ORANG YANG SOMBONG (kajian sohih muslim)

        Depok, WALISONGOONLINE – Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.”(HR. Muslim no. 91)

 

        Yang dimaksud dengan kata ‘la yadkhulul jannata/tidak akan masuk surga’ dalam hadits ini adalah:

        Yang pertama, bahwa seseorang tidak akan masuk surga sama sekali selamanya jika ia menghalalkan sifat sombong. Termasuk juga orang yang menghalalkan sesuatu yang diharamkan oleh Allah swt., baik dia ungkapkan secara lisan ataupun dalam hati. Misal dia mengatakan ‘ah, tidak apa-apa melakukan zina‘. Maka sikap sombong seperti ini yakni menentang suatu kebenaran yang ada di dalam al-Qur’an dan Hadits ataupun salah satunya menjadikan pelakunya tidak akan masuk surga sama sekali selamanya. Dan orang yang mati dalam keadaan seperti demikian itu diberlakukan sebagai seorang kafir. Tidak dimandikan, tidak dishalatkan dan tidak dikuburkan di pemakaman kaum muslimin.

        Dan sikap seperti itu munculnya dari penyakit yang mulai berkembang di masa sekarang. Apa itu? Sesuatu yang gak baik mulai dianggap kecil, dianggap biasa-biasa saja sehingga enteng untuk melakukan.

        Ishrar ‘alal khata’i khata’un/punya tekad untuk melakukan kesalahan adalah kesalahan. Bagaimana jika sampai melakukan? Dua kali!

        Hal ini sama dengan orang yang terus menerus melakukan dosa kecil (ishrar ‘ala ash-shaghair), maka dia dinilai sebagai pelaku dosa besar (min al-kabair). Bukan zina saja yang dianggap dosa besar, orang yang berterus-terusan menghina ulama-pun adalah pelaku dosa besar. Dan itu bagian dari takabbur (sombong).

        Apakah yang hendak kita sombongkan? Bukankah kita keluar dari perut ibu kita dalam keadaan telanjang (tanpa bawa apa-apa)? Semua orang melihat aurat kita. Tidak ada yang lahir dalam keadaan ber-jas. Lalu apa yang ingin kita sombongkan?

        Ketika kita shalat berjamaah lalu kemudian kita ruku’, dimanakah letak kepala kita? Baik presiden, gubernur atau siapa saja letaknya dekat dengan pantat orang yang ada di depan kita! Ini mengajarkan kepada kita kebersamaan dan kesetaraan bukan kesombongan.

        Yang kedua, bahwa orang yang sombong tidak akan masuk surga karena sifat sombong itu termasuk dosa besar. Ia tidak akan masuk surga kecuali sesudah transit di neraka terlebih dahulu untuk merasakan siksa dosa-dosa besar yang ia lakukan dengan kesombongannya ataupun sifat sombong itu sendiri. Artinya dia meninggal masih membawa iman. Kesombongannya belum sampai menentang hukum atau kebenaran Allah swt. Maka dia diberlakukan sebagai seorang muslim. Dimandikan, dishalatkan dan dikuburkan di pemakaman kaum muslimin.

        ‘Innallaha jamil/sesungguhnya Allah itu cantik’. Imam al-Qurthubi dan kebanyakan ulama mengatakan maknanya jelas (sharih). Ada sebagian ulama seperti al-Qusyairi yang mengartikan kata ‘jamil’ dengan ‘jalil/agung atau mulia’. Al-Khattabi mengartikan ‘dzan nuuri wal bahjati/dzat yang mempunyai cahaya dan keindahan’. Ketika kita melihat orang yang auranya bercahaya dan indah maka kita mengatakan ‘jamil’. Seperti halnya Nabi Yusuf as. yang sampai-sampai dikira seorang malaikat oleh mereka yang melihatnya kala itu saking indahnya wajah beliau (in hadza illa malakun karim).

        Itu adalah ciptaan-Nya, bagaimana dengan sang pencipta? Tidak akan bisa disamakan dengan apapun!

        Ada yang mengatakan maknanya adalah ‘jamilul af’ali bikum/memiliki perbuatan-perbuatan yang bagus untuk kamu’. Maka ketika kita diuji oleh Allah swt. jangan mengatakan ‘Allah jahat amat kepada saya’!

        “Ketahuilah, Allah itu udah kelewat amat baik ama kita,” kata Kiai Marwazie. Untung telinga kita tidak diletakkan di tempat hidung. Bayangkan andai keduanya tukar posisi? Pusing!

        Kemudian ada lagi yang mengartikannya ‘an-nadzru ilaik/selalu memperhatikan kamu’. Siapakah yang lebih memperhatikan kita? Allah atau orang lain terhadap kita? Allah! Allah senantiasa bersama hamba-Nya.

        Yang mendekat kepada-Nya, Ia pun datang lebih dekat. Yang gak mau mendekat, Ia pun tidak akan mendekat kepadanya. (Akan tetapi Ia akan selalu memperhatikan kita dan kelak akan diminta pertanggung jawaban setiap amal dan dosa -red).

        ‘Yuhibbul jamal/Dia suka yang indah-indah’. Dia suka kepada hamba-hamba-Nya yang memperindah diri (tajammul), bersolek dan menjauhi segala sifat-sifat yang buruk dan kotor.

        ‘Al-kibru batharul haqqi wa ghamtun nas’. Sombong itu ialah menolak (ad-daf’u) dan mengingkari (inkar) kebenaran dan menghina (ihanah) manusia’. Demikianlah orang yang sombong itu selalu menghina manusia. [Wallahu A’lam]

Share and Enjoy

Komentar

comments