KH Ahmad Hasyim Muzadi di Peringatan Harlah Muslimat NU ke 70

mantan-ketua-umum-nahdlatul-ulama-nu-kh-hasyim-muzadi-di-peringatan-harlah-muslimat-ke-70

MALANG — Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus mantan ketua NU KH Hasyim Muzadi mengatakan, Muslimat NU mengemban dua tugas besar. Pertama, adalah tugas ke-NU-an dan kedua tugas memberikan kontribusi kepada Indonesia. Dalam menjalankan tugas tersebut, ia mengingatkan agar Muslimat NU tak keluar dari khitah organisasi.

KH Hasyim Muzadi dalam tausiyahnya memperingati Harlah ke-70 Muslimat NU mengatakan, semua harus dilakukan secara bersama-sama dalam wujud keimanan dan keislaman. “Ada empat khitah yang menjadi ruh untuk menjaga kejayaan organisasi,” ujarnya di hadapan ribuan Muslimat NU di Stadion Gajayana, Malang, pada Sabtu (26/3).

Khitah pertama adalah ahlussunah waljamaah al nadliyyah. NU tidak sekadar organisasi, tetapi pemikiran dan keyakinan untuk menjadikan Islam sebagai pembawa keselamatan bagi umat Islam dan NKRI. Umur NU yang nyaris seabad dan telah berganti generasi menjadi tantangan dalam menjaga khitah organisasi.

Kedua, NU adalah organisasi mandiri dan bukan bagian dari parpol manapun. NU berkontribusi bagi perkembangan politik di Indonesia, tetapi bukan bagian dari partai politik manapun.

Kiai Hasyim mengingatkan pada kurun waktu 1973-1984 adalah masa di mana NU selalu identik dengan parpol. “Selama itu kiprah lain di organisasi tenggelam semata-mata untuk mencari jabatan segelintir orang,” ujarnya.

Isi khitah ketiga, Muslimat NU bukan hanya berkontribusi untuk golongan, melainkan juga untuk Indonesia. Kejayaan Muslimat NU adalah kejayaan Indonesia dan begitu pula sebaliknya, kejayaan Indonesia adalah kejayaan Muslimat NU.

Khitah keempat adalah mengisi bibit-bibit pembangun negeri. Dengan keempat khitah ini, kiprah Muslimat NU menjangkau seluruh lini, mulai dari umat sampai Indonesia dan dunia untuk mewujudkan rahmatan lil ‘alamin.

Empat khitah yang mulia tersebut tecermin dalam simbol NU. Simbol NU menggambarkan bola dunia dan diikat tali yang kendur. “Tali yang tidak terikat kencang itu melambangkan NU bukan organisasi yang saklek, namun terbuka menerima pemikiran-pemikiran baru,” tuturnya.

sumber:khazanah.republika.co.id

Close