Maulid Nabi 2019 : Menelisik Tradisi Maulid Nabi di Indonesia

Oleh : Nuzulul Ilma
Mahasantri PESMI Al-Hikam Depok

Hasil gambar untuk ilustrasi tradisi maulid nabi"
Sumber : Darunnajah.com

Gema shalawat mulai terdengar di berbagai belahan di dunia. Seolah menjadi alarm bagi umat muslim akan kehadiran bulan Rabiul Awal, yaitu bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Maulid Nabi, merupakan tradisi yang telah berjalan sampai sekarang. Tradisi ini adalah bentuk pengungkapan kecintaan dan kerinduan kaum muslim terhadap Nabinya dalam bentuk peringatan di hari kelahiran beliau. Di Indonesia, tradisi Maulid Nabi dirayakan dengan cara yang berbeda-beda di masing-masing daerah. Pemerintah Indonesia sendiri, telah menjadikan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai Hari Libur Nasional yang mana itu merupakan salah satu cara untuk menghargai dan mendukung tradisi maulid di negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim.

Mari kita coba mulai melihat tradisi maulid nabi dari daerah Jawa, yaitu di Yogyakarta, tepatnya di Dusun Mlangi. Membaca shalawat merupakan tradisi inti yang dilakukan oleh masyarakat di Dusun Mlangi. Shalawat yang dibaca pada perayaan maulid ini diambil dari kitab syaraful anam yang isinya tentang sejarah Nabi Muhammad SAW yang berbahasa arab dan dibaca dengan lagu/gending jawa, sehingga jika tidak didengarkan secara sungguh-sungguh akan terdengar seperti tembang jawa. Sedangkan di Masjid Besar Yogyakarta sendiri, ribuan orang bertumpah ruah untuk merebutkan gunungan[1] yang akan dibagikan. Kegiatan ini dipercaya oleh sebagian besar muslim jawa bahwa acara Grebeg[2] ini bisa menjadi sarana ngalap berkah[3].

Lain halnya dengan tradisi maulid di Banten. Banten memang begitu kental dengan budaya Islam. Tradisi di Banten sendiri, Dzikir Muludan biasanya dimulai dengan alunan seni rebana yang membuka rangkaian perayaan. Rebana biasanya disandingkan dengan pembacaan shalawat dan maulid nabi yang kental nuansa keislamannya. Perayaan semakin meriah dengan adanya arak-arakan serta sajian aneka makanan. Demikian pula dengan pembakaran petasan membuat suasana perayaan semakin semarak. Uniknya, semua itu dilakukan warga sekitar sambil berkeliling kampung.

Sekarang kita coba menengok tradisi ini ke luar jawa, sebagai contoh yaitu tradisi Maulid Nabi masyarakat Sasak di Pulau Lombok. Kebiasaan yang berlaku dalam intern suku Sasak, khususnya dalam memulai upacara Perayaan Maulid Nabi yaitu menyiapkan tiga jenis dulang[4]: dulang nasik, dulang jaje, dulang penamat. Ketiga jenis dulang ini akan dijadikan sebagai sajian bagi para tamu undangan yang hadir semenjak upacara berlangsung. Ada juga dulang yang dinaikkan ke masjid. Hal itu menjadi suatu kebiasaan suku Sasak yang tidak bisa ditinggalkan, sehingga tidak heran masing-masing kepala keluarga menaikkan dulang-dulang tersebut tanpa pertimbangan-pertimbangan yang mengkhawatirkan, semisal jatuh miskin, melarat, dan lain-lain.

Berbeda dengan tradisi maulid dari suku Bugis, Sulawesi Selatan, yang menjadikan pembacaan kitab al-barzanji (syair-syair pujian kepada Nabi) dengan bahasa Bugis dalam acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Ada satu hal yang menarik dan berbeda yaitu al-barzanji yang biasanya pada daerah lain dibacakan dengan teks aslinya yaitu bahasa Arab diganti dan dibaca dalam Bahasa Bugis. Sampai di sini dapat dilihat bagaimana aktivitas keagamaan -sebagai proses dari pemaknaan dan pengamalan hadits baik langsung ataupun tidak- mulai menunjukkan corak unik ketika bersentuhan dengan kultur masyarakat tertentu.

Terakhir, kita coba meloncat lebih jauh ke pulau Sumatra, tepatnya di daerah Pariaman. Tradisi Maulid ini sering pula disebut mauluik, bulannya disebut bulan mauluik. Di dalam setiap acara Maulid Nabi selalu dilakukan beberapa aktivitas ritual, salah satu hal yang tidak kalah menarik adalah malamang, bahkan sudah menjadi keharusan dalam ritual ini, sebagaimana juga dilakukan di Nagari Gunuang Padang Alai. Malamang adalah aktivitas memasak lemang berupa makanan dari beras pulut atau ketan atau campuran pulut dengan pisang yang dimasak dengan santan kelapa dalam buluh[5] dengan cara mendiang atau menegakkan buluh dekat api.

Indonesia dengan kebhinekaannya mempunyai cara yang berbeda-beda untuk mengekspresikan tradisi Maulid Nabi, namun hal itu tetap tidak menghilangkan esensi Perayaan Maulid Nabi itu sendiri, tetap sakral dan mampu mengarahkan umat muslim untuk mengungkapkan kecintaan dan kerinduannya kepada Nabi Muhammad SAW. Namun yang perlu diingat pula, dalam merayakan tradisi ini perlu  untuk  menghindari  terjadinya  perilaku berlebihan dalam mengaktualisasikan   kecintaan   kepada   Nabi. Sikap berlebihan di sini adalah sesuatu yang menyimpang dari syariat yang telah ditentukan dan ini bisa  saja  terjadi dalam hal ini. Pandangan  yang pro dan kontra terhadap. Dua pandangan yang bentuk luarnya kontradiktif tersebut diperlukan untuk  menciptakan asas keseimbangan (equilibrium). Seimbang, karena menempatkan Nabi sebagai  manusia pilihan yang kelahirannya patut diperingati, namun dalam waktu yang sama tetap mengindahkan norma yang telah digariskan oleh syariat.

Editor : Safarul Hidayat

 Referensi

Aprisia, S., Loravianti, S. R., & Yulika, F. (2016). Tradisi Malamang Dalam Prosesi Acara Maulid Nabi Saw Di Pariaman. Bercadik: Jurnal Pengkajian Dan Penciptaan Seni3(1), 37.

Hamim, T. (2014). Tradisi Maulid Nabi Di Kalangan Masyarakat Pesantren. Religió: Jurnal Studi Agama-Agama4(2).

Mansyur, Z. (2005). Tradisi Maulid Nabi Dalam Masyarakat Sasak. Ulumuna9(1), 90-103.

Muttaqin, A. (2016). “Barzanji Bugis” Dalam Peringatan Maulid: Studi Living Hadis Di Masyarakat Bugis, Soppeng, Sul-Sel. Jurnal Living Hadis1(1), 129-150.

Nadia, Z. (2011). Tradisi Maulid Pada Masyarakat Mlangi Yogyakarta. Esensia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin12(2), 367-384.

Raditya, Iswawa (2018). Grebeg Maulud Dan Cara Syiar Islam Para Wali. Tirto: Sosial Budaya. Diakses 24 November 2019.


[1] Susunan berbagai bahan pangan dan makanan yang ditata berbentuk kerucut menyerupai gunung.

[2] Upacara berkala yang diadakan masyarakat Jawa untuk memperingati suatu peristiwa penting.

[3] Ngalap Berkah atau Tabarruk adalah mencari berkah berupa tambahan kebaikan dan pahala dan setiap yang dibutuhkan hamba dalam dunia dan agamanya.

[4] Suatu tempat yang digunakan untuk ngakeul nasi yakni mgangaduk-ngaduk nasi yang baru matang sambil dikipasi sebelum disimpan ke tempatnya.

[5] Tanaman berumpun, berakar serabut batangnya beruas-ruas, berongga, dan keras.

Close