Catatan Pinggir Dari Pulau Cendrawasih (3)

Oleh: Heri Gunawan

Tepat hari sabtu 24 Juni 2017 kamarin, saya berangkat ke Kelamono untuk pergi silaturrahmi sekaligus menjadi khatib idedul Fitri di sana. Sebenarnya hari raya ideul Firti hari minggu, tetapi saya berangkat hari sabtu. Ini karena perjalanannya yang lumayan jauh, ditambah lagi harus menyebrang menggunakan perahu untuk sampai tujuan. Mengapa harus menyebrang, karena jalan darat sudah rusak dan hancur serta ditutupi hutan lagi. bahkan banyak terlihat bekas jembatan-jembatan yang terputus ketika kita di tengah perjalanan.

Klamono SP 5 itulah nama tujuan saya bersama rombongan. sebelumnya perlu diketahui orang-orang di sini biasanya menggunakan nama “SP” sebagai nama kampung atau tempat yang setingkat dengan Desa apabila di tempat-tempat lain. Dengan demikian Distrik (kecamatan) di Papua memiliki banyak “SP”, ada SP (satu), SP (dua) dan seterusnya. Terlepas dari sejarah atau maksud dari penamaan SP ini, saya belum sempat mendalami yang terpenting tujuan kita adalah “SP” paling jauh di daerah Klamono yakni SP 5 (Lima) untuk berlebaran di sana.

Sore harinya, kira-kira seblum ashar bersama rombongan kami pun langsung menyebrang sungai menggunakan parahu kecil. Perahu tersebut pun mulai berjalan menjauh dari pelabuhan kecil itu dan terus membawa kita ke tangah menelusuri sungai itu seakan air itu adalah jalan aspal. Sungai tersebut di kelilingi hutan-hutan rimba dengan beraneka ragam pohon yang mungkin sudah berumur sangat tua atau bahkan puluhan tahun. Hutan tersebut hijau lebat dan sangat indah untuk dipandang. Saya berfikir sungguh luar biasa kekayaan alam yang dimiliki Indonesia. Sehingga mungkin (sekali lagi mungkin) ada benarnya ungkapan yang mengatakan bahwa Masyarakat Indonesia bagai tikus yang mati dalam lumbung padi. Di samping itu, tidak sedikit orang-orang luar yang managatakan bahwa Indonesia bagai Syurga dunia (Paradise Of World). Terbentang pulau-pulau hijau dari Sabang sampai Merauke, gunung-gunung menjulang tinggi dipenuhi minyak bumi dan barang berharga seperti emas dan lainnya, laut-laut biru yang maha luas dengan berbagai kekayaan ikan yang dimilikinya. Segala sesuatu tumbuh subur dan hijau bahkan anda melempar tongkat pun ke buminya maka akan langsung tumbuh. Sungguh nikmat dan pemberian Allah SWT melimpah dan menghiasi bumi Nusantara ini.

 

Selanjutnya ketika kami sampai di tempat tujuan, waktu sudah sangat sore bahkan beberapa menit akan tiba waktu berbuka puasa. Waktu itu saya menginap di rumah salah satu rumah teman yang kebetulan berasal dari kampung tersebut. setelah berbuka dan ngobrol sebentar dengan pemilik rumah, kira kira setelah Isya’ saya pun keluar untuk silaturrahim dan berkenalan dengan masyarakat. Tidak lupa ketika keluar, Sebelumnnya saya minjam lampun “senter”_karena listrik sangat minim bahkan sebagian ada yang tidak menggunkan listrik. Memang masyarakat di sini, listrik atau alat penerang mereka masih menggunakan listrik _“ber-Tenaga Surya”. Dari pemandangan dan keadaan ini, saya jadi teringat ketika masih kecil di kampung dulu pernah menggunakan Tenaga Surya juga. Ya, sebenarnya lumayan sulit karena listrik atau penerangan diukur dari teriknya matahari. Apabila matahari panas dan terik maka kita akan mendapatkan listrik yang terang akan tetapi apabila matahari gelap maka sebaliknya lampu tidak akan mendapat energi.

 

Ketika pergi silaturrahim tersebut maka arah yang pilih adalah masjid. Kebetulan malam itu malam lebaran atau takbiran sehingga saya berfikir mungkin para jamaah pasti banyak di Masjid. Setelah menelusuri jalan setapak menggunakan “Senter”, akhirnya saya pun tiba di Masjid. Ternyata betul di sana para jamaah _(terutama bapak bapak)_sedang berkumpul untuk mengurusi zakat dan persiapan acara Iedul Fitri besok.

 

Lama saya ngobrol dan berbincang-bincang dengan para jamaah ini. berbagai cerita dan pengalaman yang saya dapatkan. Kampung yang dulunya ramai berjumlah hingga kurang lebih tiga ratus keluarga atau KK ini sekarang semakin berkurang dan semakin sedikit hingga menjadi kurang lebih tiga puluh Kepala keluarga apabila dijumlahkan semua termasuk masyarat yang non Muslim. Sehingga apabila jumlahkan yang muslim kurang lebih dua puluh orang. Dengan demikian penulis berkesimpulan apabila kita shalat Jumaat di sini mungkin untuk memakai *Mazhab Imam Syafii*dengan jumlah minimal empat puluh orang mungkin sangat sulit untuk diterapkan. Bahkan warga dengan jujur masyarakat mengatakan terkadang mereka acapkali tidak melaksanakan shalat jumat dengan alasan kondisi yang kurang, di samping pengetahuan agama yang masih sangat minim. Memang di sana ada dua orang yang di tokohkan. Pertama diangkat sebagai kepala kampung, sedangkan kedua biasa dipakai jadi kmam dan khotbah. Bahkan posisinya tidak tergantikan (bisa dikatakan keduanya adalah imam dan khotbah abadi). Hal ini karena hanya merekalah bisa dan tidak ada yang lain. Sehingga ritual ibadah masyarakat di tentukan oleh kedua orang itu, apabila mereka tidak ada maka kegiatan ibadah seperti jumatan akan libur.

 

Sebagai contoh, kebetulan kemarin sebelum lebaran kemarin kedua tokoh ini pulang mudik ke Jawa. Akhirnya para jamaah di sana libur shalat jumat dan mereka hanya shalat Zuhur di Masjid karena tidak ada yang bisa memimpin shalat jumat. Sehingga dengan kedatangan saya kemarin yang bersedia memimpin Shalat Ied Fitri mulai dari awal hingga selesai mereka seakan merasa tenang dan berterima kasih bahkan berharap untuk di sambangi dan diajarkan tata cara ibadah. Ya, mungkin setiap bulan lah apabila mungkin setiap minggunya terasa sulit menempuh perjalanan yang masih belum memungkinkan. Kata-kata halus bahkan hingga pujian yang mungkin menurut kita sangat lebay terus mereka lontarkan kepada saya, padahal sebenarnya saya tidak memiliki apa-apa dan hanya bermodal berani. Mungkin apa yang dikatakan pepatah ada benarnya bahwa lampu walaupun redup dan rusak akan memiliki cahaya apabila dinyalakan ditengah malam yang sangat gelap. Namun cahayanya akan akan hilang dan kalah apabila bertemu dengan lampu atau tempat yang lebih terang.

 

Di sana saya juga melihat ada Sekolah Dasar. mendengar cerita anak akan di sana. Sekolah Dasar dengan guru hanya dua orang. Murid kelas enam kurang lebih hanya enam orang. Sedangkan kelas lima hanya satu orang. Kelas empat dan kelas tiga tidak ada. Kira- kira begitulah cerita anak-anak kepada saya. mendengar cerita ini, perasaan saya bercampur antara sendih dan senang. Merasa sedih karena melihat kondisi mereka yang tidak terlalu terurus dengan berbagai keterbatasan. Merasa senang dari pada para adik adik generasi ini tidak merasakan nikmatnya sekolah dan pendidikan.

 

Di samping campur aduknya perasaan ini, di sana saya juga menemukan toleransi yang sangat tinggi dan kuat. Umat Muslim dan Krsitiani sangat erat dalam membangun hubungan antar sesama. Ketika ada acara kematian atau pernikahan baik dari umat Muslim atau Kristiani maka mereka akan saling mendatangi bahkan hingga ada umat Kristian biasa mengikuti acara tahlilan seperti seratus harian orang yang meinggal. Lihatlah misalnya kemarin setelah selesai melaksanakan acara Shalat Ied sebagian warga non Muslim datang untuk silaturrahim. Selamat Hari Raya Pak Ust. Demikianlah yang diucapkan oleh anak Papua yang bernama Luis itu ketika datang dan berjabat tangan dengan saya. waktu itu ia datang bersama keluarganya dan akan berkeliling ke semua penduduk untuk muslim sebagai penghormatannya. Dan memang hal ini adalah hal biasa di kampung tersebut setiap setiap hari hari besar.

 

Setelah dua malam menginap di sana, saya akhirnya memutuskan untuk pulang kembali. Ya, tentunya dengan menggunakan perahu lagi dan harus menempuh kurang lebih dua jam perjalanan di atas air. Menelusuri hutan lebat yang mengelilingi sungai itu. dalam perjalanan pulang ini saya berhayal seperti Frodo (“Hobbit atau Manusia Kecil), yang ditemani temannya Sam, Aragon dan pengawal-pengawal lainnya dalam Film “The Lord Of The Ring”_yang kalau tidak salah menyebrangi sungai _Amazon Brasil dengan misi untuk mengembalikan cincin yang berkekuatan gaib itu kepada taunnya. Dan tentunya dengan berbagai rintangan dan tantangan yang dihadapinya. Sebenarnya perjalanan maupun penyebrangan ini sejatinya bagi saya yang sudah lumayan lama tinggal di Ibu Kota menjadi menarik dan menambah pengalaman baru. Mungkin (sekali lagi mungkin) berbeda dengan orang yang tinggal di sini yang menganggap penyebrangan ini merupakan hambatan dan berharap agar pemerintah segera menyelesaikannya dengan berbagai solusi yang ada.

 

Terakhir dari berbagai ulasan dan cerita ini menjadi kita berharap semua berharap agar pemerintah segera menyelesaikan permasalahan-permasalahan ini Sumber Daya Manusia (SDM)nya maupun fasilitas jalan-jalannya. Seandainya belum, semoga bisa ingat dan menengok keadaan kita sebagai Masyarakat bawah. Seandainya sudah, semoga bisa melihat dan meninjau kembali sejauh mana pembangunan itu memberikan kenyamanan dan kontribusi kepada masyarakat. Saya pribadi dan kita berharap kepaada Al-Hikam khusunya dan juga Pemerintah bisa mengirim lebih banyak lagi para muballig atau para Dai ke pelosok-pelosok Nusantara untuk membimbing ummat.

Sorong, Papua Barat, Rabo 28 Juni 2017.

Close