahwa Nab Muhammad ﷺ adalah pendusta, karena yang dikatakannya adalah hal yang tidak mungkin dilakukan waktu itu. Selain itu, kabar ini juga membuat sebagian kaum muslim menjadi ragu terhadap Nabi Muhammad ﷺ.

        Di dalam kondisi kaum muslimin yang dalam keraguan dan kaum kafir Quraish yang senang karena ketidakmungkinan perkataan Nabi Muhammad ﷺ tersebut, mereka bersama-sama mendatangi Abu Bakr As-Shiddiq r.a. untuk mengatakannya. Ketika sampai kepada Abu Bakr As-Shiddiq, kaum kafir Quraish berkata, “Apakah kamu tahu apa yang dikatakan Muhammad?” Abu Bakr menjawab, “Apa yang dikatakannya?”. Kemudian dijawab,” Dia bilang bahwa dia telah melakukan perjalanan ke Syam dalam waktu satu malam”. Mendengar ucapan tersebut Abu Bakr bertanya, “Apakah benar dia berkata seperti itu?” lalu dijawab, “Benar”. Maka dengan nada yang tegas Abu Bakr As-Shiddiq berkata, “Kalau Nabi Muhammad ﷺ berkata yang lebih jauh dari itu, maka itu pasti benar dan aku percaya.”. Mendengar ucapan Abu Bakr As-Shiddiq, sebagian kaum Muslim menjadi yakin kembali dan kaum kafir kecewa.

        Mendapati jawaban dari Abu Bakr As-Shiddiq seperti itu, maka mereka bersama-sama mendatangi Nabi Muhammad ﷺ di sekitar Ka’bah. Abu Bakr As-Shiddiq adalah salah seorang sahabat yang pernah ke Al-Quds dan tahu ciri-cirinya. Dengan pengetahuannya, Abu Bakr As-Shiddiq berkata kepada Nabi Muhammad ﷺ, “Wahai Rasulullah ﷺ, ceritakan kepada kami bagaimana itu Al-Quds sehingga kami yakin tentang apa yang Anda ceritakan.” Kemudian Nabi Muhammad ﷺ menceritakan ciri-ciri Al-Quds, seperti pilar-pilarnya dan lainnya. Setiap kali Nabi Muhammad ﷺ mengatakan salah satu ciri dari Al-Quds, Abu Bakr As-Shiddiq selalu menanggapi dengan, “Anda benar”. Sampai kepada ciri terakhir dari Al-Quds, Abu Bakr As-Shiddiq juga berkata, “Anda benar”. Maka Nabi Muhammad menanggapi Abu Bakr As-Shiddiq dengan, “Kamu adalah As-Shiddiq (yang membenarkan)”. Sejak saat itulah Abu Bakr mulai dipanggil dengan sebutan As-Shiddiq.

        Setelah mendapatkan penjelasan dari Nabi Muhammad ﷺ maka kaum Muslimin pun kembali kuat imannya, dan kaum kafir kecewa atas kebenaran dari apa yang disampaikan Nabi Muhammad ﷺ. Hal ini menjadi bukti kebenaran kenabian Nabi Muhammad ﷺ dan menjadikan kaum kafir Quraish semakin tidak suka kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Kisah pendeta yang membenarkan Isra’ Mi’raj

        Kisah lain yang berkaitan dengan peristiwa Isra’ dan Mi’raj adalah ketika Nabi Muhammad ﷺ mengutus beberapa utusan untuk menyapaikan Islam kepada raja-raja di sekitar Jazirah Arab. Peristiwa ini dilakukan setelah Perjanjian Hudaybiyah. Dengan mengutus para utusan kepada raja-raja, maka para raja dapat mengetahui keberadaan Islam dan diharapkan dapat masuk Islam. Salah satu yang mendapatkan kabar Islam adalah Heraklius, yaitu raja Romawi Timur yang waktu itu berpusat di Kota Ilius, nama lain Al-Quds atau Yerusalem. Heraklius setelah mendengar kabar tentang Islam, dia mencari orang dari Makkah yang paling dekat dengan Nabi Muhammad ﷺ, maka didapatilah Abu Sufyan yang waktu itu masih kafir. Maka dipanggillah Abu Sufyan menghadap Heraklius.

        Heraklius adalah raja yang mengerti Injil dan ciri-ciri kenabian. Heraklius memanggil Abu Sufyan untuk memastikan apakah Nabi Muhammad ﷺ memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan yang terdapat di Injil. Maka ketika Abu Sufyan sudah di hadapan Heraklius, ia menanyakan ciri-ciri Nabi Muhammad ﷺ . Abu Sufyan menjawabnya dengan jujur dan tambahan-tambahan hal-hal buruk  yang disematkan kepada Nabi Muhammad ﷺ. Mendengar penjelasan Abu Sufyan, Heraklius berkata, “Orang ini memang benar seorang nabi”. Mendengar jawaban ini, Abu Sufyan kebingunan karena menurut dia hal-hal yang disampaikan adalah hal-hal buruk yang ada pada diri Nabi Muhammad ﷺ yang sebenarnya adalah ciri-ciri Nabi,

        Abu Sufyan pun tidak kehabisan akal. Dia kemudian menceritakan peristiwa Isra’ Mi’raj yang memang diluar jangkauan nalar manusia. Mendengar bahwa Nabi Muhammad ﷺ berkata pernah melakukan perjalanan dari Makkah ke Al-Quds hanya dengan waktu satu malam, mulailah muncul keraguan di dalam diri Heraklius. Ketika Abu Sufyan puas menceritakan hal itu dan melihat Heraklius mulai ragu, tiba-tiba ada pendeta yang berkata, “Saya tahu (dan membernarkan) peristiwa itu, wahai raja”. “Coba ceritakan kepadaku” minta Heraklius.

        Pendeta itu adalah penjaga dan pemegang kunci Masjid Al-Aqsha yang entah waktu itu digunakan sebagai apa. Dial lah yang membuka kunci pintunya pada pagi hari dan mengunci pintunya pada malam hari. Pendeta itu menceritakan bahwa waktu itu, tiba-tiba kunci pintu Masjid Al-Aqsha tiba-tiba tidak bisa dikunci, padahal biasanya bisa dikunci. Kemudian dia memanggil tukang kunci untuk membenarkan kunci itu. Namun, ketika pintu itu diperika, tukang kunci itu tidak menemukan kerusakan pada bagian kunci pintu itu. Tetapi ketika hendak dikunci, kuncinya tidak bisa berfungsi. Karena hari mulai gelap, tukang kunci itu pun meminta agar pekerjaan dilanjutkan besok pagi, dan pintu Masjid Al-Aqsha pun dibiarkan tidak terkunci. Pada keesokan harinya, pendeta itu heran dengan jejak kaki yang terdapat pada Masjid Al-Aqsha, dan terdapat bekas hewan kendaraan ditambatkan di suatu sudut tempat itu. Pendeta itu lebih heran lagi ketika dia mencoba mengunci pintunya ternyata pintu itu bisa dikunci, sehingga akhirnya dia tidak memanggil lagi tukang kunci.

        “Hal itu lah yang membuat saya yakin bahwa pasti ada seorang Nabi yang datang pada malam itu ke dalam Masjid Al-Aqsha”, jelas pendeta tersebut. Dengan penjelasan itu, maka Heraklius pun yakin dengan kenabian Nabi Muhammad ﷺ . Ada yang mengatakan bahwa Heraklius sebenarnya sudah beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ , namun ketika dia berbicara seperti itu, orang-orang disekitarnya yaitu pejabat kerajaan meninggalkannya sehingga akhirnya dia tetap pada agama sebelumnya yaitu nasrani.[ Ersal Fahrul Yoserizal ]

Share and Enjoy

    Komentar

    comments