RASA TAKUT

           

             Depok, WALISONGOONLINE – Rasa takut adalah keresahan masa depan. Ia lahir akibat dugaan akan terjadinya sesuatu yang buruk atau yang tidak disenangi. Lawan dari rasa takut adalah rasa aman. Bila rasa takut menyerang, maka tidur tidak dapat mampir, bahkan dorongan kebutuhan seperti makan, minum apalagi seks tidak akan muncul. Yang merasa aman dapat tidur nyenyak kendati ia lapar, sedang yang merasa takut tidak dapat tidur kendati ia kenyang. Karena itulah, salah satu nikmat Allah yang di sebut-Nya sebagai sebab keharusan manusia menyembah-Nya adalah “memberi pangan dan rasa aman (QS. Al-Quraisy [106] : 3)

             Rasa takut bermacam-macam. Seseorang dapat takut kepada Tuhan, bisa juga terhadap makhluk, misalnya binatang buas yang siap menyerang, bisa juga menghadapi suatu situasi yang pasti terjadi, seperti penuaan dan kematian. Bahkan situasi menakutkan yang belum tentu terjadi bisa juga menjadi sebab ketakutan. Memang, sebagian faktor yang menakutkan bisa benar-benar terjadi dan bisa juga tidak.

             Sekali lagi jika takut kepada Allah, mendekatlah. Nabi Musa as. ketika “bertemu” dengan Allah dan ditampakkan kepadanya kuasa Allah dengan menjadikan tongkat beliau ular, Nabi Musa takut dan berusaha menghindar. Allah menegurnya: Hai Musa! jangan takut, sesungguhnya tidaklah merasa takut di sisiku para rasul (yang aku utus). (QS. An-Naml [27]: 10)

             Pada ayat diatas Allah menggunakan kata yakhof yang dimaknai dengan takut. Tetapi ketika Al-Qur’an berbicara tentang orang-orang yang mengenal Allah melalui ciptaan-ciptaan-Nya dan tentu termasuk para Nabi dan Rasul, Al-Qur’an menyatakan : إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

             Penggalan ayat ini biasa diterjemahkan dengan yang takut kepada Allah tidak lain, kecuali para ulama/ilmuwan (QS. Fathir [35]: 28). Ayat ini menggunakan kata يخشى  yakhsya yang juga sering diterjemahkan dengan takut, namun rasa takut di sini bukan akibat menanti sesuatu yang meresahkan, tapi karena kekaguman yang luar biasa kepada-Nya yang mendorong untuk melangkah lebih dekat, tetapi merasa diri terlalu kecil sehingga “takut” mendekat padahal hati ingin mendekat dan mendekat. Dari sini dapat dimengerti Mengapa yang berdzikir mengingat Allah akan merasa damai dan tentram sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya: orang-orang beriman, dan tenang hati mereka karena berdzikir kepada Allah. Sungguh, berdzikir mengingat Allah menenangkan hati (QS. Ar-Ra’d [13]: 28).

             Atas dasar ini dapat dimengerti ungkapan yang menyatakan: Siapa yang takut kepada Allah (mendekat kepada-Nya), Allah akan menjadikan segala sesuatu takut kepada-Nya; sedang Siapa yang takut kepada selain Allah (tidak mendekat kepada-Nya) maka Allah menjadikan ia takut kepada segala sesuatu.

             Memang menurut Al-Qur’an sebelum yang berdzikir mencapai tingkat ketenangan itu, seseorang dapat mengalami rasa takut akibat mengenang dosa dan pelanggarannya, Tetapi beberapa saat kemudian ia akan merasakan ketenangan karena menyadari sifat pengampunan Allah serta kebijakan dan aneka kebajikannya. Ini telah diukir dalam QS. Az-Zumar [39]: 23 yang maknanya lebih kurang: Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik, yaitu firman-firman-Nya yang terhimpun dalam kitab Al-Qur’an yang serupa mutu ayat-ayatnya. Kesemuanya mencapai puncak kesempurnaan lagi berulang-ulang serta beraneka ragam keterangan-keterangan yang dipaparkannya. Kendati ia berulang-ulang, namun ia tidak membosankan pendengar dan pembacanya dan dampak yang dihasilkannya pun tidak luntur. Ini terbukti dengan merinding dan bergetarnya kulit orang-orang yang takut kepada Allah ketika mendengar ayat-ayat ancaman, namun kemudian setelah berlalu sekian lama, menjadi lunak, tenang, dan mantap kulit dan hati mereka lagi cenderung kepada Dzikrullah sehingga menerimanya dengan gembira dan penuh Sukacita. Itulah kitab suci yang memuat petunjuk Allah dan itu juga dampak-dampaknya dalam hati orang-orang beriman.

             Jika anda takut kepada binatang buas dan merasa tidak mampu menghadapinya, maka menghindarlah, karena binatang itu hampir dapat dipastikan akan membinasakan anda Padahal anda tidak mampu melawannya. Ini berbeda lagi dengan pelajar yang takut tidak lulus ujian atau siapapun yang takut basah karena hujan. Di sini yang takut tidak lulus hendaknya belajar dan yang takut basah hendaknya menyiapkan payung, karena belajar dan menyiapkan payung bukanlah sesuatu yang sulit dilakukan.

             Rasa takut bisa menyentuh setiap orang, hanya saja ada yang demikian khawatir sehingga memenuhi relung hatinya dan ada juga yang ketakutannya wajah sehingga menghadapinya dengan tenang. Di sisi lain apa yang dihadirkan bisa jadi terjadi dalam bentuk yang dahsyat/besar, bisa jadi juga ringan, bahkan bisa yang ditakuti itu tidak terjadi sama sekali. Di sisi lain, rasa takut juga bisa menjadi akibat sikap yang takut itu sendiri sebagaimana bisa akibat pihak lain.

             Menakuti sesuatu yang belum pasti terjadi hendaknya dihadapi dengan optimisme, yakni, jangan menanamkan pesimisme atau bersikeras menetapkan bahwa itu sudah pasti terjadi. Jika pesimisme menghampiri jiwa anda, maka ketakutan akan berganda, sekali sebelum terjadinya apa yang Anda takuti dan di kali kedua ketika kedatangan yang ditakuti itu. Optimisme adalah sikap yang tepat untuk diambil ketika menghadapi sesuatu yang ditakuti dari pihak lain. Memang, ketenangan hidup dapat diraih dengan optimisme atau paling sedikit menjauhkan pikiran yang meresahkan dari hal-hal yang belum terjadi.

            Adapun rasa takut akibat ulah kita, maka ini dapat dihindari dengan mawas diri dan berusaha sedapat mungkin mengelola sebab-sebab kehadiran rasa takut itu, Dalam bahasa agama, inilah yang dinamai bertakwa, yakni berhati-hati agar tidak terjerumus dalam suatu perbuatan yang mengundang siksa Allah di dunia dan di akhirat.

             Adapun rasa takut menghadapi sesuatu yang pasti, seperti penuaan dan dampak-dampaknya yang negatif, maka ini dihadapi dengan menanamkan dalam jiwa bahwa hal tersebut pasti terjadi, bukan hanya terhadap diri yang bersangkutan sendiri tetapi semua yang hidup juga. Siapa yang ingin hidup lama maka ia harus menerima dengan legowo risiko penuaan. Demikian juga yang takut mati, harus disadari bahwa kematian bukanlah ketiadaan karena wujud Manusia masih tetap eksis setelah kematiannya. Yang punah hanyalah wadah dirinya, yakni badannya. Dengan Kematian, manusia akan bertemu dengan Tuhan.

             Yang takut mati adalah mereka yang tidak memahami apa yang terjadi setelah kematian atau yang menduga bahwa kematian adalah akhir perjalanan hidup manusia. Di sisi lain, yang takut mati hendaknya menyadari bahwa kematian adalah risiko kehidupan. Bahkan mestinya kematian disambut dengan baik karena hanya itu jalan mencapai kesempurnaan perjalanan hidup manusia dan disana ada surga ada kenikmatannya jauh lebih besar daripada kenikmatan apapun yang dialami oleh siapa pun dalam kehidupan dunia ini, Demikian. Wallahu a’lam []

Share and Enjoy

    Komentar

    comments