Masa Depan NU di Pulau Natuna ( antara subtansi dan legal formal)

Oleh: Nasril Albab M

Jam’iyyah Nahdlatul Ulama yang lebih dikenal dengan NU bukan sebatas organisasi keagamaan atau ormas Islam semata. Nu juga sebuah gerakan pemikiran yang terkonsep dan terstruktur dalam wadah jaringan ulama Ahlissunah wal jamaa’ah. Demikian  yang selalu didengungkan dan diupayakan oleh Abah Hasyim Muzadi dalam setiap dakwahnya, terkhusus ketika beliau menjabat sebagai ketua umum PBNU 1999-2010. Karena, memang tidak sedikit bahkan banyak dari kalangan nahdhiyyin sendiri yang masih  menganggap dan memahami NU sebatas organisasi kemasyarakatan Islam dengan ritual dan cultur khasnya. Seperti mitoni ( mendo’akan bayi yang sedang dikandung dalam 7 bulan), kenduri, tahlilan, ziarah kubur,  sampai pada praktek-praktek ibadah tertentu. Jadi kalau ada sekelompok masyarakat yang berbondong-bondong menghadiri sebuah acara haul kematian, atau ramai-ramai berziarah kubur bersama, atau juga membaca bismillah dengan jahr dalam shalat ketika membaca al-Fatihah itu disebut dan termasuk orang NU. Dan sebuah masjid atau surau yang mendirikan jamaah shalat tarawih dengan jumlah rakaatnya 20  langsung dicap masjidnya orang NU. Sementara, kelompok masyarakat yang tidak mengkuti dan mempraktekan, misalnya tarawihnya hanya 8 rakaat atau bahkan menolaknya itu  berada pada kelompok di luar NU, baik itu Muhammadiyyah, Jamaah tabligh ataupun salafi wahabi.

Penilaian seperti itulah yang mengakar dikalangan umum, khususnya warga NU. Benar,  praktek ibadah atau budaya tertentu yang dipertahankan oleh setiap organisasi, termasuk NU memang menjadi ciri khusus dari masing-ormas tersebut. Namun, semua yang dipraktekan NU itu merupakan model legal formal  dari jam’iyyah terbesar di Nusantara ini, bukan subtansi yang menjadi ruh bagi eksistensi keberlangsungan Jam’iyyah Nahdlatul ulama (NU).
Oleh karenanya, melihat hal itu dalam Musyawarah Nasional Ulama Nomor: 02/Munas/VII/2006 di Surabaya tentang Bahtsul Masail Maudhu’iyyah Fikrah Nahdiyyah diputuskanlah bahwa Nu harus memiliki metode berikir ke-NU-an sebagai langkah implementatif dalam rangka meneguhkan Nahdhatul Ulama pada garis-garis perjuangannya ( khittah). Khittah perjuangan NU yang sebelumnya sudah diputuskan dalam Muktamar NU ke-27 tahun 1984 di Situbondo demikian dimaksudkan adalah sebagi aturan, koridor  dan khususiyyah dari Jam’iyyah Nahdhatil Ulama sendiri agar generasi-generasi nahdadhiyyin berikutnya bisa mengikuti para founding father dan tidak keluar dari relnya. Maka lima Fikrah Nahdhiyyah yang disarikan dari butir-butir khittah tersebut, yakni tawassuthiyyah (pola pikir moderat) yang melahirkan sikap tawazun (seimbang) dan i’tidal (tegak), tasamuhiyah (pola pikir toleran), ishlahiyah (pola pikir reformatif), Tathawwuriyah (pola pikir dinamis) dan pola pikir manhajiyah (pola pikir metodologis) inilah sebagai ruh dan subtansi yang  seharusnya lebih dikedepankan, dipertahankan dan diperjuangkan menjadi ciri khas Nahdlatul Ulama, selain dari model format praktek-praktek ibadah tersebut.
NU memang organisasi Islam terbesar, tidak hanya di Nusantara, bahkan di Dunia. Namun kebesaran itu masih dalam kuantitas. sedang Untuk kualitas masih harus dibenahi. Ruh NU seharusnya tercermin dalam kualitas diri setiap warga NU. Agar jam’iyyah terbesar ini tidak terkikis bahkan tereliminasi oleh kelompok-kelompok radikal maupun liberal yang secara kuantitas tidak sebanding, tetapi militan. Karena tidak menutup kemungkinan, jika NU besar dalam kuantitas tapi lemah secara kualitas,  sehingga lambat laut-namun jangan sampai terjadi-NU hanya tinggal formalitas. Karena, melihat perjalanan waktu membawa Nahdhatul Ulama berinteraksi dengan organisasi-organisasi lain yang memiliki karakter dan cara berfikir berbeda, akibatnya warga NU sendiri banyak yang kehilangan identitas ke-NU-annya. Banyak orang yang secara formal mengatasnamakan warga Nahdhihyin, tetapi cara berfikirnya tidak mencerminkan  karakteristik Nahdhatul Ulama.
Tulisan ini Bukan hendak membandingkan atau bahkan mempertentangkan antara yang formal dan subtansial,  tapi kiranya demikian menjadi ukuran ke-NUan orang NU dan orang Nu Yang benar-benar ber-Nu. dua pandangan bahwa NU adalah jama’ah dan jam’iyyah menjadi “PR” yang sangat besar bagi keberadaan dan perkembangan NU di Nusantara, ta terkecuali  di Natuna bahkan dikancah dunia.
Sementara Menelisik eksistensi NU di pulau Natuna, keduanya (NU sebagai jama’atan wa jam’iyyatan) menjadi kaca mata untuk melihat seberapa besar organisasi NU cabang Natuna ini berperan dalam penyebaran dakwah membumikan NU. Organisasi NU di pulau melayu ini bisa dikatakan belum berfungsi secara maksimal, jika tidak dikatakan kurang atau bahkan tidak berfungsi sama sekali. Pasalnya, jangankan memahami pemikiran dan gerakan NU, tradisi atau praktek keagamaan ala NU secara legal formal saja tidak dikenal di kalangan masyarakat Natuna sendiri. Terlebih pemikiran dan harakah jihadiyyah (gerakan Jihad) ala ulama Nahdhatul Ulama, baik dalam tataran Nasional,  (kemasyarakatan-keummatan atau kebangsaan-kenegaraan), maupun dalam konteks international masih sangat awam dikalangan masyarakat.

Demikian, sebagaimana penjelasan Ketua PCNU Kabupaten Natuna, KH. Amir kepada penulis.   Dalam obrolan singkatnya, beliau menceritakan  kondisi perkembangan NU di dalam masyarakat dan juga status organisasi NU cabang Natuna ini.  Mas jangan menganggap bahwa menjadi ketua NU di sini sepertihalnya di jawa, yang dipandang terhormat dan mampu menggerakan masyarakat mengadakan kegiatan kegiatan ke-Nu-an, karena di sini masih terkesan formalitas saja.  Tutur beliau kepada penulis.  Maksudnya, beliau menyatakan bahwa keberadaan Organisasi NU di Natuna itu seperti sebuah slogan yang berbunyi wujuduhu ka adamihi, adanya seperti tidak ada. Karena, sebagaimana tukas beliau, masyarakat Natuna hanya mengenal NU sebatas ormas di jawa sana, tidak lebih. mereka hanya tahu bahwa ketua NU cabang Natuna adalah Bapak Amir, sementara mereka tidak mengetahui tugas dan perannya sebagai ketua NU.  Dan mereka juga tidak mengenal apa tugas, peran bahkan misi dari jam’iyyah Nahdhatul Ulama.

Kendati demikian, praktek ibadah, tradisi dan budaya  serta pemahaman keagamaan yang berkembang ditengah-tengah masyarakat Natuna bisa dikatakan memiliki kesamaan dengan NU. Adanya tahlilan, kenduri, merayakan haul bagi seorang yang meninggal dan lain sebagainya telah mengakar lama sejak Islam masuk ke daerah pulau tujuh ini. Namun, mereka tidak mau disebut NU, atau Muhammadiyyah atau organisasi apapun. mereka lebih memilih disebut masyarakat Islam Melayu. Hal ini sebagaimana penulis dengar dari orang-orang  pribumi, ketika saya berbincang dengan mereka.

Memang tidak wajib ain, menyatakan dan menamakan secara formal bahwa tradisi yang selama ini dipertahankan atau praktek ibadah yang sudah dijalankan harus ada stempel ala NU. Namun penulis menilai, bahwa pemikiran, manhaj dan  gerakan jihadiyyah  ala ulama Nahdhatil Ulama sekarang ini harus ditanamkan dan  ditumbuh kembangkan serta dibumikan di seluruh saentoro, termasuk Natuna agar terwujud islam yang rahmatan lil alamien.
Hal ini penting, jika melihat dinamika perkembangan aliran keagamaan yang terus melaju dan telah memasuki daerah daerah. seperti ideologi takfiri dan slogan bid’ah yang dibawa oleh pengikut salafi dan semacamnya.

Di Natuna sendiri, belum lama kelompok ini masuk menyebarkan dakwahnya. Dakwah mereka pada awalnya di masjid sebagai pendatang, namun lambat laut mereka melakukan sebuah misi-yang jika boleh disebut-  “penjajahan” masjid. Masjid Nurul Falah misalnya, yakni sebuah masjid yang terletak di pinggir pantai kota Ranai itu awalnya adalah masjid pusat Muhamadiyyah. Namun ketika kelompok salafi datang-singkat cerita-, kini masjid menjadi milik kelompok wahabi itu. Dan mereka mulai mengepakkan sayap dakwahnya.
Sebagaimana dinyatakan dalam beragam riwayat dan pendapat para tokoh  bahwa aliran wahabi, ajarannya banyak yang menyimpang dari al-Qur’an dan sunnah sendiri, kendati mereka menyatakan dan berslogan untuk kembali kepada al-Qur’an dan al-Hgadits,  termasuk juga Ijma’ kaum Muslimin. bahkan dapat dibilang, dalam banyak hal mereka telah keluar dari Islam itu sendiri ( Tim Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Risalah Ahlussunnah wal-Jamaah, ). Akibatnya mereka sering melakukan protes terhadap umat Islam sekitarnya, yang jelas berbeda dengan dirinya. Mereka menuduh orang-orang yang berbeda dengan mereka itu sebagai ahli Bid’ah, kafir dan seterusnya. Dengan demikian sikap eksklusif mereka inilah yang pada akhirnya memicu perselisihan, persinggungan dan sikap saling mengkafirkan di antara umat Islam sendiri. sehingga pada akhirnya Islam bukan menjadi Rahmatan lil alamien, melainkan fitnatan lil alamien.

Melihat gambaran di atas, penulis menilai bahwa konsep islam rahmatan lil alamin yang dikemas dalam pemikiran jam’iyyah Nahdhatul Ulama hendaknya menjadi acuan setiap elemen yang ada. Sehingga perbedaan yang menimbulkan persinggungan antar aliran tetap bisa disikapi dengan dingin dan proporsional.

Selain dari pada itu, penanaman pemikiran manhaj dan ajaran ala Ulama Nahdhatil Ulama melalui tekhnologi dan komunikasi kiranya mendapat tempat yang cukup strategis, termasuk di daerah Natuna, melalui televisi misalnya.
Karena, jika melihat kondisi di sini, tempat penulis mengabdi hampir seluruh masyarakat Natuna menggunakan tv dengan para bola yang terconnect banyak chennel tv.  Maka sudah seharusnya Aswaja tv mengambil peran penting ini dalam penyebaran dakwahnya. Kegiatan yang disiarkan juga lebih kepada pengenalan dan penanaman ajaran serta manhaj NU secara terstruktur.

Jika Nu yang memiliki tv Aswaja tidak cukup mengambil posisi dalam menyiarkan bentuk-bentuk acara semacam itu, maka dakwah-dakwah dan pemikiran keagamaan dari kelompok seperti salafi-wahabi, yang sedikit demi sedikit bid’ah atau bahkan kafir dan lain sebagainya akan lebih didengar oleh masyarakat. Sehingga NU baik sebagai jama’atan wa jam’iyyatan atau secara kuantitas dan kualitas sulit untuk berkembang.
Oleh karenanya, melalui dua langkah tersebut, yakni pengenalan NU secara formal dan subtansial di tengah masyarakat serta cara dakwah yang dinamis (Tathawwuriyah) dan progresif, masa depan NU, khususnya di pulau Natuna ini bisa terus eksis, bahkan berkembang baik secara kuantitas maupun kualitas.

Natuna, 10 juli 2017

Share and Enjoy

    Komentar

    comments