Toleransi Demi Harmoni

Oleh : Safarul Hidayat
Mahasantri STKQ Al-Hikam Depok

Hasil gambar untuk toleransi"
Sumber Foto : Kaskud.co.id

Siapa yang tidak menginginkan kehidupan yang harmoni, aman, dan nyaman di negera Indonesia yang tercinta ini ? Semua rakyat Indonesia pasti menginginkan hal-hal tersebut bahkan semua orang yang ada di dunia. Dalam bermasyarakat, kita bisa mendapatkan hidup yang harmonis dan nyaman jika kita bertoleransi antar sesama, seperti keluarga, tetangga, kawan dan yang lainnya, walaupun mereka berbeda dengan kita baik dari agama, suku, ras dan perbedaan yang lainnya. Lalu, apa itu toleransi ? Dr. al-Luhaidan mendefinisikan bahwa toleransi adalah mengambil kemudahan (kelonggaran) dalam pengamalan agama sesuai dengan nash-nash syariat, sehingga pengamalan tersebut tidak sampai pada tasyaddud (terlalu ketat), tanfir  atau menyebabkan seeorang menjauh dari Islam dan Tasahul atau meremehkan agama.[1] Allah swt. menjelaskan banyak tentang toleransi di dalam al-Qur’an yang mempunyai maksud bahwa kita harus bertoleransi dalam segala aspek kehidupan dan kepada siapapun termasuk kepada non-muslim.

Dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 256 Allah swt. menjelaskan bahwa Dia dan Rasul-Nya membebaskan manusia untuk mengikuti ajaran agama mereka. Tidak ada paksaan sama sekali untuk mengikuti ajaran Islam atau masuk ke dalam Islam sebagaimana yang difirmankan dalam surat al-Baqarah : 256 yaitu لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ yang artinya “Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam.” Tidak ada pemaksaan untuk beriman, karena iman adalah keyakinan dalam hati sanubari dan tak seorang pun dapat memaksa hati seseorang untuk meyakini sesuatu, apabila dia sendiri tidak bersedia. Maka dari itu, terserah kepada setiap orang, apakah akan beriman atau tidak, setelah ayat-ayat Allah swt. sampai kepada mereka. Inilah etika dakwah dalam Islam. Adapun suara-suara yang mengatakan bahwa agama Islam dikembangkan dengan pedang, itu hanyalah tuduhan dan fitnah belaka.Umat Islam di Makkah sebelum berhijrah ke Madinah hanya melakukan shalat dengan cara bersembunyi, dan mereka tidak mau melakukannya secara demonstratif di hadapan kaum non-muslim.

Demikian juga, segala apa yang dilakukan oleh manusia, semuanya itu menjadi tanggung jawab mereka masing-masing, artinya mereka akan mendapatkan akibat dari apa yang dilakukan baik itu kebaikan maupun keburukan. Seperti hidup di zaman ini, biarlah agama-agama lain menyembah sesuai dengan ajaran mereka, kita harus menghormati mereka dan tidak mengganggu mereka. Ini adalah suatu bentuk toleransi yang mengacu pada surat al-Baqarah tersebut.

Selain al-Qur’an, ada banyak hadis yang disabdakan oleh Rasulullah saw. mengenai hal ini. Salah satunya adalah Rasulullah saw. dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bersabda:

افضل الايمان الصبر و السماحة[2]

“Iman yang utama adalah kesabaran dan toleran.”

Islam sangat menekankan toleransi, bahkan toleransi adalah manifestasi dari iman seseorang dan toleransi adalah salah satu dari bagian dari Iman yang utama. ayat dan hadits tersebut menunjukkan bentuk toleransi yang diajarkan Islam dan memiliki makna bahwa kita diperintahkan untuk bertoleransi dalam segala aspek kehidupan sesuai dengan Syariah yang telah ditentukan.. Bayangkan, jika di dunia ini semua orang bisa bertoleransi, maka hidup akan menjadi damai, harmonis, saling membantu, tidak ada perpecahan atau bahkan perang, persatuan semakin kuat, dunia menjadi aman, dan hidup menjadi indah.

Toleransi dalam Islam pada awalnya ditandai oleh Piagam Madinah[3] yang berisi aturan untuk berbagai agama, suku dan perbedaan lainnya. Piagam Madinah diprakarsai oleh Rasulullah saw. Beliau mengajarkan kepada kita pentingnya toleransi dalam kehidupan sosial. Banyak lagi yang akan kita dapatkan dalam kehidupan sosial jika kita bertoleransi, seperti berguna agar dapat menghindari adanya perpecahan, memperkuat silaturrahim, merekatkan hubungan antar manusia, meningkatkan rasa persaudaraan, mampu menahan amarah, meningkatkan rasa nasionalisme, mudah mencapai kesepakatan, dapat menghilangkan perasaan diri yang paling benar, dan tentu saja, toleransi dapat memperkuat iman.

Dunia ini akan terasa sangat indah jika toleransi bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan semua dampak dari toleransi itu akan terjadi. Itulah berbagai manfaat dan dampak yang ditimbulkan dari toleransi yang kita lakukan. Bukan hanya dampak kecil, tetapi dampak besar terjadi karena toleransi. Jadi, marilah kita mulai dari diri kita sendiri untuk menumbuhkan toleransi dan kemudian menyebarkannya ke dunia sehingga dapat tercipta masyarakat yang harmonis, negara yang aman dan juga bisa tercapai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur[4], amin.

Mantan Ketua PBNU (1999-2009) Al-Maghfurlah KH. Ahmad Hasyim Muzadi menganalogikan toleransi agama seperti meja dan kolong meja. Setiap meja pasti memiliki kolong karena itu masuk bagian dari sunnatullah. Hampir tak mungkin ada meja tanpa kolong. Sebagaimana kerukunan antarumat beragama dalam sebuah negara yang plural, itu juga keniscayaan. Jika kerukunan lintas agama terkoyak, kehidupan bernegara menjadi tidak sehat dan tidak akan mampu mempertahankan eksistensinya sebagai negara.

Di atas meja biasanya diletakkan sebuah taplak penutup meja, fungsi taplak selain sebagai penghias, ialah melindungi meja. Taplak itu bisa diibaratkan sebagai toleransi, sedangkan meja ibarat agama atau keyakinan. Toleransi bukan esensi agama, tapi melindungi hubungan antarumat beragama. Taplak meja mudah dilipat dan dibawa ke mana-mana, tapi meja tidak perlu dilipat dan dibawa ke mana-mana. Demikian toleransi itu bisa dibawa ke mana-mana, tapi agama tidak bisa digeser pada posisi yang bukan pada tempatnya.

Kita harus toleran terhadap orang lain dalam semua aspek kehidupan untuk mencapai tujuan kita, hidup bahagia dan harmoni. Jika tidak, maka dunia akan kacau. Perpecahan terjadi di mana-mana, saling menuduh dan mengejek, terutama di media sosial. seperti perang tweet, membuat meme untuk saling menjelekkan. Sudah sepatutnya kita sadar akan satu hal bahwasanya kita semua adalah saudara atas dasar satu bangsa, yakni Bangsa Indonesia.

Referensi:

https://mediaindonesia.com/read/detail/118882-toleransi-beragama-ala-kiai-hasyim-muzadi (diakses pada hari Rabu, 27 November 2019)

Kemenag RI. 2010. Al-Qur’an dan Tafsirnya. Edisi yang Disempurnakan. Jakarta: Kemenag RI.

Yahya, Ahmad  Syarif. 2017. Ngaji Toleransi. Jakarta: Elex Media Komputindo.

.محمد المدعو فيض القدير شرح الجامع الصغير. الجزء الثاني  


[1] Ahmad  Syarif Yahya. Ngaji Toleransi. (Jakarta: Elex Media Komputindo.2017) H. 3

[2].محمد المدعو فيض القدير شرح الجامع الصغير. الجزء الثاني  No. 1244 H. 29

[3] Konstitusi Islam yang  telah berhasil merekatkan hubungan sosial-politik dari warganya yang  plural.

[4] Negara yang  makmur dan diridhai oleh Allah swt. Istilah ini terdapat dalam al-Qur’an surat Saba’ : 15

Close