KH. A. Hasyim Muzadi (Sekjend ICIS) menjadi pembicara dalam acara Konferensi Internasional JATMAN

KH. A. Hasyim Muzadi di acara konverensi internasional JATMAN

KH. A. Hasyim Muzadi (Sekjend ICIS) menjadi salah satu pembicara dalam acara Konferensi Internasional “Bela Negara: Konsep dan Urgensinya Dalam Islam” diselenggarakan oleh Jam’iyah ahlu toriqoh al-mutabaroh An-Nahdliyah, JATMAN dan Kementerian Pertahanan RI (bekerja sama dengan jaringan ulama internasional ICIS) di Pekalongan, Jateng 27-28 Juli 2016

1. KH. Hasyim Muzadi menyampaikan bahwa di dunia Islam sekarang terbelah menjadi dua kekuatan. Kekuatan Syiah yang dipimpin oleh Iran dan kekuatan wahabiyah salafiyah yang dipimpin oleh Arab Saudi. Mereka saling berebut pengaruh yang mengakibatkan konflik bahkan perang diluar areal kedua negara tersebut. Posisi Ahlussunnah Wal Jamaah di dunia yang sesungguhnya mayoritas dalam jumlah berubah menjadi ajang perebutan pengaruh baik ideologi, politik, maupun finansial. Ahlussunnah Wal Jamaah seakan menjadi ring pertikaian dari permusuhan keduanya. Sedangkan konsep aswaja adalah konsep agama secara ilmiah dan amaliyah melalui jalur wasatiyah dan tidak menyiapkan diri untuk menyerang siapapun yang mempunyai manhaj lain. sehingga ketika terjadi himpitan-himpitan dari kekuatan agresif ini kaum suni jadi kedodoran.

2. Pertarungan dari dua kubu besar tersebut di dalam kenyataan prosesnya selalu dimanfaatkan oleh kepentingan global yang mengambil keuntungan dalam mengaduk-aduk kondisi umat Islam. Terjadilah pertikaian bahkan peperangan. Sehingga pertikaian yang asalnya firqoh diniyah berkembang menjadi pertikaian politik dan ekonomi global yang semakin sulit diselesaikan.

3. Kenyataan yang sangat memprihatinkan ini Bukannya tidak mungkin masuk ke Indonesia disebabkan dua faktor besar, pertama, Indonesia sebagai negara Muslim Sunni terbesar di dunia dapat diperhitungkan sebagai lahan sasaran. kedua faktor sumber daya alam Indonesia yang terkaya dan terbesar di dunia. Tanda-tanda konflik di dalam Islam sendiri sudah mulai terasa dilanjutkan dengan konflik lintas agama yang akhirnya akan menjadi konflik agama dan negara.

4. Reformasi Indonesia sejak amandemen UUD 1945 tahun 2002 memudahkan masuknya anasir-anasir konflik tersebut karena keterbukaan Indonesia yang sangat luas baik menyangkut ideologi, agama, politik, hukum, pendidikan dan budaya. Oleh karenanya kasus-kasus konflik tersebut menyangkut juga konflik kawasan seperti rawannya situasi keamanan Papua dan di lingkar perbatasan Indonesia.

5. Upaya menanggulangi masalah-masalah berat tersebut pertama kali haruslah dengan penguatan Ahlussunnah Wal Jamaah an-Nahdliyah, tata organisasi NU, dan peranan NU pada tingkat nasional dan internasional. Di kalangan umat nahdliyin sendiri sudah mulai digerogoti oleh ideologi lain serta menurunnya peranan NU. Dengan demikian jangan sampai NU dilemahkan yang berawal dari penyusupan ideologi lain yang sedang bertikai di dunia tersebut serta parpolisasi NU yang akan memperkecil peranan NU itu sendiri.

6. Penanggulangan penyakit-penyakit Bangsa seperti narkoba, terorisme, LGBT, korupsi, dan neo Komunisme harus benar-benar diperhatikan karena kalau tidak berhasil ditanggulangi maka akan runtuhlah nasionalisme Indonesia berganti dengan penguasaan asing terhadap Indonesia. Jangan sampai tantangan semakin berat dan NU menjadi semakin lemah.

Share and Enjoy

    Komentar

    comments