Mewaspadai Benturan Anak Negeri

اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِىْ جَعَلَ الْاِسْلَامَ طَرِيْقًا سَوِيًّا، وَوَعَدَ لِلْمُتَمَسِّكِيْنَ بِهِ وَيَنْهَوْنَ الْفَسَادَ مَكَانًا عَلِيًّا. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِىْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Marilah kita tingkatkan kwalitas ketaqwaan kita dengan menjalankan berbagai perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya

Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah

Hari ini rasa kebersamaan bangsa kita, sedang duji dengan benih-benih benturan antar anak bangsa.

Dalam konsep fiqih rasa kebersamaan ini dituangkan dalam teori maslahah ammah. Artinya bahwa kepentingan bersama dan kebutuhan khalayak harus diutamakan di atas segala macam kepentingan baik individu maupun golongan. Sehingga terciptalah tatanan kehidupan yang kondusif. Sebagaimana termaktub dalam surat al-Anbiya’ bahwasannya perwujudan syariah yang diwahyukan kepada Rasulullah saw merupakan rahmat bagi alam semesta.

وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين

     “Kami mengutus Anda hanya bertujuan memberi rahmat bagi alam semesta”. (QS. Al-Anbiya’: 107) 

Dalam konteks rahmatan lil alamin ini, terdapat tiga macam persaudaraan (ukhuwwah). Pertama, ukhuwwah Islamiyyah artinya persaudaraan yang tumbuh dan berkembang atas dasar keagamaan (Islam), baik dalam skala lokal, nasional maupun internasional. Ukhuwah islamiyah dapat terwujud jika sesama umat Islam saling menghormati. Perbedaan tidak boleh mengantarkan kepada perpecahan. Bukankah احتلاف امة رحمة  perbedaan dikalangan umat adalah rahmat sedangkan واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا berpegang teguhlah pada tali (Agama) Allah dan janganlah bercerai berai. Artinya perbedaan adalah rahmat sedangkan perpecahan adalah laknat. Pertanyaan yang perlu diajukan adalah mau kemana anda bukan dari mana anda. Darimanapun asal kelompok anda, ormas anda, parpol anda, Tujuan kita adalah sama yaitu lailahaillallah muhammad rusulullah.

Kedua, ukhwuwah wathaniyyah artinya persaudaraan yang tumbuh dan berkembang atas dasar kebangsaan. Ketiga, ukhuwwah basyariyyah, artinya persaudaraan yang tumbuh dan berkembang atas dasar kemanusiaan. Ketiga macam ukhuwwah ini harus diwujudkan secara berimbang menurut porsinya masing-masing. Satu dengan lainnya tidak boleh dipertentangkan sebab hanya melalui tiga dimensi ukhuwah inilah, rahmatan Lil ‘alamin akan terealisasi. Oleh karena itu rasa kebersamaan yang didasarkan pada keagamaan kebangsaan dan kemanusiaan ini tidak boleh dirobek oleh kepentingan apapun juga.

Jama’ah Jum’ah yang Berbahagia

Sebagai rahmat bagi seluruh alam, Islam mengajarkan kita untuk mengajak orang dengan cara cara yang baik.

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ

  1. serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang terbaik.

Dalam ayat lain disebutkan:

فَقُولا لَهُ قَوْلا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى [ طه/ 44]

“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia menjadi sadar atau takut”.Qs Thaha: 44

Ibnu Katsir –rahimahullah– ketika mengomentari ayat ini berkata: “Ada pelajaran sangat berharga yang dapat dipetik dari padanya, yaitu bahwa Fir’aun yang terkenal keangkuhan dan arogansinya, sementara Nabi Musa –alaihissalam– sebaik-baik manusia pilihan Allah saat itu, namun demikian Allah memerintahkannya untuk tidak berbicara dengan Fir’aun kecuali dengan perkataan yang santun dan lemah lembut. Di tengah al-Qur’an pun,  sudah terang benderang disebutkan walyatalathof, hendaklah bersikap lemah lembut.

Hadirin Rahimakumullah

kita dilarang menghujat, membully maupun menghina ‎siapa pun yang berbeda pandangan dengan kita. Bahkan ‎Kepada setan, kita diperintahkan oleh Allah untuk meminta ‎perlindungan darinya, tanpa harus mengutuk, menghina ‎dan mencaci maki setan. Kata Rasul: ‎

لَا تَسُبُّوا الشَّيْطَانَ، وَتُعَوِّذُوْا بِاللهِ مِنْ شَرِّهِ

Artinya: Jangan kalian mencaci maki setan. Mintalah perlindungan Allah dari keburukannya.

Kata-kata cacian tidak akan membuat simpati orang, justru hanya menanamkan rasa dendam di hati dan membuat orang yang berseberangan semakin nekad dan keras kepala.

 وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.

Sekarang sudah banyak terjadi di media sosial, kata-kata umpatan, makian, ataupun gambar-gambar yang direkayasa. Karakter bangsa yang dulu ramah sekarang mulai tercerabut dari akarnya. Sikap semacam ini tentu bukan karakter asli bangsa Indonesia, apalagi karakter orang beragama. Kita kadang latah menyebarkan berita tinggal copi paste tanpa klarifikasi atau tabayyun.

Maka, tidak selayaknya seorang muslim menjadi bulan-bulanan korban media. Sebab sejatinya Islam telah memiliki panduan yang jelas dalam menyikapi berita. Sebagaimana dijelaskan Allah ta’ala dalam firman-Nya,

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ”.

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka Tabayyunlah (periksalah dengan teliti), agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum, tanpa mengetahui keadaannya, yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” QS. Al Hujurat (49): 6.

Dalam sejarah, kehadiran Islam sejak awal menunjukkan sikap-sikap yang merangkul, bukan memukul. Rasulullah mengawali dakwahnya di Makkah secara pelan-pelan: mulai dari keluarga, kawan-kawan terdekat, orang-orang tertindas seperti budak, dan seterusnya. Yang penting dicatat, tahapan demi tahapan dilalui tanpa paksaan, apalagi kekerasan.

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ Tidak ada paksaan dalam agama

Tanpa paksaan menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang toleran dan rahmah bukan agama yang marah-marah. Dengan demikian, tidak seharusnya hanya karena terpaku dengan hukum-hukum fikh, akhlak etika ditinggalkan. Bukan hanya fikih yang hanya hitam putih, tapi juga perlu fikih dakwah. Dakwah berarti mengajak bukan menghakimi. kita perlu meneriakkan Allahu Akbar tetapi juga perlu bersistighfar. Beragama bukan hanya lurus tetapi juga toleran.

أَحَبُّ الدِّيْنِ إِلَى اللهِ الْحَنِيْــفِيَّةُ السَّـمْحَةُ

“Agama yang paling dicintai Allah adalah agama yang hanîf (lurus) dan toleran.” [HR Bukhari]

Hadits tentang karakter agama yang alhanafiyah assamhah ini kian menopang argumentasi Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin). Islam tegak di atas pondasi iman akan Keesaan Tuhan (tauhid) yang kokoh, namun tetap lembut dalam pergaulan yang luas, menembus batas-batas suku, ras, warna kulit, status sosial, bangsa, dan lain-lain.

Akhirnya Marilah kita bela agama dan bangsa, namun, dengan cara-cara yang bijaksana. Semoga kita diberi petunjuk oleh Allah untuk tetap di jalanNya.

باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ والذِّكْرِ الحَكِيْمِ. إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ.

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَسُوْءَ اْلفِتَنَ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً . اللهم أصلح أحوالنا المسلمين فيِ انْدُونِيْسِيَّا .اللهم اجعل لنا من كل هم فرجاً، ومن كل ضيق مخرجاً، ومن كل بلاء عافية. يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ 

Share and Enjoy

    Komentar

    comments