PEMBOIKOTAN BANI HASYIM DAN KAUM MUSLIMIN

               Depok, WALISONGOONLINE –Sebelum ini kita telah mengisahkan tentang keislaman Hamzah dan Umar, dua pendekar Quraisy yang hebat dan berani. Saking beraninya, Umar mengetuk seluruh pintu para pembesar Quraisy berikut kepada wartawan penyebar berita (pers) untuk mengumumkan keislamannya. Lebih dari itu, ia telah menantang siapapun yang benci Islam untuk bergulat dengannya. Banyak yang memenuhi tantangan itu, sampai akhirnya Umar kewalahan menghadapi gerumbulan orang, ia pun duduk menghentikan pergulatannya. “Lihatlah, nanti kami akan menghabisi kalian ketika kami sudah mencapai jumlah tiga ratusan lebih,” demikianlah ucapan Umar al-Faruq (pembeda antara kebenaran dan kebatilan) seolah-olah telah mendapat ilham sebelum terjadinya perang badar yang mana tatkala itu peperangan dimenangkan oleh kaum muslimin dengan jumlah 313 melawan 1000 orang kafir Quraisy.

        “Islamnya Umar itu pertolongan (bagi umat Islam). Dan kepemimpinannya merupakan sebuah rahmat,” demikian ucap Abdullah bin Mas’ud.

        Dengan demikian apakah Islam akan menang, lalu kedudukan berhala-berhala dapat dipatahkan sebagai pusat ketuhanan seperti yang mereka duga, dan Makkahpun bersih dari kemusyrikan?

        Tidak! Belum tiba saatnya bagi Quraisy untuk tunduk dan menyerah. Mereka sekarang sedang dalam puncak kekuatiran bila seruan Muhammad ini akan tersebar di kalangan kabilah-kabilah Arab sesudah terlebih dulu tersebar di Makkah.

        Tinggal satu senjata lagi pada mereka sekarang yang sejak semula sudah menjadi pegangan dan kekuatan mereka, yaitu senjata propaganda.

        Tidak mungkin menangkap Muhammad dikarenakan adanya hukum kabilah yang akan membelanya. Maka mereka kumpulkanlah seluruh ketua kabilah untuk membuat sebuah perjanjian pemboikatan Bani Hasyim. Dengan harapan dengan dipulaukankannya (bahasa malaysia dari diboikot) Bani Hasyim, mereka  akan bersedia menyerahkan Nabi Muhammad saw. Serta ingin menanamkan kekhawatiran andai permintaan mereka ditolak, maka peperangan akan terjadi antara kabilah Bani Hasyim melawan kabilah lawan dan sekutunya.

        Perjanjian embargo itu menyatakan bahwa semua kabilah dilarang untuk melakukan pernikahan, jual beli, pertemanan, berkumpul dan memasuki rumah mereka. Termasuk berbicara dengan mereka, kecuali jika secara suka rela bersedia menyerahkan Muhammad untuk dibunuh. Bani Hasyim tidak melakukan itu, mereka memilih untuk bertahan sampai akhirnya di tahun yang ketiga perjanjian itupun dibatalkan.

        Perjanjian yang di tempel di dalam Kakbah tersebut dinamakam dengan Shahifah. Naskah ini -dalam satu riwayat- adalah buatan an-Nadr bin al-Harits. Yang pasti siapapun yang menulis itu, dia telah dilaknat oleh Nabi saw. sehingga lumpuh ia punya tangan.

        Tidak semua setuju dengan pemboikatan itu. Kasihan terhadap Bani Hasyim, maka ada sebahagian yang datang menolong dengan cara nyelundupin gandum. Dalam hal ini Hisyam bin Amr termasuk salah seorang dari kalangan Quraisy yang paling simpati kepada Muslimin. Tengah malam ia datang membawa unta yang sudah dimuati makanan atau gandum. Bilamana ia sudah sampai di depan celah gunung tempat Bani Hasyim, dilepaskannya tali untanya lalu dipacunya supaya terus masuk ke tempat mereka dalam celah itu dan memberikan apa yang ia bawa. Dan hal yang sama juga dilakukan oleh Hakim bin Hizam bin Khuwailid (ayah Khadijah).

        Demikianlah berlalu penyelundupan itu selama berbulan-bulan. Sampai akhirnya Abu Jahal curiga. “Alangkah kuatnya Bani Hasyim ini bertahan padahal telah diboikat,” ia pun melakukan penyelidikan sampai akhirnya tertangkaplah Hakim bin Hizam.

        Tengah malam, di tengah perjalanan Hakim tertangkap oleh Abu Jahal sedang membawa gandum ke tempat Bani Hasyim. “Mau dibawa ke gandum ini? Kamu mau membantu Bani Hasyim? Kamu tidak boleh melakukan ini! Kamu telah melanggar kesepakatan para kabilah!” tegas Abu Jahal.

        Melihat Hakim di gertak, Abul Bukhturi seorang yang juga bersimpati kepada Bani Hasyim tiba-tiba datang ke tempat itu.

        “Hei Abu Jahal, kamu gak bisa seenaknya dong main gertak. Gandum yang dibawanya ini adalah milik Khadijah. Jadi dia cuma ngembaliin,” balas Abul Bukhturi.

        “Aku gak mau tahu. Pokoknya ini tidak boleh. Kami sudah capek-capek memboikot. Ente malah enak-enakan ngasih terus,” tukas Abu Jahal sembari terus memaksa untuk mengambil gandum yang dibawa Hakim. Sempat wajah Abu Jahal dipukul oleh Abul Bukhturi hingga berdarah untuk menghentikan penghardikan itu. Namun tragedi itu tidak terlalu dibesarkan oleh Abu Jahal agar tidak terjadi peperangan antar kabilah yang sudah sepakat memboikot Bani Hasyim.

Zuhair Dan Kawan-kawannya Membatalkan Pemboikotan

        Merasa kesal melihat Muhammad dan sahabat-sahabatnya dianiaya demikian rupa, Hisyam bin Amr pergi menemui Zuhair bin Abi Umayyah (Banu Makhzum). Ibu Zuhair ini adalah Atikah bint Abdul Mutthalib (Banu Hasyim).

        Zuhair, kata Hisyam. “Kau sudi menikmati makanan, pakaian dan wanita-wanita, padahal, seperti kau ketahui, keluarga ibumu demikian rupa tidak boleh berhubungan dengan orang, berjual-beli, tidak boleh saling mengawinkan?”

        “Celaka engkau, Apa yang dapat aku perbuat bila hanya seorang diri? Sungguh, demi Allah! Andaikata bersamaku seorang lagi niscaya aku robek shahifah perjanjian tersebut”, jawab Zuhair.

“Engkau sudah mendapatkannya!”, kata Hisyam. “Siapa dia?”, tanya Zuhair. “Aku”, kata Hisyâm.

“Kalau begitu, carikan bagi kita orang ketiga”, jawab Zuhair lagi.

        Pendirian kedua orang itu kemudian disetujui juga oleh Mut’im bin Adi (Banu Naufal), Abul Bukhturi bin Hisyam dan Zam’ah bin al-Aswad (keduanya dari Asad). Kelima mereka lalu sepakat akan mengatasi persoalan piagam itu dan akan membatalkannya.

Zuhair berkata: “Akulah yang akan memulai dan orang pertama yang akan berbicara”.

        Ketika paginya, mereka pergi ke tempat perkumpulan. Zuhair datang dengan mengenakan pakaian kebesaran lalu mengelilingi Kakbah tujuh kali kemudian menghadap ke khalayak seraya berkata: “Wahai penduduk Mekkah! Apakah kita tega bisa menikmati makanan dan memakai pakaian sementara Bani Hasyim binasa; tidak ada yang sudi menjual kepada mereka dan tidak ada yang membeli dari mereka? Demi Allah! Aku tidak akan duduk hingga shahifah yang telah memutuskan rahim dan zalim ini dirobek!”.

        Abu Jahal yang berada di pojok masjid menyahut: “Demi Allah! Engkau telah berbohong! Jangan lakukan itu!”.

        Lalu Zam’ah bin al-Aswad dari sudut yang lain memotongnya: ”Demi Allah! justru engkaulah yang paling pembohong! Kami tidak pernah rela menulisnya ketika ditulis waktu itu”.

        Setelah itu, Abul Bukhturi dari sudut yang lagi menimpali: “Benar apa yang dikatakan Zam’ah ini, kami tidak pernah rela terhadap apa yang telah ditulis dan tidak pernah menyetujuinya”.

        Berikutnya, giliran al-Muth’im dari sudut yang berbeda yang menambahkan: “Mereka berdua ini memang benar dan sungguh orang yang mengatakan selain itulah yang berbohong. Kami berlepas diri kepada Allah dari shahifah tersebut dan apa yang ditulis didalamnya”.

        Hal ini juga diikuti oleh Hisyam bin Amr yang menimpali seperti itu pula dari sudut yang berbeda. Sehingga seakan-akan semua sudut dan semua orang telah sepakat bahwa shahifah itu harus dirobek dan Abu Jahal telah melakukan kebohongan. Sebuah taktik yang hebat.

        Abu Jahal -dengan kecerdasannya-kemudian berkata dengan kesal: ”Ini pasti sudah kalian rencanakan semalam!”.

        Saat itu Abu Thalib tengah duduk di sudut al-Masjid al-Haram. Dia mengatakan, “Aku telah diberitahu oleh keponakanku (Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam) tentang perihal shahifah tersebut bahwa Dia Allah Ta’ala telah mengirim rayap-rayap untuk memakan semua tulisan yang berisi pemutusan rahim dan kezaliman itu kecuali tulisan yang ada nama Allah Ta’ala di dalamnya.

        Abu Thâlib bahkan menyatakan: “Ini untuk membuktikan apakah dia (Muhammad) berbohong sehingga kami akan membiarkan kalian untuk menyelesaikan urusan dengannya (kalian boleh membunuhnya, tidak kami jaga). Demikian pula sebaliknya, jika dia benar maka kalian harus membatalkan pemutusan rahim dan kezaliman terhadap kami”.

Mereka berkata kepadanya: “Kalau begitu, engkau telah berlaku adil”.

        Setelah terjadi pembicaraan panjang antara mereka dan Abu Jahal, berdirilah al-Muth’im menuju shahifah untuk merobeknya. Ternyata dia menemukan rayap-rayap telah memakannya kecuali tulisan “bismikallah” (dengan namaMu ya Allah) dan tulisan yang ada nama Allah di dalamnya, rayap-rayap tersebut tidak memakannya.

        Lalu dengan sendirinya batallah shahifah tersebut sehingga Rasulullah saw., kaum muslimin bersama Bani Hasyim akhirnya dapat leluasa keluar dan melakukan aktivitas apapun dengan yang lain sebagaimana semula.

        Hal ini mengingatkan kita pada apa yang disampaikan oleh Presiden Bosnia kala diserang oleh Serbia tepatnya pada tahun 1992, “Kemenangan itu tidak ditentukan oleh kekuatan fisik tetapi siapa yang paling lama bertahan.” (RzaMuhammad)

Share and Enjoy

    Komentar

    comments