RENUNGAN DI SAAT SENJA


Oleh: KH. Moch. Hilmi Ashiddiqi al-Aroky
Waktu senja ditandai dengan menguningnya sinar mentari dari ufuk barat. Sinar berwarna kuning di langit yang hangat namun tak menyengat menjadi isyarat menuanya waktu dunia. Pada saat itu catatan amalan dalam sehari penuh akan ditutup sebelum berganti dengan gelap dan sunyinya malam. Saat para malaikat bergantian giliran melaksanakan tugas menjaga di bumi. Saat para orang tua memperingatkan anak-anaknya dari bahaya makhluk tak kasat mata. Konon memang di saat senja menjelang petang makhluk dunia lain mulai berkeliaran. Sehingga tidak heran –baik dalam budaya Sunda, jawa maupun lainnya- zaman dahulu jika menjelang Maghrib tak kunjung pulang merupakan suatu pamali yang sangat ganjil. Oleh karena itu para ulama menganjurkan renungan sebagai evaluasi terhadap amal perbuatan selama sehari dengan zikir dan amal saleh serta tindakan yang bermanfaat. Umur yang menjadi modal amal saleh sepatutnya selalu dievaluasi tiap harinya.
Imam al-Ghazali menghimbau untuk segera berangkat ke masjid sebelum matahari terbenam. Menunggu waktu Maghrib dengan renungan zikir terutama tasbih dan istigfar. Sebab bertasbih dan beristigfar di saat senja sebelum matahari terbenam merupakan perintah langsung al-Quran (lihat QS al-Thur [20]: 130 dan QS Ghafir [40]: 55).
Keutamaan waktu sebelum terbenamnya matahari sejajar dengan keutamaan waktu sebelum matahari terbit. Ringkasnya bakda Subuh dan sebelum Maghrib memiliki keistimewaan tersendiri untuk diisi dengan zikir baik tasbih maupun istigfar. Perlu digarisbawahi waktu sebelum Maghrib lebih berat ketimbang bakda Subuh. Sebab saat itu banyak orang lalai karena lelah bekerja dan beraktivitas seharian.
Lazimnya dalam dunia tarekat, mursyid mengajak para murid berzikir di waktu sebelum Maghrib. Terutama dilakukan pada hari Jumat setelah Asar yang di kalangan Sâdah ʻAlawiyyîn (baca: habaib) disebut dengan Sâʻah Fathimiyyah (waktu munajat Sayyidah Fathimah). Waktu tersebut diyakini merupakan sebagai salah satu waktu mustajabah.
Secara khusus Imam al-Ghazali menganjurkan tasbih dan istigfar sebagai amalan di waktu senja. Imam al-Ghazali juga menambahkan amalan membaca empat surah yakni al-Syams, al-Lail, al-Falaq, dan al-Nas. Menurut Syaikh Nawawi dalam Marâqî al-ʻUbûdiyyah Syarh Bidâyah al-Hidâyah, orang yang membaca empat surah tersebut secara istikamah, maka akan diberi rezeki laksana hujan.

Adapun tasbih dan istigfar tidak ada redaksi yang mengikat untuk dibaca, baik itu tasbih semisal subhânallah al-ʻAdzhîm wa bi hamdih maupun redaksi istigfar tertentu. Hanya saja lebih dipilih istigfar yang memohonkan ampun bagi keseluruhan seperti:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرًا وَلِأَصْحَابِ الحُقُوْقِ الوَاجِبَةِ عَليَّ وَلِإِخْوَانِنَا وَلِمَشَايِخِنَا وَلِجَمِيْعِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ

Atau juga istigfar yang dikhususkan untuk taubat dari segala dosa kesalahan, semisal:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ مِنْ جَمِيْعِ المَعَاصِي وَالذُّنُوْبِ

Juga memohon ampun dari segala makruh yang dibenci oleh Allah swt baik secara lahir maupun batin yang diperbuat oleh ruh, akal dan jasad, seperti:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ مِنْ جَمِيْعِ مَا كَرِهَ اللهُ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا رُوْحًا وَعَقْلًا وَجَسَدًا

Di saat matahari terbenam hendaknya kita senantiasa beristigfar memohon ampun dari segala dosa yang telah diperbuat selama satu hari penuh. Saat azan terdengar maka menjawab setiap lantunan azan dan ditutup dengan doa berikut:

اللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ عِنْدَ إِقْبَالِ لَيْلِكَ وَإِدْبَارِ نَهَارِكَ وَحُضُوْرِ صَلَاتِكَ وَأَصْوَاتِ دُعَاتِكَ أَنْ تُؤْتِيَ مُحَمَّدًا الوَسِيْلَةَ وَالفَضِيْلَةَ وَالدَّرَجَةَ الرَّفِيْعَةَ وَابْعَثْهُ المَقَامَ المَحْمُوْدَ الَّذِيْ وَعَدْتَهُ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ المِيْعَادَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Ya Allah aku sangat memohon kepada-Mu saat malam datang, siang hilang, ketika hadir untuk shalat kepada-Mu serta menjawab seruan penyeru-Mu, mohon Engkau beri Nabi Muhammad saw wasilah (kedudukan di surga) dan derajat yang luhur. Bangkitkan beliau pada kedudukan terpuji yang Engkau janjikan. Sungguh Engkau tidak akan menyalahi janji wahai Dzat Maha Penyayang di antara para penyayang.

Doa terakhir ini merupakan permohonan bagi Rasulullah saw. Meskipun sebenarnya Rasulullah saw tidak butuh doa kita, ini merupakan bentuk wasilah (tawassul) kepada Kanjeng Nabi Muhammad saw. Orang yang tidak mau tawassul kepada beliau, berarti dia sombong. Merasa mampu mengenal langsung mengenal Allah swt. Padahal lewat beliau saw-lah kita bisa mengenal Allah swt. [AF]

Saduran bebas dari pengajian kitab Bidayah al-Hidayah karya Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali di masjid Al-Hikam Depok, 20 Agustus 2017.

Share and Enjoy

Komentar

comments