Teruskan Perjuangan, Institut Hasyim Muzadi Di-launching

Penutupan Halaqah Nasional Ulama Pesantren dan Cendekiawan Gerakan Dakwah Aswaja Bela Negara, pada Selasa (31/10) kemarin. diakhiri dengan meluncurkan Institut Hasyim Muzadi (IHM). Lembaga pendidikan ini didirikan untuk meneruskan perjuangan Kiai Hasyim Muzadi dan menyiapkan generasi yang memiliki landasan Aswaja, serta mau berjuang untuk umatnya.

Peluncuran IHM itu merupakan kerja sama Pondok Pesantren Al-Hikam dengan Direktorat Bela Negara Kemenhan. Putra Bungsu Almarhum KH Hasyim Muzadi sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam, KH Muhammad Yusron Shidqi menjelaskan, IHM akan banyak mengadakan pelatihan-pelatihan, sehingga bisa menghadapi tantangan ke depan dan tetap bisa melestarikan Aswaja.

Sebagai putranya dan sebagai Ketua Eksekutif IHM, kata dia, peluncuran lembaga ini sebagai bentuk baktinya kepada orang tua. “Kiai Hasyim sebagai sosok yang diterima oleh banyak kalangan itu kita ingin menghadirkan kembali atau meneruskan perjuangan yang dulu dimulai oleh beliau sehingga perjuangan beliau ini tetap mengalir,” ujarnya kepada Republika.co.id di Ponpes Al Hikam, Beji, Depok, Selasa (31/10).

Dalam struktur pengurusan IMH sendiri terdapat banyak tokoh dan ulama yang di antaranya, tokoh NU KH Sholahuddin Wahid (Gus Sholah) dan juga Ketua Komisi Dakwah MUI, KH Cholil Nafis. “Ini sebenarnya kita ingin menghormati orang tua kita di NU. Kiai Hasyim Mizadi ini hidupnya di abadikan untuk mengurus NU dari tingkat ranting sampai Pengurus Besar,” ucap Cholil Nafis yang ditunjuk sebagai ketua di Intitut Hasyim Muzadi.

Menurut dia, terdapat beberapa ceramah dan pesan-pesan Kiai Hasyim Muzadi yang masih belum tersosialisasi dan belum didokumentasikan. Karena itu, kata dia, lembaga ini nantinya mendokumentasikannya, sehingga menjadi referensi bagi generasi yang akan datang.

Apalagi, lanjut dia, saat ini banyak sekali terdapat kecurigaan antar anak bangsa dan internal umat beragama, sehingga membutuhkan sosok tokoh perekat bangsa sepeti Kiai Hasyim. “Beliau itu biasanya cirinya melihat persoalan dengan ringan dan menjawabnya juga mudah dicerna. Nah, kalau sepefti ini kita lebih ringan mencari solusinya,” katanya.

Sumber : www.khazanah.republika.co.id

Share and Enjoy

Komentar

comments