PENGERTIAN IMAN DAN AMAL MENURUT PARA ULAMA

                                        Depok, WALISONGOONLINE –Iman adalah pembenaran hati, sedangkan amal adalah penggunaan daya. Ini dua hal yang berbeda. Sementara ulama memahami iman sebagai gabungan dari keduanya.

                Pembahasan tentang persoalan ini telah terjadi sekian generasi yang lalu sejak masa kekhalifahan sayyidina Ali Karromallahu Wajhah, tapi berangsur-angsur mereda, seakan-akan semua telah puas dengan menyatakan bahwa hakikatiman adalah pembenaran hati, tapi kesempuraannya adalah dengan pengucapan tauhid dengan lidah, pengamalan ajarannya dengan anggota tubuh. Walau itu tidak menghalangi sekian banyak ulama atau cendikiawan menulis dalam aneka karya mereka persoalan ini namun tulisan tersebut tidak bergema luas dalam masyarakat Muslim.

                Akhir-akhir ini persoalan tentang hakikat iman muncul kembali dengan gaung yang besar setelah menyebar sikap keras dan pengkafiran yang dilakukan oleh sementar orang/kelompok yang mengatasnamakam Islam. Sikap itu tidak jarang mengakibatkan tumpahnya darahsekian banyak orang yang mestinya memperoleh perlindungan. Melihat gejala tesebut, lembaga tinggi islam yangdiakui orientasinya  diseluruh dunia islam menggelar Muktamar pada 8-9 Desember 2014 yang dihadiri sekiaan banyak ulama dan cendikiawan dari Timur dan Barat membahas persoalan kekerasandan teror dalam berbagai aspeknyaantara lain menyangkut hakikat Iman

                Pemimpin tertinggi Al-Azhar Syaikh Ahmad Thoyyib dalam makalahnya pada muktamar tersebut mengemukakan antara lain bahwa: madzhab Ahlus Sunnahh wa Al-Jamaah berkaitan dengan hakikat iman adalah pembenaran hati menyangkut (keesaan) Allah, (wujud) Malaikat, kitab suci (yang diberikan kepada Rasul tertentu), serta Rasul-rasul (yang diutus Allah) dan keniscayaan hari kemudian. Lebih lanjut Syaikh Al-Azhar itu menulis bahwa: adapun amal-amal seperti shalat, puasa, haji dan zakat, demikian juga keharusan melaksanakan amal-amal wajib lainnya atau keharusan meninggalkan kegiatan-kegiatan haram, maka itu sesuai dengan pendefinisian Nabi diatas bukanlah hakikat iman. Ini adalah syarat kesempurnaan iman yang memiliki peranan penting dalam bertambah atau berkurangnya iman dan dengan demikian seorang yang beriman tetap dinilai beriman, kendati ia melaksanakan kewajiban taat atau melakukan kedurhakaan dan perbuatan buruk. Demikian secara singkat uraian pemimpin tertinggi Al-Azhar itu

                Memang, hampir 30 kali al-Quran menyatakan: “Innalladzina Amanu Wa’amilussholihaat,” ِsesungguhnya orang-orang beriman dan beramal shaleh. Tapi, ini bkan berarti bahwa iman harus di sertai dengan amal karena huruf yang di terjemahkan dalam ayat-ayat itu dengan dan sekedar berfungsi menggabungkan dua hal yang berbeda, tanpa menjelaskan mana yang lebih dahulu dan mana yang kemudian. Demikian rumusan pakar-pakar bahasa.

Nah, jika demikian iman berbeda dengan amal. Dengan demikian, yang beriman tidak dapat dinilai kafir. Yang tidak shalat dan tidak berpuasa tetap dinilai muslim selama dia tidak mengingkari kewajiban tersebut. Ya, ia muslim, tetapi muslim yang durhaka. Kendati durhaka, ia tetap harus dilindungi hidupnya dan kalau wafat, ia berhak /wajib di shalati, di kubur di kuburan kaum Muslim.

                Cukup banyak ayat al-Quran yang dapat dijadikan dasar untuk menetapkan bahwa amal tidak termasuk bagian dari hakikat iman. Sekali lagi kesempurnaan iman atau buahnya  adalah amal saleh, namun yang tidak beramal saleh –selama telah beriman- maka ia tidak dapat dinilai kafir. Ada amalam-amalan yang di lakukan kaum muslim pada masa nabi saw. yang oleh al-Quran sendiri dinyatakan amat dibenci Allah, namun pelakunya tetap di panggil oleh Allah dengan panggilan: wahai orang-orang beriman. Perhatikan, misalnya firman-Nya:Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan, Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan (QS. ash-Shaf [61]: 2-3).

                Apapun maksud ayat di atas, namun penamaan yang di lakukan oleh mereka yang dibacakan ayat diatas disebut oleh Allah sangat dibenci. Namun demikian,Allah tidak menjadikan pelaku-pelakunya keluar dari keimanan, buktinya mereka masih di seru dengan “wahai orang-orang beriman”. Demikian, Wallahu A’lam [Y.I.M].

Share and Enjoy

    Komentar

    comments