HAUL KH. AHMAD HASYIM MUZADI

HAUL KH.  AHMAD HASYIM MUZADI
Oleh: KH. Abdi Kurnia Djohan, S.H., M.Hum

Assalamualaikum Wr. Wb

Di dalam hadis riwayat Imam Abu Daud, Nabi Muhammad SAW mengatakan: innallâha lâ yaqbidhu al-‘Ilma intizâ’an mina al-‘Ibâdi (sesungguhnya Allah SWT tidak akan mencabut ilmu agama begitu saja dari hamba-hambanya), wa-lâkin yaqbidhu al-‘Ilma bi-qabdhi al-‘Ulamâ’i (tapi Allah mencabut ilmu itu dengan memanggil pulang satu persatu ilmu-Nya, yakni para ulama), hattâ lâ yabqâ ‘aliman baina al-Nâsh (sehingga nanti tidak akan tersisa satu orang alim pun di antara kita semua).

Meninggalnya seorang ulama merupakan musibah, karena meninggalnya seorang ulama itu merupakan pertanda hilangnya satu kebaikan. Saya teringat ketika Abuya Dimyati Banten meninggal dunia. Ada seorang kiai Betawi yang rajin datang kepada beliau, allahu yarham KH. Sidiq Fauzi. Beliau mengatakan, idzâ mâta al-‘Âlim, qalla al-Ma’rûf wa katsurat al-Munkar (kalau ada seorang alim meninggal, maka kebaikan itu semakin sedikit dan yang mungkar semakin banyak). Bagaimana Abuya Dimyati punya pesona yang luar biasa, beliau tidak pernah ceramah tapi terkenal ta’lim-ta’lim yang disampaikannya. Sebab di antara ciri khas NU menyampaikan ta’lim. Abuya Dimyati tidak pernah ceramah (kesana-kemari, red) hanya menyampaikan kajian kitab, tetapi kharismanya luar biasa bahkan ketika meninggal dunia. Ada sebuah kisah, “kerandanya berjalan sendiri sampai liang lahat”, tanpa dikomando mengusung jenazah itu, dari satu tangan ke tangan yang lain sampai jenazah tiba di liang lahat yang ada di atas bukit. Iringan tahlil seiring dengan turunnya hujan; keras ucapan tahlil, hujan yang turun pun semakin keras; pelan ucapan tahlil, hujan yang turun pun pelan. Seolah-olah alam pun ikut mengiringi kepulangan Abuya Dimyati.

Suasana yang hampir sama saya lihat ketika guru kita, Abuya KH. Hasyim Muzadi meninggal dunia. Saya yakin yang kehilangan buka semata-mata keluarga tapi umat Islam, bukan cuman NU. Karena ketika beliau meninggal dunia, FPI datang, Banser datang. Dan disinilah momen FPI dan Banser akur saat abah wafat; momen di mana Nusron Wahid duduk di sebelah Habib Rizieq saat abah wafat. Itu lain cerita manakala Habib Rizieq ketemu Nusron Wahid di TvOe, tapi di Al-Hikam mereka bertemu. Merinding saya melihat fenomena ini…! Di belakang Habib Rizieq ada Gus Ulil Absar Abdalla yang sering juga dikritik oleh Habib Rizieq. Semua orang-orang yang berpolemik, berdinamika, berdebat hingga saling menyerang di media, ketika abah Hasyim Muzadi meninggal tertutup mulutnya dan mengubah persainga-persaingan dengan kalimat zikir dan kalimat fikir. Dan disinilah makna Al-Hikam.

Disinilah saya melihat, karomahnya nama Al-Hikam. Karena segala sesuatu yang terjadi di sekitar abah Hasyim Muzadi dan apa yang dilakukannya ada hikmahnya. Tadi KH. Cholil Nafis menyampaikan pengalamannya dengan abah Hasyim, sedangkan saya tidak banyak dengan beliau. Sewaktu-waktu saya pernah ngobrol pagi dengan beliau dan membicarakan tentang HTI.

KH. Abdi Kurnia: “Abah, HTI ini makin lama, makin meluas gerakannya. Apa kita undang saja HTI, kita berdebat dengannya. Supaya masyarakat tercerahkan apa yang ingin dilakukan oleh HTI”.

KH. Hasyim Muzadi, “sampean (kamu, dalam Bahasa Jawa) kalau bikin debat itu buang-buang waktu, energi dan biaya. Undang saja mereka, kita tanya, kalau tidak bisa jawab, jangan buat macam-macam di Indonesia. selesai….!”

Jadi beliau berusaha, bagaimana memberikan pemahaman itu tanpa harus menyakiti orang, menggoblok-goblokan orang. Yang luar biasa dari KH. Hasyim Muzadi adalah setiap melihatnya, itulah visi NU yang rahmatan lil ‘Âlamîn.

Abah Hasyim juga sering tanya kepada saya, “Bagaimana orang Kukusan dengan saya dan Al-Hikam?”.

Saya menjawab, “seperti yang abah lihat”.

Abah Hasyim menimpali, “saya ingin meminta opini sampean. Gimana orang Kukusan tentang Al-Hikam”.

Saya pun menjawabnya, “seandainya orang Kukusan tidak berkenan, maka saya yakin tidak ada yang shalat Jum’at di Al-Hikam”. Sebab parameter satu lembaga atau seorang tokoh itu diterima, dia didatangi atau tidak oleh masyarakat setempat. Dan ternyata, Masyâallâh, di lingkungan yang mayoritas jamaah Muhammadiyah ini justru bisa ada, di tengah-tengah sini, membaur dan saling mengikat satu sama lain, saling mengisi satu sama lain dan menjadi bagian yang tak terpisahkan.

Inilah yang dikatakan, lâ yabqâ ‘aliman baina al-Nâsh. Di saat satu orang alim dipanggil pulang oleh Allah, mungkin sulit bagi kita mencari orang alim yang setara. Ingin mencari orang seperti abah Hasyim Muzadi yang lain, susahnya bukan main. Seorang ulama yang kalau menegur tidak menyinggung, membangkitkan kebanggaan tapi tidak norak, menyampaikan semangat tapi tidak membakar, mengarahkan tapi tidak menyesatkan. Beliau yang menyampaikan sesuatu, betul-betul atas dasar bi al-Hikmati wa al-Mau’idzati al-Hasanat.

Nahdlatul Ulama itu mulia, karena pernah ada dua Hasyim. Pertama yakni Hadratu Syaikh Hasyim Asy’ari dan yang kedua Hadratu Syaikh Hasyim Muzadi. Sebab itulah, saya sering berdoa, allahuma a’izza al-Nahdliyyin bi al-Hasyimain. Ya Allah, muliakanlah NU dengan dua Hasyim dan dengan dua manhaj Hasyim. Betul-betul manhajnya terlihat. Manhajnya tawassut-nya terlihat, manhaj i’tidal-nya terlihat, sikap adilnya lihat. Di mana itu bisa kita lihat, semua kubu dan kelompok diajak ke tengah oleh abah Hasyim.

Saya sering ketemu pengurus organisasi lain dan meminta opini mereka-mereka terhadap abah Hasyim. Mereka mengatakan, “KH. Hasyim itu ketua NU, tapi ada rasa Muhammadiyahnya”; “Ketua NU, tapi ada rasa Persisnya”; “Ketua PBNU tapi tidak membeda-bedakan satu umat Islam dengan umat yang lain”. Lalu kemudian apa rahasianya?

Rahasianya beliau tampak pada keluasan wawasan, keluwesan sikap dan kelembutan hati beliau ketika berhadapan dengan sesama umat Islam. Karena itu menjadi yang menjadi pertanyaan saya, ketika setiap kali beliau mengutip surah al-Mâ’idah ayat 105, terjawablah oleh KH. Cholil Nafis tadi, yaitu: ‘alaikum anfusakum, lâ yadhurrukum man dhalla idzâ ihtadaitum (jagalah dirimu, tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk). Lalu yang tidak pernah ditinggalkan beliau adalah Ilallâhi marji’ukum jamî’an fa-yunabbiukum bimâ kuntum ta’lamûn (hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan). Bahwa penegasan beliau, semuanya kembali kepada Allah. Jadi, suhbat (pertemanan) saya selama empat tahun, seakan-akan pertemanan puluhan tahun. Dengan penyampaian yang luas.

Kalau iman sampean kuat, sampean istiqamah maka tidak akan ada yang mampu menggoyahkan imanmu. Kembali kepada identitas diri dan jati diri, dan jangan melupakan: arih nafsaka mina al-Tadbîri fama qôma bihi ghairuka ‘anka la taqum bihi linafsika (istirahatkanlah dirimu dari mengurus duniamu, apa yang telah diselesaikan oleh orang lain untukmu, kamu tidak perlu mengurusnya untuk dirimu). Maknanya, pasrahlah kepada Allah (setelah selesai bekerja, red).

Satu lagi pesan beliau kepada saya, lugguhna jawane – lakokno syariate. Pesan ini kata beliau disampaikan oleh Sunan Kalijaga ketika berdakwa. Maknanya, jangan pernah hilangkan identitas diri dan jati diri, tapi di satu sisi jangan pernah lupakan syariat. Pesan ini sangat bermanfaat menghadapi situasi seperti sekarang ini. Misalnya, isu Islam Nusantara. Masyarakat kebingungan, ada yang mengatakan, “Islam Nusantara itu Islam identitas Indonesia”, “Islam Nusantara adalah untuk mengembalikan khittah ke-Islam-an Indonesia” dan lainnya. Saya kembali kepada pesan abah, tetap pada identitas tapi tidak melupakan syariat. Jadi apa Islam Nusantara? Saya hanya melihat sebagai sebuah kajian tentang fenomena di masyarakat bukan mazhab dan bukan pula gerakan, dia hanyalah fenomena budaya, bertemu nilai-nilai Islam dengan budaya masyarakat setempat. Sebab, dalam kaidah Fikih, tarku al-Âdah ‘adâwah (meninggalkan adat istiadat baik dapat menimbulkan permusuhan). Misalnya, Haul ini kebiasaan baik.

Haul ini adalah penalaran Ushul Fikih bahwa dzikru al-Sâlihin tanzilu al-Rahmat. Sebagaimana yang dinyatakan Tabi’in, Fudhail bin Iyadh. “Selalu megingat orang saleh, Allah akan menurunkan rahmat”. Apa itu rahmat? Bisa jadi sebagai pemahaman nilai-nilai, bisa jadi bangkitknya semangat untuk menghidupkan nilai-nilai yang ditinggalkan, bisa jadi rahmat itu makin eratnya hubungan persaudaraan di antara kita sepeninggal orang saleh. Maka kita sebut, curahkan rahmat untuk beliau. Di mana beliau, kalau kita sebut kebaikannya, tidak ada habis-habisnya. (Makmun Rasyid/Depok)