Tribun Hijau Negeriku[1]

Oleh : Vira Kurniawan
Mahasantri PESMA Al-Hikam Depok

Hasil gambar untuk hari pohon sedunia"
Sumber Foto : Femina.co.id

Bumi merupakan benda angkasa yang kita kenal dengan sebutan planet, satu di antara ribuan planet di tata surya dan memiliki peradaban yang begitu menakjubkan. Peradaban bumi sangat berarti di alam semesta bagi kehidupan manusia. Banyak penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan untuk mempelajari sifat biologis dari setiap mahluk hidup yang ada di bumi. Berabad-abad penelitian yang dilakukan selalu berkembang pesat dari waktu ke waktu, mulai sistem yang sederhana hingga sistem terbaru di era sekarang. Salah satu penelitian yang bisa diambil contohnya adalah sistem pengklasifikasian hutan dan fungsi dari hutan tersebut.

Selama ini, hutan yang kita tahu hanyalah sebagai tanaman liar yang hidup dan tidak terawat. Ternyata di balik itu semua, hutan memiliki peran penting dalam menjaga kestabilan bumi. Di dalam hutan banyak tanaman yang berfungsi sebagai pencegah terjadinya bencana. Bencana yang timbul akibat kerusakan hutan tidak hanya berdampak di suatu wilayah, namun juga bisa berdampak pada keseimbangan dunia. Kerusakan hutan bisa terjadi akibat dari ulah manusia dan terkadang disebabkan oleh alam itu sendiri.

Indonesia memiliki peran penting dalam menjaga kestabilan sistem paru-paru dunia. Hutan merupakan salah satu penyebab Indonesia memiliki peran penting tersebut. Menurut klasifikasi, hutan mangrove[2] di dunia mencapai seluas 16.530.000 ha. Terbesar pertama adalah Asia 7.441.000 ha disusul oleh Afrika 3.258.000 ha dan Amerika 5.831.000 ha sedangkan di Indonesia memiliki luas 3.735.250 ha. Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa hutan mangrove yang ada di Asia hampir 50% berada di Indonesia dan hampir 25% luas hutan mangrove dunia (Onrizal,2010).

Hutan mangrove yang ada, haruslah kita jaga dengan baik sebab di dalamnya terdapat beribu ekosistem yang butuh tempat untuk meneruskan rantai kehidupan. Sebagai mahluk yang diciptakan dangan kelebihan yang dimiliki, manusia harus bisa menjaga dan merawat alam dengan baik. Selain menjadi rumah ribuan mahluk hidup, hutan juga menjaga kestabilan ozon di permukaan bumi, sebab sebagian besar energi disimpan oleh tumbuhan dalam bentuk biomasa. IPROJ[3] (2000) dalam Heriansyah dan Mindawati (2005) mengasumsikan bahwa sekitar 50% dari biomasa merupakan karbon yang tersimpan dalam tumbuhan.

Potensi terbesar yang mampu diserap oleh hutan sebesar 31,948 ton/CO2/ha merupakan tanaman dari jenis Eucalyptus grandis[4] disusul oleh tanaman jenis Acacia mangium[5] sebesar 30,100 ton/CO2/ha dan masih banyak jenis tanaman yang lain. Dengan hal ini, maka peran hutan sebagai pengaman efek rumah kaca sangat efektif apabila kondisi hutan terjaga dengan baik. Dengan begitu, hutan bisa mencegah terjadinya perubahan iklim global.

Melalui hari pohon internasional ini, kita harus bisa lebih peduli terhadap alam sekitar. Banyak sekali perubahan iklim yang telah kita rasakan akibat dari rusaknya hutan sebagai paru-paru dunia. Salah satu dampak yang kita rasakan di Indonesia adalah musim kemarau berkepanjangan dan panas yang ekstrem akhir-akhir ini. Semua ikut diakibatkan karena adanya perubahan iklim di Indonesia akibat meluasnya lubang ozon di permukaan bumi.

Hari pohon internasional merupakan sebagai wadah pengingat agar kita bisa lebih peduli terhadap lingkungan. Dengan rasa peduli yang kita miliki, maka secara tidak langsung kita telah peduli terhadap kehidupan anak cucu kita di masa depan.

Sumber Rujukan:

Haris, Risma. “Keanekaragaman Vegetatif dan Satwa Liar Hutan Mangrove.” Jurnal Bionature 15, no. 2 (2014): 117-122.

Ilahude, A. G., and A. Nontji. “Oseanografi Indonesia dan Perubahan Iklim Global (EL NINO dan LA NINA).” Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, n.d.: 1-12.

Junaedi, Ahmad. “Kontribusi Hutan Sebagai Rosot Karbondioksida.” Info Hutan V, no. 1 (2008): 1-7.

Rasyid, Fachmi. “Permasalahan dan Dampak Kebekaran Hutan.” Lingkar Widyaiswara 1, no. 4 (2014): 47-59.


[1]  “Tribun Hijau Negeriku” merupakan judul artikel yang dibuat  oleh Vira Kurniawan dalam memperingati hari pohon internasional

[2] Hutan Mangrove merupakan ekosistem hutan daerah pantai dari kelompok pepohonan yang berkadar tinggi

[3] JIPRO (Journal of Intellectual Property)-Journal UII

[4] Ecalyptus grandis merupakan tumbuhan tinggi dengan kulit kayu halus, kasar di pangkal berserat atau bersisisk, berwarna abu abu kecoklatan

[5] Acacia mangium adalah tanaman kayu anggota dari marga Acacia yang banyak tumbuh di Papua Nugini, Papua Barat dan Maluku

Close