Meraih Kemurnian Ibadah

Oleh: Zakiyal Fikri Muchammad

Sebagai seorang hamba, kita tentu tidak terlepas dengan pelbagai kewajiban agama yang diperintahkan oleh sang Khaliq, Allah SWT. Sehingga segala ibadah, mulai dari Shalat, zakat, sedekah, haji sampai menyingkirkan duri di tengah jalan, mesti dijalankan karena memang itu simbol ketaatan kita kepada sang ma’bud. Baik dalam keadaan dan dimana pun berada. Semuanya adalah perintah Allah yang mesti dijalankan. Namun, perlu diketahui bahwa inti sari dari semua ibadah ini adalah bukan pada saat ia telah dikerjakan, akan tetapi lebih pada kualitas dan murninya ibadah tersebut.

Dengan kata lain, sebanyak apapun ibadah yang kita lakukan, namun ternyata cacat, maka tentu kita tak akan mendapatkan apa-apa darinya. Ini tentu merupakan sebuah kerugian yang besar. Padahal, amal atau ibadah kita adalah sebagai pertimbangan bagi Allah (bukan penentu mutlak) untuk memutuskan selamat atau tidaknya kita di dunia dan di akhirat. Bila amal kita cacat atau tak memenuhi syarat, lalu bagaimana kita kita akan mengharapkan keselamatan itu?. Oleh karena itu, perlu kiranya kita memahami kembali perkara yang bisa menjadikan ibadah itu jernih alias berkualitas sehingga diterima di sisi Allah. Dan diantara perkara tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, niat yang baik. Ya, semua ibadah tentu tak lepas dari niat. Niat tidak hanya berfungsi untuk membedakan status ibadah satu dengan lainnya, melainkan juga sebagi penentu keabsahan dan jernihnya ibadah itu sendiri. Jika niatnya benar, maka ibadahnya diterima. Namun jika niatnya, salah, maka sia-sialah ibadah tersebut. Berkaitan dengan ini, Nabi bersabda:
“banyak amal akhirat namun berubah menjadi amal dunia, disebabkan buruknya niat. Begitu pun sebaliknya, banyak amal dunia namun bisa berubah menjadi amal akhirat karena bagusnya niat.” Bila demikian, lalu niat yang seperti apa yang dinilai baik?. Niat yang baik adalah kita niat beribadah karena mencari ridho Allah, melestarikan Syariat Islam, bukan niat ingin dipuji atau memperoleh kedudukan di mata manusia.

Kedua, tunaikan syarat dan rukunnya. Ya, dua hal ini adalah satu unsur mutlak yang harus dipenuhi dalam melakukan suatu ibadah. Karena sahnya ibadah tergantung dengan ditunaikan atau tidaknya rukun dan syarat-syaratnya. Bila dalam shalat, rukun ditunjukkan dengan berwudhu, membaca al-Fatihah dan lain sebagainya, sementara sunahnya ditunjukkan pada status pelakunya yang harus Islam, suci dari najis dan tidak gila, maka ketika salah atau dari ini semua alpa atau sama sekali tidak dipenuhi, maka secara otomatis shalat tersebut tidak sah. Begitu juga dengan ibadah-ibadah lainnya, yang juga sarat akan kedua unsur tersebut. Alhasil, dipenuhinya rukun dan syarat, juga sebenarnya penentu jernihnya suatu amalan ibadah. Karena bagaimana pun juga, sahnya ibadah juga bagian dari jernihnya ibadah itu sendiri.

Ketiga, jangan menghitung-hitung amal yang sudah kita kerjakan. Hal ini penting, sebab ketika kita mengungkit-ungkit dan menghitungnya kembali, kita akan meresa bangga, tenang bahkan sampai mencukupkan diri. Dan pada akhirnya, kita akan merasa paling sempurna, paling baik dan lain sebaginya. Sehingga saat itulah, kita telah terbelenggu oleh sifat riya dan takabur, suatu benalu hati yang sangat berbahaya karena bisa memusnahkan amal kita tanpa menyisakan bekas. Na’udzubillah.

Keempat, berdoa kepada Allah supaya ibadah kita diterima. Ya, bagaimana pun juga, segala amal yang menentukan diterima atau tidaknya, baik buruknya adalah Allah. Maka sudah sepantasnya kita mesti berdoa supaya amal kita diterima, menjadi amal shaleh, dan yang akan menjadi wasilah kelak untuk masuk surga-Nya. Dan salah satu doa yang barangkali pas untuk hal ini adalah doa ma’sturt dari Nabi yakni:
اللهم اعني على ذكرك و شكرك و حسن عبادتك
“Ya Allah , tolonglah Aku untuk selalu bisa menyebutMu, bersyukur kepada Mu. dan bisa memperbagus ibadah kepada Mu.”.
Demikianlah beberapa hal atau kiat-kiat dalam meraih kejernihan ibadah yang kita lakukan. Semoga bermanfaat. []

Kendari, 21 Juli 2017

Share and Enjoy

Komentar

comments