Hikmah Puasa (Bagian 2-Habis)

3. Nafsu Kita Memerlukan Puasa
Nafsu merupakan power motorik dalam diri manusia. Orang yang tidak mempunyai nafsu, dia akan nggelembosi. Orang yang tidak mempunyai nafsu berarti dia tidak mempunyai kemauan, spirit, cita-cita, bahkan ide. Oleh karena itu, nafsu harus ada pada diri manusia. Masalahnya sekarang, Bagaimana quantum nafsunya?, dan Bagaimana mekanisme gerakan nafsu?, Hal ini penting diketahui karena nafsu akan menggerakkan otak kita.

KH Hasyim Muzadi
KH Hasyim Muzadi

Nafsu itu mempunyai 3 dimensi:

 Nafsu perut. Misalnya; nafsu makan dan minum. Kalau dibesarkan lagi, nafsu perut ini berujung pada nafsu kekayaan. Dorongan nafsu ini sangat kuat pada diri seseorang.
 Nafsu sex. Istilahnya dalam kitab: نَفْسُ اْلبَطْنِ وَمَا تَحْتَ الْبَطْنِ (nafsu perut dan nafsu di bawah perut). Nafsu sex ini kekuatannya juga luar biasa.

Masing-masing dari nafsu perut dan nafsu sex ini kadang-kadang bergerak sendiri, kadang bergerak kolaboratif (bersama-sama). Ada orang mengalami nafsu perut, lalu dia pergi untuk mencari makan. Berarti dia cuma mencari kebutuhan isi perut. Akan tetapi ada orang yang mencari makan sekaligus mencari kemewahan dan gengsi. Berarti di sini ada spektrum.

Masya Allah, saya kemarin gethon (menyesal) bukan main. Saya di New York tinggal di hotel. Ketika baju saya kotor, saya ingin baju itu dicuci karena pada sore harinya mau saya pakai ke PBB. Saya kan mesti memakai pakaian yang rapi dan memakai dasi, ndak jelek seperti ini. Kalau saya pakai dasi, kamu mesti pangling. Lalu baju itu saya loundry. Di sini biaya loundry biasanya paling cuma Rp. 50.000-60.000. Baju itu saya loundry biar ndak lungset. Masak saya menemui Sekjend PBB dengan baju yang lungset, kok kelihatan Al-Hikamnya. Saya bertanya kepada petugas Loundry: “Berapa lama waktu loundry-nya?;” Dia bilang cuma 35 menit. Setelah saya sambil, ternyata ongkos loundry satu baju itu adalah $ 55 (Rp. 450.000). Uang sebesar ini kalau dibuat untuk indekost di Al-Hikam sudah berapa bulan. Artinya; Dalam hal ini, orang membeli gengsi bukan membeli cucian.

Di Inggris ada toko milik orang Arab yang dulu pernah mempersunting Lady Diana. Di toko itu ada sepatu yang harganya $ 80.000. Jadi kalau nafsu harta sudah naik, maka nafsu itu harus dikendalikan dengan puasa. Puasa membuat orang kembali menjadi sederhana. Sekarang kamu merasa lapar banget, seakan-akan kalau dikasih 5 piring, semuanya akan dihabisin. Padahal kalau sudah waktunya makan, paling-paling kamu cuma makan 3 piring. Artinya; Kemauan (nafsu) itu tidak seimbang dengan kebutuhannya. Oleh karena itu, di sini diperlukan adanya normalisasi, yaitu melalui puasa, karena jika seseorang tidak makan dan tidak minum, tentu nafsu seksnya akan turun. Kalau ada orang ndak makan maupun minum, akan tetapi nafsu sexnya tidak turun, berarti ada yang tidak beres (“pasti” ada extra joss-nya). Dalam kondisi normal, nafsu sex orang yang tidak makan maupun minum, pasti akan turun. Namun nafsu sex itu kalau malam boleh dipakai, artinya; nafsu sex itu dikendalikan, bukan dihentikan. Oleh karena itu, mengebiri (nafsu sex) itu hukumnya haram, sedangkan yang wajib adalah mengendalikan nafsu sex. Jadi, nafsu sex itu tidak boleh dihilangkan sebagaimana yang dilakukan oleh para Pastor.
 Nafsu Memperoleh Jabatan (حُبُّ الْجَاهِ)
Yaitu suatu ambisi yang berlebihan. Ambisi itu harus ada, namun yang tidak boleh adalah ambisi yang berlebih-lebihan. Semua hal itu harus sesuai dengan mizan (ukuran). Allah SWT berfirman dalam Surat Ar-Rohman:
وَوَضَعَ الْمِيْزَانَ
Dan Dia (Allah SWT) meletakkan ukuran
Oleh karena itu, semua hal harus memakai dosis (ukuran). Dinginnya es itu menyegarkan, akan tetapi jika dinginnya 50 derajat di bawah nol, yo bongko dadak awak-awak an iki. Kata para teroris kapal terbang: “Sekarang tidak perlu meledakkan kapal terbang, cukup dilobangi saja kapalnya, para penumpangnya sudah mati semua”. Karena temperatur di luar kapal bisa mencapai 57 derajat di bawah nol. Atau jika kaca pesawat terbang itu dipecah satu saja, niscaya semua penumpang akan mati membeku.

4. Jiwa Memerlukan Puasa
Jiwa adalah spiritual dan bagian dari ruh. Apakah kamu pernah mendengar ada orang menjadi kebal dari senjata tajam karena puasa?. Misalnya; Dia diberi gembelengan, disuruh membaca suatu do’a dan berpuasa 3 hari, selanjutnya dia tidak mempan senjata tajam. Perhatikaan!. Apa hubungannya puasa dengan tidak mempan senjata tajam. Mestinya yang tidak mempan kan yang banyak makan, karena dia banyak gizinya. Dikurangi jatah makannya kok justru tidak mempan, gimana logikanya. Berarti di sini ada pengaruh puasa.

Semua itu tergantung dengan niatnya. Niat adalah pekerjaan ruh. Maka hati-hatilah dengan niat. Saya sudah berpesan berkali-kali sampai bosan, Apa niat kamu mondok di Al-Hikam ini?. Apakah kamu mondok di sini karena kesulitan indekost di luar?, Apakah mondok di sini biar tidak dimarahi orang tua? atau Apakah kamu mondok di sini karena ingin meluruskan ilmu dan hidupmu?. Pegang dulu niat kamu. Kalau niat ini tidak kena, semuanya tidak kena. Hampir semua keponakan saya dikeluarkan dari Pondok ini, baik anaknya saudara saya maupun anaknya saudara ibu. Mereka memang saya keluarkan, karena saya tidak menginginkan apa-apa dari Al-Hikam ini, kecuali kamu menjadi lebih baik.

Sehingga dengan demikian, puasa itu inhern – sudah menjadi satu – dengan kebutuhan manusia. Kalau kamu ingin mulya hidupmu, maka berpuasalah. Mulya itu berbeda dengan pangkat. Ada pinter, pangkat dan mulya. Kalau pinter itu berarti muatan ilmunya banyak. Kalau pangkat itu kamu dapat status. Kadang orang berilmu mendapat status, kadang tidak. Kadang orang bodoh karena ada koneksi bisa mempunyai status, akan tetapi yang paling banyak adalah goblok dan tidak punya status. Sedangkan Mulya berarti maqaman mahmudah (posisi yang terhormat) di hadapan manusia dan Allah SWT.

Tawassul itu dua macam, yaitu: Ikramul wa lidain (berbakti kepada kedua orang tua) dan puasa. Oleh karena itu, saya anjurkan, sekalipun orang tua kamu masih hidup dan tempatnya jauh, sering-seringlah kamu membaca Surat Al-Fatihah untuk beliau. Caranya: Setiap kamu akan melakukan sesuatu yang penting atau sesuatu yang kamu anggap penting, maka bacalah Surat Al-Fatihah kepada Rasulullah SAW, lalu kepada ayah kamu sebanyak satu kali, serta kepada ibu sebanyak 3 kali. Kenapa harus 3 kali?, karena ibu itu tiga kali lebih berat ngurusi kamu dibandingkan ayahmu. Untung kamu ini menjadi anak laki-laki. Seandainya kamu menjadi perempuan, kamu akan disuruh nyewo’i anak sampe’ mbelenger. Istri saya itu kalau mengandung harus masuk rumah sakit, karena tidak doyan apapun dan tidak bisa makan maupun minum bahkan harus diinfus selama 3 bulan. Tugas ibu meliputi; mengandung, melahirkan dan mendidik anak. Namun ternyata semua itu masih rutin dilakukan oleh seorang ibu. Jadi ndak cocok antarane abote ambek rutine. Beratnya mengandung anak ini juga diakui oleh Al-Qur’an melalui firman-Nya: وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ (berat di atas berat).

Kamu harus membaca Al-Fatihah sebagaimana ketentuan di atas ketika mau berangkat ke sekolah, mau mendengarkan kuliah, mau menghadapi ujian, mau mengambil suatu keputusan, dsb. Biasakan dan Istiqamah-kan membaca Surat Al-Fatihah tadi, Insya Allah nasibmu tidak akan ketelesot. Jangan dikira orang yang pinter itu tidak ada yang tidak ketelesot, justru banyak di antara mereka yang ketelesot. Jikalau orang tuamu sudah wafat, maka sering-seringlah ziarah ke kuburan mereka. Ayah dan ibu saya itu dimakamkan di Tuban. Setiap kali saya pergi ke Tuban, betapapun sulitnya, saya pasti datang mampir ziarah ke makam beliau berdua.
Selanjutnya ditambah dengan tawassul yang kedua, yaitu puasa. Kalau puasa wajib, tentulah harus dikerjakan. Sedangkan puasa yang tidak wajib, hendaknya kamu mengerjakan-nya kalau sempat dan kalau sumpek. Insya Allah, nanti nanti kamu akan diberi kelonggaran. Pernah diceritakan oleh Umar RA: Puasa itu ibarat sinar yang menembus baja yang setebal apapaun. Jadi tidak ada keruwetan yang tidak bisa diatasi oleh puasa. Hanya dosisnya harus disesuaikan. Semakin berat masalah, maka puasanya juga harus semakin banyak. Sekarang kamu belum bisa merasa, karena kamu masih sekolah dan selalu dikirimi uang dari rumah. Paling-paling kalau kekurangan uang, kamu minta tambah lagi. Resiko paling berat yang kamu rasakan adalah kiriman yang terlambat. Itupun ngomelnya sudah setengah mati, padahal kamu tidak ikut mencari uang kiriman tersebut. Kalau kamu sudah berkeluarga, maka jika kamu ketemu dengan istri yang cocok (shalihah), engkau akan memperoleh surga. Namun kalau kamu ketemu dengan istri yang tukang demonstrasi, waduh rasanya seperti qiyamat hidup ini. Jadi hidupnya seperti berada di atas bara api. Coba kamu perhatikan orang-orang yang diberitakan di infotainment. Gimana menjalani hidup yang seperti itu. Tentu sakit rasanya, karena dia dibakar oleh api cemburu dan dibakar oleh ketidak-percayaan. Kalau sudah begitu keadaannya, mau cari obat ke mana?. Mau minta tolong teman, temannya mana bisa mengobati. Ini berarti dia sudah memasuki relung-relung kesulitan hidup. Belum lagi kalau digoda anak. Saya mempunyai seorang kenalan yang mempunyai dua anak, anak yang pertama sudah meninggal dunia, dan anak yang kedua menjadi korban narkoba. Kalau sudah demikian, di mana letak kenikmatan hidup itu. (Transkrip Ceramah KH Hasyim Muzadi) (Ac)

Close