MERASA BERSALAH? BERTAUBATLAH!

                Depok, WALISONGOONLINE – Taubat dari segi bahasa terambil dari kata Taba yang berarti kembali. Manusia diciptakan Allah dalam keadaan suci, bersih dari dosa, sehingga ia dekat dengan Allah, tetapi jika ia melanggar perintah-Nya, maka ia menjauh dari Allah dan Allah pun menjauh darinya.

        Sesaat setelah Nabi Adam as. dan istrinya berada di surga, Allah mempersilahkan mereka menempati dan menikmati apapun yang ada di surga dengan firman-Nya: “Hai Adam, tinggallah dengan tenang engkau dan pasanganmu di surga makanlah kalian berdua apa yang kalian kehendaki, tapi jangan dekati pohon ini karena itu akan mengakibatkan kalian berdua termasuk kelompok makhluk yang aniaya.” (QS. al-A’rof [7]: 19)

        Allah SWT juga mengingatkan Nabi Adam dan Siti Hawa bahwa setan adalah musuh yang nyata bagi mereka berdua sebagaimana Yang Mahakuasa itu berpesan juga agar jangan sampai mereka tergoda oleh setan sehingga ia menjadi sebab keluarnya mereka berdua dari surga dan itu pada gilirannya akan menyebabkan bagi sang suami kesulitan (lihat QS. Thaha [20]: 117). Kesulitan tersebut, antara lain apa yang dialami di dunia, yakni kewajiban suami untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan yang kesemuanya tersedia di surga yang dihuni Adam dan pasangannya itu. Tapi, iblis dengan kelihaiannya mampu memperdaya sehingga keduanya mencicipi (buah) pohon terlarang itu. Akibat pelanggaran ini, ketika itu juga mereka berdua menjauh dari Allah dan Allah pun menjauh dari mereka. Bandingkanlah firman Allah ketika memperingatkan mereka tentang pohon terlarang sebelum dan sesudah mereka mencicipinya. Sebelum mencicipinya Allah menunjuk ke pohon dengan kata ini, akan tetapi setelah mereka melanggar pohon terlarang ditunjuk dengan kata itu (QS. al-A’Raf [7]: 22):

        Tuhan mereka berdua berseru/meneriaki mereka berdua bahwa: “Bukankah aku telah melarang kalian berdua mendekati pohon itu dan aku telah menyampaikan kepada kalian berdua bahwa setan merupakan musuh yang nyata bagi kalian berdua?”.

        Camkanlah! Mengapa setelah Adam dan pasangannya melakukan kesalahan, Allah berseru kepada mereka dan mengapa ketika itu Allah tidak menunjuk pohon dengan isyarat tingkat (kata ini), tetapi dengan isyarat jauh yakni kata itu? hal tersebut menunjukkan bahwa setelah manusia berdosa kepada Allah menjauh dari posisi-Nya yang tadinya dekat kepada manusia dan manusia pun menjauh dari Allah SWT.

        Nah, kalau ia menyesali perbuatannya dan menunjukkan tekadnya untuk kembali ke posisi semula, maka ketika ia dinamai bertaubat, yakni kembali, dan Allah pun kembali (تاب) ke posisi semula dan menjadi dekat lagi dengan yang bertaubat itu. Demikian terlihat bahwa Allah kembali atau Taba dalam istilah QS. Al-Baqarah [2]: 37 dan thaha [20]: 122. Harus diingat bahwa tidak sama substantif taba-nya (kembalinya) Allah dan taba-nya manusia. Gabungan atau bisa dikatakan syarat taubat bagi manusia itu ada 3, apabila salah satu tidak terlaksana, maka batallah proses taubat itu, 3 hal tersebut : (1) Meninggalkan maksiat seketika itu juga. (2) menyesali karena telah melakukan maksiat itu. (3) bertekad kuat untuk tidak mengulangi kesalahannya kembali (Lihat Riyadhus Sholihin)

        Rasul menyampaikan sebuah Hadits Qudsy dimana Allah berfirman:

إذا تقرب العبد إلي شبرًا تقربت إليه ذراعًا، و إذا تقرب إلي ذراعًا تقربت منه باعًا، و إذا أتاني يمشي أتيته هرولة

        Kalau seorang hamba mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepada-nya sehasta dan kalau ia mendekat sehasta, Aku akan mendekat sedepa. Siapa yang datang kepada-Ku dengan berjalan, Akan datang kepadanya berlari (HR. Bukhori)

        Bahkan dapat dikatakan bahwa Allah lebih dahulu melangkah untuk mengajak hamba-Nya bertobat sebelum sang hamba melangkah. Dalam konteks pertobatan Nabi Adam as. Allah lebih dahulu Melangkah dengan mengilhami nya kalimat-kalimat tertentu, lalu kalimat-kalimat itu diucapkan Nabi Adam dan pasangannya, yaitu: Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami, Jika engkau tidak mengampuni kami, pastilah kami termasuk orang-orang yang amat merugi (QS. Al-A’Raf [7]: 23).

        Sebagai dampak pengucapan tulus kalimat-kalimat yang diajarkan Allah itu, Allah menerima taubat mereka sebagaimana dijelaskan oleh QS. Al-Baqarah [2]: 37. Jadi, Allah lebih dahulu Melangkah dengan mengajarkan Adam dan istri beliau, lalu mereka berdua memohon ampun dengan membaca apa yang diajarkan-Nya dan terakhir Allah menerima taubat mereka.

       Untuk kita sebagai putra-putri Adam, ucapan itupun dapat kita ucapkan dengan tulus saat bertaubat. Di sisi lain dapat dikatakan bahwa Allah mengajak kita untuk bertaubat melalui apa yang diperlihatkannya kepada kita tentang nasib buruk yang di alami oleh para pendirian. Apa yang kita lihat/ketahui itu merupakan “ajakan” Allah kepada kita untuk bertaubat sehingga tidak mengalami hal serupa.

Apa yang dikemukakan di atas menunjukkan bahwa Allah sangat senang dengan taubat seseorang. Salah satu dari sifat manusia yang ditegaskan oleh Allah di dalam Al Qur’an yang di sukai Allah adalah para pentaubat: sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang selalu menyucikan diri (QS. Al-Baqarah [2]: 222)

Rasulullah mengilustrasikan kesenangan tersebut dengan sabda beliau:

اللّٰه أشد فرحا بتوبة عبده حين يتوب إليه من أحدكم كان على راحلته بأرض فلاة، فانفلتت منه وعليها طعامه و شرابه فأيس منها ، فأتى شجرة فاضطجع في ظلها، وقد أيس من راحلته ، فبينما هو كذلك إذ هو بها قائمة عنده ، فأخذ بخطامها ثم قال من شدة الفرح: اللهم أنت عبدي وأنا ربك أخطأ من شدة الفرح

        Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya saat ia bertaubat daripada kegembiraan salah seorang diantara kalian yang menunggangi kendaraannya di satu wilayah kosong (Padang pasir) lalu tunggangan itu pergi menjauhinya, padahal di tunggangannya itu ada makanan dan minumannya. Ia mencari hingga putus asa, lalu ia menuju sebuah pohon untuk berteduh dalam keadaan putus asa dari kehadiran tunggangannya, tetapi ketika ia sedang dalam keadaan tersebut, tiba-tiba tunggangannya berdiri di hadapannya, maka ia memegang kendalinya lalu berucap: “ya Allah , engkau adalah Hambaku dan aku adalah tuhanmu,” ia salah berucap akibat besarnya kegembiraannya (HR. Muslim)

       Kegembiraan Allah dengan taubat seseorang tercermin juga dalam aneka nama-Nya yang mengandung makna keberulangan pengampunan-Nya, misal Ghafur, Ghaffar, Tawwab, Afuww, sampai-sampai menurut Rasulullah Saw.:

والذي نفسي بيده لو لم تذنبوا لذهب الله بكم ولجاء بقوم غيركم يذنبون فيستغفرون الله فيغفرلهم

        Demi Allah yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya. Seandainya kalian tidak berdosa , niscaya Allah memusnahkan kalian dan mengganti dengan makhluk lain yang berdosa lalu mereka beristighfar memohon ampun, lalu Allah mengampuni mereka (HR. Muslim)

Demikian, wa Allahu a’lam

Share and Enjoy

    Komentar

    comments