MALAM TERAKHIR

MAPPI, Jum’at (04/08/2017) pukul 15.00 WIT, keluarga masjid Nurul Huda di selimuti kesedihan. Karena ada salah satu jama’ah yang biasa adzan di masjid meninggal dunia. Nama panjangnya bapak Sriyono biasa dipanggil pak Yono, dia meninggal dalam usia 43 tahun dan mempunyai anak satu masih kuliah serta cerai dengan istrinya tiga tahun yang lalu.

Ahmad Faidlon selaku teman dekatnya mengatakan tadi malam (malam Jum’at) usai sholat magrib dia masih ngobrol dan memberi uang donatur bulanan untuk pesantren Nurul Huda dan yasinan di masjid. Kemudian setelah sholat Isya’, saya diajak bermain ke kontrakan kecilnya guna untuk mengantar buku bacaan, ngopi, makan-makan jajan, nonton TV dan pulang dari kontrakannya pukul setengah sebelas malam.

Bapak asli kelahiran solo ini, pagi tadi masih melakukan aktifitas seperti biasa yaitu pergi ke kantor SETWAN (Sekretatis Dewan). “Dia menjadi SETWAN masa bakti 2014-2019 ditugaskan dari Merauke ke Mappi bagian pedalaman dalam rangka untuk memajukan kota tersebut. Ketika Jum’atan berlangsung juga sempat menjadi bilal pada waktu adzan kedua dan tidak ada tanda-tanda sakit atau yang lainnya sampai sholat Jum’at selesai dikerjakan, ketika itu yang bertindak sebagai khotib yaitu ustad Saifullah,S.Pd,I dari Kediri Jawa Timur”. Ujar Agus.

Sudarsono selaku ketua PKM menyatakan bahwa, Yono usai sholat jum’at tepat pukul 12.45 WIT sempat mengeluh tapi tidak begitu ditanggapi oleh Sudar. Hal itu dianggap biasa saja, karena Yono sering bercanda juga. Kemudiaan Yono tidur-tiduran sambil berbaring, tak lama kemudian terdengar suara Astagfirullah, astagfirullah, astagfilullah dan suara itu semakin kencang kedengaranya. Orang-orang yang semula menghitung uang amal Jum’at langsung menolongnya, tidak lama kemudian mata Yono merah, mulutnya keluar air dan nafasnya makin kencang serta tak sadarkan diri.

Sepuluh menit kemudian, Sukiman beserta jama’ah yang masih ada masjid bergegas mengatarkan ke RSUD kota Mappi dengan memakai mobil. Dokter bilang, “andai terlambat 20 menit Yono sudah mati ditempat. Setelah diperiksa, dia mengalami darah tinggi, darahnya sudah mengalir ke otak, struke, kemungkinan akan mengalami lumpuh dan tidak lama lagi dia akan meninggal, juga dokter menyarankan untuk secepat mungkin memberi tahu kerabat-kerabat, keluarga yang ada Mappi dan Merauke”. Katanya.

“Kurang lebih pukul 15.00 WIT, Yono menghembuskan nafas terakirnya. Dokter pun mulai mencopot infus dan alat-alat yang menempel ditubuhnya. Kerabat dan teman-teman yang mengantarnya pun menangis  mendengar berita kematiannya. Cukup menyedihkan, dia tidak punya keluarga di kota Mappi, mantan istri dan anaknya tinggal di Merauke. Akan tetapi, teman-teman, saudara-saudara muslim, orang-orang asli penduduk pribumi Papua segera memandikan, mengkafani dan mensholati dipimpin oleh ustad Ali Mansur pengasuh pondok Pesantren Nurul Huda di masjid Nurul Huda Telkom Mappi”. Kata Solihin.

“Tepat setelah sholat Magrib, Jenazah diberangkan ke maqom Krida Kota Mappi untuk disemayamkan. Tak hanya orang Islam yang mengantarkannya menuju peristirahatan terakhir tersebut, tetapi banyak pula orang-orang non-Islam yang ikut membantu berupa uang dan mengantarkan jenazahnya juga sampai proses pemakaman selesai. Rasa solidaritas yang tinggi tersebut, sudah tertanam di hati masyarakat kota Mappi sejak pertama kali kota ini di buka yaitu pada tahun 2002 Masehi”. Imbuhnya. Kawan, Semoga Amal baikmu diterima disisi Allah Swt. Amin.

Mappi, Jum’at, 11- Agustus-2017

Close