Penyelewengan Paham keagamaan NU di Nuonline.com

Untitled-1

Depok 14/12- pada diskusi Keilmuan yang telah dilaksanakan pada malam Senin di Gedung Al-Hikam Qur’anic Centre  bersama ustadz hilmi,ustad sofi dan ustadz-ustadz lain membahas beberapa hal penting untuk perkembangan NU selanjutnya. Berangkat dari permasalahan yang ada pada NU baik dimasyarakat maupun di PBNU sendiri diskusi tersebut bertujuan agar NU yang tidak hanya sebuah organisasi tetapi juga sebuah jalan kehidupan dapat bersih kembali sesuai dengan awal pendirian NU oleh para ulama-ulama terdahulu.

Ustadz Hilmi menyampaikan, “Sekarang banyak sekali orang yang mengaku NU tetapi tidak faham tentang NU, bahkan diperparah dengan orang yang mengaku pengurus NU tetapi berusaha mengubah ajaran NU. Oleh sebab itu benar Menurut KH.Hasyim Muzadi usaha untuk mengNkan orang NU harus dilakukan”.

Bukti dari upaya mengubah ajaran NU yang dilakukan oleh pengurus NU tertulis didalam website NU online sendiri tentang  Faham Keagamaan . dalam Nuonline.com  dituliskan  “Nahdlatul ulama menganut paham Ahlussunah Wal Jama’ah, sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrim aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrim naqli (skripturalis). Karena itu sumber pemikiran bagi NU tidak hanya Al-Qur’an, Sunnah, tetapi juga menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik. Cara berpikir semacam itu dirujuk dari pemikir terdahulu, seperti Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi dalam bidang teologi. Kemudian dalam bidang fikih mengikuti empat madzhab; Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Sementara dalam bidang tasawuf, mengembangkan metode Al-Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi, yang mengintegrasikan antara tasawuf dengan syariat”.

Ustad hilmi menjelaskan satu persatu dari kesalahan-kesalah Paham keagamaan yang ditulis oleh Nuonline.com.  “Jika Paham keagamaan NU seperti yang tertulis didalam Nuonline.com  maka itu tidak lagi Paham Keagamaan NU karena tidak sesuai dengan Paham Keagamaan yang sudah dirancang oleh para pendiri NU. Pertama tentang penggunaan pola fikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrim aqli dengan ekstrim naqli. NU mengikuti Imam Abu Hasan al-Ash’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidzi tidak hanya dalam pola fikirnya saja tetapi hasil dari pemikiran beliau juga. Jika hanya yang di ikuti pola fikirnya saja apakah semua nahdiyyin dapat berfikir seperti pola fikirnya Imam Abu Hasan al-Ash’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidzi, Tentu saja tidak karena tidak semua orang NU biasa berfikir tetapi biasa beramal dan kwalitasakal  imam abu hasan al-asy’ari dan imam abu mansyur al maturidi dengan kita kan berbeda. Apakah bisa dipastikan dengan pola yang sama namun  alat befikirnya berbeda dapat  menghasilkan kualitas sama ”. dalam fiqih dan  tasawuf juga demikan.

Selanjutnya ustad hilmi melanjutkan “pedoman yang digunakan dari awal pendirian NU adalah Al-Qur’an, As-Sunnah, ijma’ dan kiyas telah dirubah ijma’ dan kiyas-nya diganti dengan kemampuan akal dan realitas empirik. Kalau ada yang mengatakan ijma’  dan kiyas itu prodak akal, itu bisa dikatakan betul tapi tidak hanya akal yang digunakan dalam ijma’ dan kiyas, melainkan menggunakan hati dan roh. Kalau ini dibiarkan (Al-Qur’an, as Sunnah, akal dan realitas empirik menjadi pedoman Nu –red) maka setiap orang Nu itu bisa ber ijtihad sendiri dan  Tidak ada ijma’ dan kiyas. Kyai hasyim asy’ari dalam risalah ahlissunah waljama’ah  mengatakan, umat tidak boleh  langsung kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah karena akan melahirkan kesesatan-kesesatan tersendiri/baru”.

Ustad hilmi memberikan contoh tentang penggunaan kemampuan akal dan realitas empirik “ketika kita menggunakan Al-Qur’an dan Sunnah dalam Akidah, kemudian menggunakan kemampuan akal dan realitas empirik untuk memahami  bahwa Allah SWT itu ada. Kemudian mencari tahu adanya Allah SWT seperti apa yang ada didalam keterangan Al-qur’an. Ketika mencari Allah SWT dan menemukan penjelasan, kemudian difahami dengan As-Sunnah terus beberapa kata tidak ketemu didalam As-Sunnah atau ada tetapi tidak memahami penjelasan dari hadist itu lalu langsung menggunakan dengan akal. Sedangkan akal sendiri biasanya hasil dari panca indera. Ketika  di Al-Qur’an mengatakan tangan Allah SWT maka dia akan berfikir bahwa tangan itu seperti apa yang dia lihat, apa lagi dilihat dengan realitas empirik yang menggambarkan tangan sesuai dengan keadaan yang dilihat. Kalau seandainya ini dibiarkan maka akan terjadi kesesatan”.

Ustad hilmi membandingkan jika menggunakan dengan ijma’. “ Sedangkan jika kita menggunakan ijma’ maka kita akan tahu bagamaina ulama terdahulu memahami Al-Qur’an itu seperti apa. Jangan sampai  pemahaman menyalahi substansi dari Al-Qur’an dan hadist-nya. Jadi dengan melihat kesepakatan ulama  melihat bahwa tangan Allah SWT itu adalah kekuasaan Allah SWT. Nah kesepakatan ulama seperti itu adalah pemahaman yang lebih selamat karena tidak akan bertentangan dengan ayat yang lain”.

Koreksi selanjutnya mengarah kepada kalimat “seperti abu hasan al asy’ari dan abu mansyur al-maturidi”. Ustad hilmi menjelaskan” penggunaan kata seperti berarti menandakan imam-imam yang lain juga bisa dipakai dan bisa diartikan bertauhidnya wahhabi dan bertauhidnya mu’tazilah bisa dipakai di NU”.

Kemudian lansung mengikuti 4 madzhab, itu salah dan bisa menjadi talfik. Ustad hilmi menjelaskan “ Dalam ilmu tasawwuf untuk dapat memahami Al-Qur’an adalah Akal, Hati dan Roh. Kita disyahadahkan oleh Allah SWT  itu di alam Roh. Kita bisa menjawabnya pertanyan Allah SWT ketika didalam alam roh.  Sehingga seharusnya janganlah diganti ijma’ dan kiyas karena keduanya itu menyangkut Akal, menyangkut Hati, dan menyangkut Roh”.

Share and Enjoy

    Komentar

    comments