Meneguhkan Kembali Islam Rahmatan lil Alamin


Meneguhkan Kembali Islam Rahmatan lil Alamin
Oleh : Dr.(cand) Hamzah, M.A


Depok, Walisongoonline
– Marilah kita tingkatkan kualitas takwa dengan menjauhi segala larangan-Nya dan kita tingkatkan ketaatan dengan menjalankan perintah-Nya. Sesungguhnya di antara perintah itu mengutamakan kebersamaan dan kepentingan bersama demi mengalahkan kepentingan pribadi dan golongan. Sudah mafhum bagi masyarakat, bahwa carut-marut kondisi bangsa ini sangat kompleks. Meski demikian—tanpa bermaksud menyederhanakan masalah—jika dirunut maka akan bermuara pada menipisnya rasa kebersamaan. Satu rasa, satu bangsa seiman dan se-Tuhan.

Dalam konsep Fikih, rasa kebersamaan ini dituangkan dalam teori maslahah ‘ammah. Artinya, kepentingan bersama dan kebutuhan khalayak harus diutamakan di atas segala macam kepentingan, baik individu maupun golongan. Sehingga terciptalah tatanan kehidupan yang kondusif. Dengan demikian, syari’at akan menemukan makna hakikinya sebagai sebuah jalan ‘syara’ yang menuntun kehidupan ummat. Dalam Al-Qur’an, perwujudan syariah yang diwahyukan kepada Rasulullah SAW merupakan rahmat bagi alam semesta. “Kami mengutus Rasulullah hanya bertujuan memberi rahmat bagi alam semesta” (Qs. Al-Anbiyâ’ [21]: 107).

Dalam konteks rahmatan lil alamin ini, terdapat tiga macam persaudaraan (ukhuwwah). Pertama, ukhuwwah Islamiyyah. Persaudaraan yang tumbuh dan berkembang atas dasar keagamaan (Islam), baik skala lokal, nasional maupun internasional. Ukhuwah Islamiyah dapat terwujud manakala sesama umat Islam saling menghormati. Perbedaan tidak boleh mengantarkan kepada perpecahan. Bukankah احتلاف امة رحمة (perbedaan dikalangan umat adalah rahmat), sedangkan واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا (berpegang teguhlah pada tali [agama] Allah dan janganlah bercerai berai). Artinya, perbedaan adalah rahmat sedangkan perpecahan adalah laknat. Pertanyaan yang perlu diajukan adalah mau kemana Anda bukan dari mana Anda. Darimanapun asal kelompok Anda, tujuan kita adalah sama yaitu lâilâhaillallâh muhammad rusûlullâh.

Kedua, ukhwuwah wathaniyyah. Persaudaraan yang tumbuh dan berkembang atas dasar kebangsaan. Ketiga, ukhuwwah basyariyyah. Persaudaraan yang tumbuh dan berkembang atas dasar kemanusiaan. Ketiga macam persaudaraan itu harus diwujudkan secara berimbang menurut porsinya masing-masing. Satu dengan lainnya tidak boleh dipertentangkan, sebab hanya melalui tiga dimensi itulah rahmatan lil ‘alamin akan terealisasi.

Sebagai rahmat bagi seluruh alam, Islam mengajarkan kita untuk mengajak orang dengan cara cara yang baik. “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (Qs. Al-Nahl [16]: 125).

Dalam ayat lain disebutkan: “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut” (Qs. Thâha [20]: 44).

Ibnu Katsir, ketika mengomentari ayat ini berkata: “Ada pelajaran sangat berharga yang dapat dipetik dari padanya, yaitu Fir’aun yang terkenal keangkuhan dan arogansinya, sementara Nabi Musa sebaik-baik manusia pilihan Allah saat itu, namun demikian Allah memerintahkannya untuk tidak berbicara dengan Fir’aun kecuali dengan perkataan yang santun dan lemah lembut. Kata-kata cacian tidak akan membuat simpati orang, justru hanya menanamkan rasa dendam di hati dan membuat orang yang berseberangan semakin nekad dan keras kepala.”

“Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” (Qs. Ali Imrân [3]: 159).

Sekarang sudah banyak terjadi di media sosial, kata-kata umpatan, makian ataupun gambar-gambar yang direkayasa. Karakter bangsa yang dulu ramah sekarang mulai tercerabut dari akarnya. Sikap semacam ini tentu bukan karakter asli bangsa Indonesia, apalagi karakter orang beragama. Kita kadang latah menyebarkan berita tinggal copy paste tanpa klarifikasi atau tabayun.

Maka, tidak selayaknya seorang Muslim menjadi bulan-bulanan korban media. Sebab sejatinya Islam telah memiliki panduan yang jelas dalam menyikapi berita. Sebagaimana dijelaskan Allah ta’ala dalam firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka Tabayyunlah (periksalah dengan teliti), agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” (Qs. Al-Hujurât [49]: 6).

Dalam sejarah, kehadiran Islam sejak awal menunjukkan sikap-sikap yang merangkul bukan memukul. Rasulullah mengawali dakwahnya di Makkah secara pelan-pelan: mulai dari keluarga, kawan-kawan terdekat, orang-orang tertindas seperti budak, dan seterusnya. Yang penting dicatat, tahapan demi tahapan dilalui tanpa paksaan, apalagi kekerasan. “Tidak ada paksaan dalam agama” (Qs. Al-Baqarah [2]: 256).

Tanpa paksaan menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang toleran dan rahmah bukan agama yang marah-marah. Tidak seharusnya hanya karena terpaku dengan hukum-hukum Fikih, akhlak dan etika ditinggalkan. Bukan hanya Fikih yang hanya hitam-putih tapi juga perlu Fikih dakwah. Dakwah berarti mengajak bukan menghakimi. Kita perlu meneriakkan Allahu Akbar tetapi juga perlu bersabar. Beragama bukan hanya lurus tetapi juga toleran. “Agama yang paling dicintai Allah adalah agama yang hanîf (lurus) dan toleran” (HR. Bukhari).

Hadis tentang karakter agama yang Al-Hanafiyah Al-Samhah ini kian menopang argumentasi Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin). Islam tegak di atas pondasi iman akan Keesaan Tuhan (tauhid) yang kokoh, namun tetap lembut dalam pergaulan yang luas, menembus batas-batas suku, ras, warna kulit, status sosial, bangsa, dan lain-lain.

Akhirnya Marilah kita bela agama dengan cara-cara yang bijaksana. Semoga kita diberi petunjuk oleh Allah untuk tetap di jalanNya.