Menghafal Al-Qur’an dengan metode Hipnoterapi

Hari ini ribuan manusia datang untuk menyaksikan kedatangan Dr. Yahya bin Abdurrazak Ghautani seorang guru besar masjidil haram Mekah, untuk mengisi “Seminar Menghafal al-Qur’an Metode Hipnoterapi” yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Depok.

Ini merupakan acara pertama kali yang mendatangkan langsung dari Mekah dalam upaya memotivasi agar masyarakat bersemangat dalam membumikan Al-Qur’an. Beliau mengatakan ” lihat saya akan mengatakan susah”, dengan raut wajah yang sangat tidak enak dilihat. Kata tersebut sangat jelek diucapkan, imbuh beliau lalu melanjutkan dengan menanyakan kepada para hadirin”apa bahasa Jawanya susah?” Angel, riuh hadirin spontan para hadirin ketawa bersama dengan melihat Dr. Yahya bin Abdurrazak aughatani menirukan hadirin dengan mengatakan, “angel”.

Dr. Yahya bin Abdurrazak Ghautani lalu menjelaskan ” kata itu sering kita dengar dari sebagian orang untuk memulai menghafal maka buang jauh-jauh, lihat saya akan mengatakan, “bisa”. Dengan wajah yang senyum dan ceria, beliau memaparkan bahwa untuk mengatakan kata tersebut saja sangat Enak dilihat dan senang. Lalu beliau kembali mengajak bersama para hadirin dengan mengatakan “bisa” dengan tegas dan serentak.

Bisa apa? ” ujar Dr. Yahya bin Abdurrazak Ghautani, kembali para hadirin riuh ketawa serentak. Beliau bercerita bahwa ada seorang anak penggembala sapi yang ingin hafal al-Qur’an namun tidak bisa membaca dan menulis, akhirnya ia diberi kaset murottal dan ia mendengarkannya setiap satu ayat berhenti lalu dihafalkannya terus menerus ia mampu menghafal sampai tuntas seluruh Al-qur’an.

Pada acara tersebut para hadirin oleh beliau secara perlahan-lahan terlihat antusias, hadirin dalam menyimak pemaparan dengan serius namun seolah tidak merasakan tanpa beban, sebab beliau membawakannya dengan penuh rasa tulus dengan diiringi guyonan sesekali namun tanpa menghilangkan isi materi yang dibawakannya.

Setelah itu beliau memberikan metodenya dengan menghimbau para hadirin agar mencari pasangan-pasangan sendiri untuk mempraktekkan cara-cara metode yang akan dibimbing langsung oleh Dr. Yahya bin Abdurazzak Ghautani. Pertama beliau menjelaskan ketika awal melihat ayat dalam al qur’an harus dengan menarik nafas, kedua ia membaca dengan keras ayat yang dilihat dan keluarkan nafas secara bersamaan.

Ketiga, dilakukan terus menerus sampai ia benar-benar hafal. Kemudian beliau memberi tantangan kepada para hadirin agar membaca al-fatihah dengan satu nafas, yang dengan satu pasangan meneriakkan “bisa-bisa” yang dituju untuk pasangan yang ingin membaca al-fatihah namun tidak bersuara alias hanya didalam hati. Sedang pasangan satu lagi membaca Al-Fatihah dengan menetapkan “saya bisa” , dan dilanjutkan membaca Al-Fatihah dengan satu nafas diakhirkan sama-sama bersalaman mengucapkan “Selamat”.

Seluruh hadirin pun mempraktekkannya apa yang dihimbau oleh Dr. Yahya bin Abdurrazak Ghautani, dan beliau bertanya dengan para hadirin”bagaimana, bisa?”, jawab hadirin dengan kompak dan serentak “bisa”. “Lakukan itu terus menerus sampai tuntas menghabiskan satu Al-Qur’an, tahun besok saya akan kesini untuk mengecek hasilnya” ujar Dr. Yahya bin Abdurrazak Ghautani. Membuat gerr para hadirin pada waktu itu.

Acara itu diakhiri dengan sesi Tanya jawab serta doa penutup yang dipimpin oleh syaikh Samman al-hasanain Al-Azhar Cairo, Mesir.

Share and Enjoy

    Komentar

    comments