Makna Hijrah dalam Seuntai Pesan di tahun baru hijriah

Oleh: Nasril Albab M

Natuna, WALISONGOONLINE – Hari ini, Rabu tanggal 20 September 2017  tepatnya tanggal 30 Dzulhijjah 1438 H dalam penanggalan islam menandakan akan datangnya tahun baru Hijriah. Bukan hal sederhana dan tanpa makna bagi mereka yang sadar akan datangnya Tahun Baru ini. Karena di dalamnya syarat dengan hikmah  dan pelajaran  berharga yang bisa dipetik dari kisah perjalanan Hijrah sang rasul bersama sahabat dan umat Muslim saat di Makkah ke Madinah.

Bagi mereka yang sadar, tentu akan menjadikan Momen ini sebagai saat yang tepat untuk berintrospeksi  atau muhasabah diri terkait semua yang telah dilakukannya selama setahun. baik urusan pribadi, keluarga, masyarakat, agama maupun negara. apakah dirinya bermanfaat di tengah-tengah masyarakat atau malah sebaliknya hanya melakukan kesalahan, kekhilafan dan keteledoran dari kewajiban yang harus di tunaikannya. janagn sampai kehadiran kita di dunia ini kurang bermakna atau bahkan  mungkin hanya menjadi sampah masyarakat. Karenanya, momen tahun baru hijriah ini adalah momen yang sangat baik untuk menilai itu semua.

Mencoba memperbaiki kesalahan yang telah lewat, menambal yang kurang dan membenahi semua kekeliruan adalah hal yang baik untuk dilakukan agar tahun berikutnya dapat lebih baik. Sehingga pada akhirnya tidak tergolong menjadi orang yang merugi, sebagaimana disampaikan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW dalam satu sabdanya yaitu Melalui riwayat Abdul ‘Aziz bin Aby Ruwwad, dia berkata

“ aku bermimpi bertemu Nabi SAW, lalu aku berkata “ wahai rasulullah SAW, wasiatilah aku, kemudian Nabi menjawab “Barang siapa yang hari ini dan hari kemarin sama saja maka ia rugi, barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka ia terancam (mendapatkan laknat), dan barang siapa yang hari ini tidak ada peningkatan sama sekali maka ia berarti dalam satu kondisi yang bobrok, serta barang siapa yang berada dalam kondisi selalu merosot di setiap harinya, maka kematian adalah hal yang terbaik baginya

Demikianlah sebenarnya, jika kita flashback Ke belakang mengenai peristiwa hijrah yang dilakukan Nabi bersama kaum muslimin dengan banyaknya rintangan dan ancaman dari kaum Quraisy yang bertubi-tubi, telah menyisakan banyak pesan yang berharga bagi umat Islam generasi selanjutnya agar menjadi generasi yang tidak merugi. Setidaknya ada tiga makna yang bisa diambil dari peristiwa agung tersebut.

Pertama hijrah adalah sebuah keniscayaan. Berpindahnya Nabi dari kampung  yang mengusik (Makkah) kepada yang lebih tentram (Madinah) menyiratkan bahwa meninggalkan keburukan menuju  hal yang lebih baik dan bermanfaat adalah salah satu makna hijrah yang bisa kita petik untuk diimplementasikan pada  saat sekarang. Jika Menurut Qusyairi sebagaimana dikutip Dr. Cholil Nafis dalam sebuah artikelnya, maka Hijrah itu ada dua yaitu hijrah maknawi dan hissi atau biasa disebut hijrah zhahir dan batin.

Hijrah Batin adalah pindah dari kekufurun menuju iman dan dari berserah diri kepada makhluk menuju penyerahan diri seutuhnya kepada Allah SWT. Adapun hijrah Zhahir adalah meninggalkan kemunkaran menuju keshalihan, dari pakaian terbuka menuju berhijab dan meninggalkan dunia kelam menuju hidayah. Dengan demikian apapun statusnya dan apapun itu profesinya,  berpindah ( Hijrah) baik secara zhahir maupun bathin untuk kehidupan yang lebih baik merupakan sebuah keniscayaan yang harus dilakukan oleh setiap orang.

Kedua, dari sebuah keniscayaan tersebut hijrah adalah sebagai jalan keluar (solusi). Betapapun kejam kaum Quraisy memojokkan Nabi, mengejek, mengancam dan menghalang-halangi dakwah beliau,  maka Nabi SAW tidak lantas berhenti berdakwah menyampaikan pesan Allah SWT kepada umatnya. Tapi justru beliau tetap melangkah mencari jalan keluar yaitu dengan cara berhijrah.

Meninggalkan kaum Quraisy dalam rangka berhijrah ke Madinah bukan berarti Nabi menyerah dan melarikan diri dari rintangan. Namun Nabi SAW menjadikan Hijrah itu sebagai jalan keluar untuk mengatur strategi hingga kemudian kembali lagi menaklukan kota Makkah. Dengan demikian, ketika mendapati sebuah masalah yang menghimpit atau penganiayaan yang menghujam maka berhijrahlah.

Kemudian, makna ketiga  dari Hijrah adalah menjadikan hijrah  untuk menatap masa depan. Bagi setiap orang beriman, sudah selayaknya menjadikan masa lalu yang kelam dan penuh kekurangan cukup dijadikan sebagai kenangan dan pelajaran. Jangan sampai kekurangan dan  kegagalan di masa lampau membuatnya bersedih, memutuskan tekad dan mengubur masa depan yang belum terjadi.

Demikian salah satu nasehat, Aid al Qarni dalam bukunya La Tahzan, bahwa lembaran  kisah masa lalu cukup ditutup rapat-rapat lalu disimpan dalam ‘ruang’ penglupaan dan diikat dengan tali yang kuat dalam ‘penjara’ pengacuhan selamanya. Kecuali hanya sesekali sebatas melihat dan melepas pengikat masa lalu itu, guna introspeksi diri untuk tujuan menciptakan energi yang membangkitkan semangat hijrah dengan tekad tidak akan mengulangi dan akan menepis kegagalan di masa mendatang (Aid al Qarni, La Tahzan, hal.5).

Dalam Al Qur’an  terdapat  sebuah pesan yang juga menyeru orang-orang beriman untuk memperhatikan masa depan. ” Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan”. ( Al Hasyr: 18).

Ibn Katsir, Dalam Kitabnya ketika memaknai firman Allah, َ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ  [Surat Al-Hasyr 18]  mengemukakan bahwa ayat tersebut menyeru untuk melakukan muhasabah (evaluasi) diri guna memperhatikan masa depan. Sebagaimana pernyataan beliau dalam kitabnya tersebut, “Berintrospeksi dirilah kalian semua sebelum kalian diintrospesi dan perhatikanlah apa yang telah  kalian persiapkan untuk diri kalian sendiri dari amal-amal shalih sebagai (bekal) di hari kembalimu kepada Allah SWT kelak“. Karena Bagi orang beriman, kesuksesan tidak hanya sebatas di dunia semata namun juga kesuksesan hidup di akhirat. Maka masa depan yang harus ditatap bagi mereka tidak hanya sebatas hari esok atau lusa, melainkan juga pada masa yang akan datang di kehidupan yang lebih kekal.

Oleh karenanya maka pertanyannya adalah apa yang seharusnya dilakukan untuk  masa depan. Apa yang harus dipersiapkan untuk masa yang akan datang. Sudah seharusnya semua pertanyaan itu tertancap di dalam hati kita. Tomorrow is today, Hari esok itu ditentukan oleh Hari ini, jika hari ini baik  maka hari esok tentu lebih baik.

Kita sebagai seorang pelajar atau seorang santri di pondok pesantren terlebih para penghafal Al Qur’an selayaknya berfikir dan mempersiapkan apa saja yang belum kita dapatkan di pesantren. Surat dan ayat berapa yang hendak di hafalkan atau ilmu apa yang belum di kaji Sehingga lebih memahami secara mendalam tentang agama Allah SWT. Maka dengan datangnya tahun baru 1439 H ini, setidaknya menjadi awal untuk mengimplementasikan tiga makna hijrah Rasul sebagaimana yang saya sebutkan di atas.

Selamat Tahun baru, 1 Muharram 1439 H .
كل عام وانت بخير

Share and Enjoy

Komentar

comments