Catatan Pinggir Dari Pulau Cendrawasih (4)

Oleh: Heri Gunawan

“Dan kesejahtraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”(Qs. Maryam [19]: 33).

Tidak bisa dipungkri manusia adalah makhluk sosial yang tidak akan pernah luput dari interaksi orang lain. Sebagai makhluk sosial, dalam kehidupan sehari-harinya, manusia pasti membutuhkan orang lain. Sekaya apa pun seseorang, setinggi apapun pangkat dan jabatannya tetap saja ia akan membutuhkan orang lain. Orang miskin butuh kepada orang kaya, pun begitu juga sebaliknya. Para murid membutuhkan pembimbing (pendidik), orang sakit butuh dokter, penjual butuh pembeli, perempuan butuh kepada laki-laki begitu juga sebaliknya laki-laki akan sangat mengidam-idamkan perempuan sebagai teman hidupnya. Bahkan Nabi Adam as dengan berbagai kenikamatan dan kemuliaan yang ada di Syurga, tetap saja membutuhkan seorang teman bergaul sehingga Allah SWT menciptakan untuknya seorang pendamping dan teman setia yakni istrinya Siti Hawa. Begitulah hidup, seseorang tidak akan pernah luput dari orang lain sebagai teman berintraksi.

Dalam pergaulan hidup, sejatinya manusia telah diatur dengan sangat Indah oleh Tuhan agar bisa berintraksi dengan baik, sekaligus berbaur dalam bingkai persaudaraan. Saling menyayangi satu sama lain, melepas baju-baju keangkuhannya, hingga menembus segala sekat yang ada. Tidak memandang rupa, ras, budaya, bahasa bahkan agama dan keyakinan sekalipun. Saling kenal-mengenal satu dengan lainya membangun dan merawat jalinan persaudaraan dalam kokohnya Ukhuah Basyariayah (persaudaraan antar sesama manusia). Lihat Qs al-Hujurat [49]: 13.

Apabila kita melihat arti atau makna “Ukhuah” dari sudut pandang keagamaan, sejatinya para ulama’ dan pemikir telah menjelaskan panjang lebar. Qurais Shihab misalnya, dalam bukunya “Menabur Pesan Ilahi” menjelaskan bahwa silaturrahim (persuadaraan yang kuat) akan mampu memberi dampak positif dengan terjalinnya kasih sayang antar satu dengan lainnya. Disamping itu persaudaraan yang sebenarnya, tidak hanya terbatas atau berkutat pada Ukwah Islamiayyah (persaudaraan sesama muslim) atau Ukhwah Wataniyyah (persaudaraan sebangsa) saja, akan tetapi melebihi dari itu, yakni kita harus mampun merajut Ukwah Basyariyyah/ Ukwah Insaniyyah (persaudaan sesama manusia) atau

Ukwah Khlaqiyyah (persuadaran sesama makhluk). Sehingga kesemuanya ini pada dasarnya, merupakan bagian dari Ukwah Islamiyyah yang bersifat Islami, dan memanga demikianlah persaudaraan yang diajarkan dalam Islam, tidak boleh menyakiti dan menghina sesama manusia. Bahkan kepada hewan pun agama melarang menyakitinya.

Nio Gwan Chung (Muhammad Syafii Antonio)_seorang intelektual Cina “Maallaf” dalam bukunya _“Muhammad SAW The Super Leader Super Mananger” mengungkapkan bahwa persaudaraan adalah konsep dasar dalam peradaban Islam, yang mana hubungan persaudaraan ini adalah hubungan yang paling kuat diantara ikatan-ikatan lainya. Inilah yang diperkenalkankan Perancis dalam revolusinya dengan semboyan yang cukup terkenal yakni “Liberte, egalite, fraternite”(kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan). Padalah hal ini sejatinya, lebih dahulu telah diterapkan oleh Nabi Muhammad ketika beliau membangun masyarakat Madinah pada waktu itu. sehingga terciptalah masyarakat Madinah yang harmonis dan madani.

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang dituntut untuk bergaul dan bertutur kata dengan baik. Bahkan dengan siapapun itu, lebih-lebih kepada orang yang lebih tua atau lebih senior. Di samping itu, Islam juga metuntut umatnya agar mampun menbangun dan merawat silaturrahim dengan kaluarga, sahabat, teman kerja, dan seterusnya. Bahkan Nabi SAW pun dalam salah satu hadistnya sangat melarang orang yang terlibat pertengkaran hingga melebihi dari tiga hari.

Kita tidak bisa membayangkan apabila seseorang selalu mengandalkan egoisme dan fanatismenya yang berlebihan, tidak bisa melebur dan sulit menerima perbedaan, serta suka merawat dendam kesumat yang bersarang dalam hatinya. Maka persaudaraan (Ukhuah)_yang telah diajarkan oleh teks-teks sucinya sangat sulit untuk diamalkan. Hubungan keluarga maupun persahabatanya akan rapuh dan terputus. Yang pada akhirnya, dalam hidup akan banyak menemukan kesulitan. Kemanapun dia melangkahkan kakinya, maka akan merasa terancam dan mendapat banyak hambatan. Begitulah seterusnya. Sehingga, mungkin ada benarnya sebuah pepatah bijak _“Carilah kawan sebanyak banyaknya, seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak”.

“Agama adalah interaksi” Demikianlah sabda Nabi SAW yang mana dalam pergaulan hidup, kita dituntut untuk berintraksi dan bergaul dengan baik, entah itu dengan siapapun. keberagamaan seseorang diukur dari intraksinya, semakin baik intraksi seseorang maka semakin baik pula keberagamaanya. Demikianlah penjelasan Quraish Shihab dalam bukunya “Secercah Cahaya Ilahi”. Orang yang baik kepada Allah saja maka ia akan menjadi faqir, pun sebaliknya orang yang hanya baik kepada manusia maka ia akan menjadi kafir. Faqir dan kafir ini adalah dua penyakit yang harus kita berantas dan basmi bersama jangan sampai melekat pada diri kita. Bahkan Allah SWT menghina orang-orang yang memutus hubungan dengan sesama makluk, lebih-lebih kepada-Nya. Ancaman bagi orang yang tidak mau menghiraukan orang lain (memutus persaudaraan) Lihat Qs. Ali-Imran [3]112.

Oleh karena itu, umat Islam menuntut hambanya agar mampun menyeimbangkan “balance” hubungan kepada sesama makhluk (horizontal) begitu juga, dengan hubungan dengannya dengan Tuhan (vertikal.). Demikian Agama telah mengatur dan mengajarkan kita, untuk terus berkomunikasi dengan baik dengan siapapun lebih-lebih dengan orang yang lebih tua harus dengan perkataan yang lemah-lembut dan sopan santun. Ketika bertemu dengan kawan, sahabat, maka kita ucapankan salam dengan hormat bahkan kalau bisa berpelukan dan menanyakan kabar ketika sudah lama tidak bertemu. Seperti inilah tali persaudaraan yang harus kita bangun dan pelihara, jangan sampai persaudaraan ini, kering kerontang oleh segala permusuhan dan dendam kesumat yang menutup hati kita untuk menerima dan memaafkan kesalahan orang lain.

Buya Hamka menyebutkan dalam bukunya _“falsafah Hidup”_lantaran persahabatan dan persudaraan yang terpatri dalam hati maka terbangunlah masyarakat yang baru dikota Madinah. Suatu masyarakat yang berbudiman dan berakhlak mulia antara satu dengan yang lainnya, salang mempercayai, saling setia dan tidak ada istilah saling menghianati diantara mereka. Antara satu dengan lainnnya saling mengadu isi rahasia hatinya serta saling bertukar pikiran dalam menyelesaikan masalah bahkan sampai masalah pribadi diselesaikannya bersama. Demikian rekatnya persaudaraan yang dibangun Nabi SAW terhadap kaumnya pada waktu itu, sehingga Madinah menjadi masyarakat yang berkemajuan dan berperadan.

Adapun strategi yang diterapkan Nabi SAW ketika membangun masyarakat Madinah pada waktu itu sebagaimana dijelakan Nio Gwan Chung (Muhammad Syafii Antonio) adalah pertama-tama membangun persudaraan antara kaum Anshar_dan _Muhajirin dengan cara mempersaudarakan penduduk asli madinah (Anshar) dengan pendatang _(Muahjirin)_yakni Abdurrahman bin Auf dan Saad bin ar-Rabi’ yang keduanya langsung akrab laykanya suadara sendiri dengan saling kasih mengasihi. Bahkan dengan terbangunnya persaudaraan tersebut memberikan dampak yang sangat signifikan dalam sektor ekonomi umat pada waktu itu. Kaum Muhajirin dengan potensinya yang mahir dalam bidang perdagangan sedangkan kaum Anshar yang mahir dalam sektor pertanian. Kombinasi antara perdagangan dan pertanian ini memberikan dampak perekonomian yang sangat siginfikan terhadap madinah pada waktu itu.

Demikianlah persaudaraan (Ukhuah) yang digariskan dalam Islam. Jangan sampai kita terjebak dan hanya menonjolkan perbeadaan, yang mana hal ini acap kali melahirkan  konflik dan persinggungan yang tidak akan pernah ada ujungnya. Perbedaan adalah sebuah keniscaayaan, yang terpenting adalah bagaimana kita menerima perbedaan-perbedaan yang ada dengan arif dan bijaksana.

Sorong, Papua Barat,  Kamis 10 Agustus 2017.

Close