Khutbah Idul Adha

Oleh: Ali Fitriana Rahmat

بسم الله الرحمن الرحيم

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر 9x

الحمد لله الحمد لله الذي بارك لنا بأنوار الضحى وأجزل لنا المنح وفتح لمحمد فتحا وأكرمنا بعظمة عيد الأضحى أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له شهادة تورث السعادة والفلاح وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله سيد الإنس الذي يستحق المدح وأصلي وأسلّم على شمس الضحى سيدنا محمد ﷺ وعلى آله الذين لازموا النصح والصلاح والإصلاح وصحبه الصُلَحَا صلاة وسلاما ما هبت ريح الصبا من شتى الأنحا مساء وصباحا أما بعد:

فيا أيها الناس أوصيني وإياكم بتقوى الله فإن أكرمنا هو من أتقانا

Jamaah shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah swt

Salah satu nikmat Allah swt adalah kita dapat berkumpul di tempat mulia ini, rumah mulia, Masjid Baitul Karim perumahan Depok Mulia guna melaksanakan perintah Sang Maha Mulia yang tercatatat dalam kitab-Nya yang mulia, QS al-Kautsar [108]: 2. Tentu secara otomatis apa yang sedang kita lakukan merupakan bentuk amal mulia. Shalat Idul Adha lalu berkurban. Kemulian hari raya Idul Adha sudah nampak dalam sumpah Allah di QS al-Fajr [89]: 3 dan QS al-Buruj [85]: 3. Ibnu Rajab al-Hanbali menafsirkan al-Syafʻ (bilangan genap) dengan Idul Adha yang jatuh pada tanggal 10 Zulhijah. Sedangkan al-Tirmidzi melalui riwayatnya, menafsirkan masyhûd dengan Idul Adha.

Dalam sejarahnya, dua hari raya Idul Fitri dan Adha mulai disyariatkan pada tahun kedua hijriah. Sebagaimana riwayat Anas yang termuat dalam Sunan Abu Dawud, Sunan al-Nasa’i, Musnad Ahmad, dan al-Mustadrak li al-Shahîhain li al-Hakim, sebelum kedatangan Nabi Muhammad saw untuk hijrah, di Medinah dalam satu tahun ada dua hari khusus yang biasanya digunakan para penduduknya untuk bermain dan meluapkan kegembiraan. Lambat laun Rasulullah saw mengganti dua hari kegembiraan itu dengan dua hari kegembiraan yang lebih baik yaitu hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Semenjak tahun 2 hijriah itulah, salat Idul Fitri dan Idul Adha dilaksanakan hingga saat ini. Salah seorang sahabat Nabi bernama Mikhnaf bin Sulaim pernah mengatakan, keluar untuk salat Idul Fitri sebanding dengan pahala umrah. Dan keluar untuk salat Idul Adha sama dengan pahala haji. Salat dan berkurban pada Idul Adha lebih afdal ketimbang salat dan sedekah pada Idul Fitri. Sebab perintahnya langsung lewat al-Quran (QS al-Kautsar [108]: 2).

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Hari raya merupakan agenda rutin dalam beragama. Apapun itu agamanya. Dalam agama kita yang diridai Allah swt, yakni Islam, pelaksanaan hari raya setiap tahunnya sebanyak dua kali. Dan itu berulang terus menerus setiap tahunnya. Oleh karena itu dalam bahasa Arab, hari raya disebut dengan ied yang asal maknanya berarti kembali. Sebab hari raya diulang kembali momennya setiap tahun/periode.

Berbicara tentang hari raya Idul Adha, pasti kita akan menemukan sejumlah nama yang mewakilinya. Mulai hari raya kurban. Hari raya besar. Hari raya haji. Hingga nama Idul Adha sendiri.

Menurut asal usul bahasa, setiap kata dalam bahasa Arab yang berakar dari tiga huruf yakni: Dhad, hâ’, dan huruf illat memiliki arti asal nampaknya sesuatu. Oleh karenanya bermula dari akar kata ini waktu duha berasal. Sebab saat waktu duha adalah saat dimana matahari menampakkan cahayanya. Sementara hari raya dinamakan Idul Adha karena sembelihan kurban umumnya dilangsungkan pada waktu Duha. Masih dari akar kata yang sama, kurban dalam bahasa disebut dengan Udhiyyah dan Dhahiyyah. Sehingga hari raya Idul Adha merupakan momen bagi kita sebagai kaum Muslimin untuk kembali menampakkan cahaya hati kita yang selama ini telah redup dengan kotornya dosa dan kemaksiatan.

Jamaah shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah swt

Hari raya kurban dalam bahasa Arab disebut juga dengan; ied al-Qurban dan ied al-Nahr. Keduanya sama-sama bermakna kurban. Kurban merupakan kata serapan dari bahasa Arab. Kata kurban sendiri digunakan oleh Allah swt dalam QS al-Maidah [5]: 27 saat mengisahkan dua anak Adam yang mempersembahkan sebuah kurban untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Memang secara arti kurban masih seakar dengan karib yang berarti dekat. Sehingga kurban adalah sesuatu yang digunakan sebagai wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Sudah sepatutnya setiap orang yang berkurban melandasi niat berkurban semata-mata untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Untuk mensyukuri nikmat-Nya yang kawtsar (melimpah). Bukan malah untuk pamer, bukan untuk menyombongkan diri, bukan untuk merasa paling suka berbagi. Kurban beda dengan korban. Meskipun kurban pasti menyimpan makna pengorbanan baik tenaga maupun harta. Esensi berkurban adalah mengingat asma Allah swt (QS al-Hajj [22]: 34). Dalam berkurban Allah swt tidak menilai seberapa banyak daging yang sudah dibagi. Allah swt juga tidak menilai seberapa deras darah yang menetes. Akan tetapi ketakwaan-lah yang membuat kurban menjadi berkualitas (QS al-Hajj [22]: 36)

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Pelaksanaan Idul Adha yang dilangsungkan pada tanggal sepuluh Zulhijah mengharuskan perayaannya selalu berbarengan dengan kegiatan ibadah haji. Sehingga Idul Adha juga disebut dengan hari raya haji. Zulhijah memang bulan haji. Idul Adha dan haji sangat identik dengan ajaran Nabi Ibrahim as. Kurban berawal dari mimpinya pada malam tarwiyah, malam kedelapan Zulhijah. Selanjutnya pada hari Arafah tanggal 9 Zulhijah, beliau putuskan menyanggupi perintah lewat mimpi tersebut. Setelah beliau tahu bahwa mimpi tersebut datang dari Allah swt, bukan dari setan. Kemudian titah Allah swt untuk berkurban itu beliau laksanakan pada tanggal 10 Zulhijah. Adapun haji juga berasal dari Nabi Ibrahim as. Rangkaian manasik haji dan beberapa tempatnya memiliki rantai sejarah yang menyambung dengan perjalanan kisah hidupnya. Ka’bah bangunan bersejarah yang beliau letakkan pondasinya bersama puteranya, Ismail (QS Al-Baqarah [2]: 127). Kisah larinya Hajar ke sana kemari untuk mencari bagi Ismail diabadikan dalam ritual Sa’i. Dan juga ritual manasik haji lainnya.

Jamaah shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah swt

Merayakan hari raya laksana bertamu kepada Allah swt. Saat itu makan minum menjadi suatu yang wajib dilakukan. Berpuasa pun menjadi sebuah larangan. Sebagaimana riwayat al-Tirmidzi yang menegaskan bahwa hari raya kurban dan hari tasyrik merupakan hari raya bagi umat Islam. Hari makan minum bagi kaum Muslimin di seluruh penjuru alam. Pada hari raya Allah swt sedang menjamu kita dengan aneka hidangan makanan dan minuman bermacam rupa.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Idul Adha juga disebut dengan hari raya besar. Kebesaran Idul Adha nampak dengan kumandang takbir mulai Subuh hari Arafah hingga Asar hari tasyrik terakhir. Selama lima hari kita bertakbir usai salat. Berbeda dengan takbir Idul Fitri yang hanya semalam saja, dimulai terbenamnya matahari hingga khatib naik mimbar. Esensi bertakbir adalah menampakkan kebesaran Allah swt serta mengakui kecilnya kemampuan dan kekuatan diri kita sendiri. Hakikatnya belum bertakbir, orang yang masih merasa dirinya besar dan lebih hebat dari yang lain. Belum bertakbir, orang yang tidak mampu membesarkan kebesaran Allah swt di banding apapun dan siapapun dalam hatinya.

Jamaah shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah swt

Perlu digarisbawahi bahwa sebesar apapun hari raya Idul Adha ini hanyalah sebatas hari raya di dunia. Hakikat hari raya adalah terampuni segala dosa. Hari apapun yang tidak kita nodai dengan dosa maksiat itu adalah hari raya yang sejati (al-Hasan bin Ali). Hari raya di akhirat bagi kaum beriman adalah di saat menghadap Allah swt di surga. Tidak ada kenikmatan di surga yang melebihi dari memandang Allah swt dengan wajah berseri-seri (QS al-Qiyamah [75]: 22-23). Inilah yang dimaksud dengan tambahan karunia Allah swt dalam QS Yunus [10]: 26. Bagi orang yang berbuat baik (amal saleh) akan mendapatkan al-Husnâ yakni surga. Serta mendapatkan bonus ziyâdah berupa memandang Allah swt. Hari raya akhirat bagi kaum awam Muslimin juga dirayakan setiap tahunnya sebagaimana mereka merayakannya di dunia. Dirayakan dengan ber-ziyâdah (memandang Allah swt) setahun dua kali. Sementara hari raya akhirat bagi orang-orang saleh yang selalu menjaga kebersihan jiwanya di dunia dari kotoran dosa dan maksiat, akan merayakan ziyâdah tiap pagi dan petang. Oleh karenanya perlu kita ketahui bahwa hari raya tidak hanya di dunia, di akhirat pun hari raya juga ada. Mari kita siapkan diri untuk menyambut hari raya abadi di surga-Nya.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Sejatinya di kehidupan dunia ada tiga hari raya; dua hari raya dilaksanakan setiap tahun sekali yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Satu hari raya lainnya terulang seminggu sekali yaitu hari Jumat. Oleh karenanya dimakruhkan puasa hanya pada hari Jumat. Sebab Jumat adalah hari raya; makan minum. Jika hakikat hari raya adalah bersihnya jiwa dari kotoran dosa kemaksiatan, Jumat juga hari raya. Riwayat al-Hakim, al-Baihaqi dan Ibnu Hibban menegaskan bahwa melaksanakan kewajiban salat lima waktu, hari jumat hingga hari jumat, Ramadan sampai Ramadan menjadi pelebur dosa di antara keduanya selagi itu bukan dosa besar.

Sebagaimana Idul Fitri yang menjadi pelengkap rukun Islam keempat yakni puasa Ramadan, Idul Adha juga menjadi pelengkap rukun Islam kelima yaitu ibadah haji. Sedangkan hari Jumat yang dilangsungkan kewajiban salat Jumat merupakan pelengkap rukun Islam kedua yakni shalat lima waktu.

Jamaah shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah swt

Jadi pada hari ini kita merayakan dua hari raya, hari raya Idul Adha sekaligus hari raya Jumat. Sehingga kemuliaan hari ini menjadi lebih besar. Sebagaimana besarnya kemuliaan haji Akbar ketika bertepatan hari Jumat dengan hari Arafah. Mari kita manfaatkan kemuliaan hari ini dengan amal-amal mulia. Mulia di mata sesama. Lebih-lebih lagi mulia di mata Allah swt.

إنا أعطينك الكوثر – فصل لربك وانحر – إن ناشئك هو الأبتر

بارك الله لي ولكم أجمعين ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم وقل رب اغفر وارحم وأنت خير الراحمين

Kukusan Beji Depok, 9 Zulhijah 1438 H – 31 Agustus 2017

Share and Enjoy

Komentar

comments