Tafsir “Qawwamuna ‘ala al-Nisa” Perspektif KH. Hasyim Muzadi (1)


Oleh: Makmun Rasyid

Depok, WALISONGOONLINE – “Laki-laki harus bertanggung jawab, hubungannya dalam seksual, keluarga dan laki-perempuan. Posisi laki-laki adalah “qawwamuna ‘ala al-Nisa” (menegakkan hak-hak wanita). Laki-laki (dalam ayat itu) bukan penguasa. Sebab lain hal, banyak laki-laki yang “nakal” (menyelewengkan makna sejatinya, menggeser dari “qawwamuna” menjadi “qoimuna”; dari “qawwamuna’ ala al-Nisa” menjadi “maliku al-Nisa”; dari “tanggung jawab” menjadi “penguasa”).

Akhirnya, yang dituntut laki-laki adalah KETAATAN. Padahal TANGGUNG JAWAB harus lebih dulu ada dari KETAATAN dan KETAATAN berjalan seiring dengan tingkat TANGGUNG JAWAB. Ketika tanggung jawab penuh maka ketaatan perempuan pun penuh. Sebaliknya, jika tanggung jawab laki-laki menurun, maka hak perempuan mempertanyakannya. Jika sampai berkali-kali, tanggung jawab terus menurun dan pada posisi “drop” maka perempuan dibolehkan mengambil haknya kembali dari laki-laki yang mengikatnya.

Mengapa demikian? Sebab Islam memuliakan perempuan. “Ma akrama al-Nisa’ illa karimun wa ma ahanahunna illa la’imun” (Tidaklah yang menghormati perempuan-perempuan kecuali orang mulia. Dan tidaklah yang menghinakan perempuan kecuali orang yang hina pula). Laki-laki dan perempuan bukan persoalan tinggi-rendah, melainkan sama-sama diberikan kelebihan dan penonjolannya masing-masing. Misalnya, laki-laki lebih cepat mengambil keputusan sedangkan perempuan lebih teliti mengambil keputusan.

Yuk, muliakan perempuan sebagaimana laki-laki ingin dimuliakan. Sebab disitulah keimanan teruji, ketakwaan berbicara dan kesalehan terfaktakan. []

Share and Enjoy

Komentar

comments