Hari Bahasa Arab Internasional

Artikel Internasional
Berbagi :

Oleh Muhammad Luthfi
Mahasantri STKQ Al-Hikam Depok

Bahasa adalah kunci utama pengetahuan. Memegang kunci utama bahasa berarti memegang kunci dunia. Sebab, sejuta pengetahuan dan peradaban yang tercipta semuanya berawal dari bahasa, bahkan sejarah tidak akan terwujud jika tidak ada bahasa dan bahasa merupakan kunci utama untuk membuka  jalan pencerahan bagi masa depan manusia. Tak heran jika Sayyidina Ali Ra. pada 14 abad yang lalu berwasiat
  من عرف لغة القوم أمن من مكرهم
Barangsiapa yang mengetahui bahasa suatu kaum maka ia akan selamat dari tipu dayanya

Dari sini kita bisa melihat betapa pentingnya penguasaan terhadap bahasa-bahasa.  Jika kita melihat sejarah Indonesia, ternyata Indonesia pernah memiliki tokoh yang mampu menguasai sekitar sembilan bahasa asing yaitu KH. Agus Salim,  beliaulah yang dikenal dengan sebutan Bapak Diplomasi.Kecakapannya dalam berkomunikasi sangat lihai dan tak diragukan lagi, bahkan beliau sering menjadi pembicara dalam event-event yang berkala internasional.

Maka penting bagi kita untuk belajar dan melatih diri untuk meningkatkan kualitas komunikasi kita, tentunya kualitas komunikasi seseorang ditentukan dari kemampuannya dalam menguasai suatu bahasa. Di sinilah mengapa mempelajari sebuah bahasa menjadi sangat penting, terutama bahasa Arab, karena bahasa arab merupakan bahasa tertua dari semua bahasa-bahasa  di bumi.

Terdapat hadits Nabi Saw. yang diriwayatkan oleh Thabrani dan Baihaqi bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda “Cintailah bahasa Arab karena tiga hal; karena aku adalah orang Arab, dan al-Qur’an diturunkan dengan berbahasa arab, serta bahasa penduduk Surga adalah bahasa Arab”.
Dari hadits tersebut dapat dipahami bahwa bahasa Nabi Adam as adalah bahasa Arab, disebabkan tempat tinggal pertama beliau adalah di Surga sebelum kemudian beliau diturunkan ke permukaan bumi dan menjadi penduduk bumi pertama bersama istrinya Hawa. Dari hal itu dapat disimpulkan bahwa ternyata bahasa yang paling tua di muka bumi ini ialah bahasa Arab.

Di samping itu, bahasa arab merupakan bahasa tertua di bumi ternyata bahasa Arab pernah menjadi  bahasa terpopuler dalam sejarah kemajuan dan peradaban dunia dikarenakan banyaknya bermunculan para ilmuwan muslim yang mengarang buku-buku yang berbahasa arab. Dari hal –hal tersebut, maka menjadi tampak sumbangsih bahasa Arab dalam sejarah kemajuan Islam. 

Jadi, mempelajari bahasa Arab merupakan salah satu kunci pokok untuk membuka pintu ilmu pengetahuan, baik agama, sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan. Dalam bukunya yang fenomenal, History of The Arabs (1973), Philip K. Hitti mengatakan bahwa pada abad pertengahan, selama ratusan tahun bahasa Arab merupakan bahasa ilmu pengetahuan, budaya, dan pemikiran progresif di seluruh wilayah dunia yang beradab. Antara abad ke-9 dan ke-12, semakin banyak karya filsafat, kedokteran, sejarah, agama, astronomi, dan geografi ditulis dalam bahasa Arab dibandingkan dengan bahasa-bahasa lainnya.

Dari sinilah eropa yang gelap pada zaman pertengahan itu mulai terang, dan melahirkan zaman pembaharuan eropa setelah mengambil dan memindahkan ilmu pengetahuan dan kebudayaan dari  kaum muslim ke dunia barat ( Iman subakir,1980:2). Seorang orentalis barat belumlah lengkap rasanya , apabila ia belum mampu dan mengerti bahasa Arab. Bagi  mereka bahasa Arab sangatlah penting, karena untuk membaca dan mengetahui karya cendikiawan muslim tidaklah cukup bila hanya melalui terjemahan. Tidak semuanya akan diterjemahkan begitu saja, tentu hanya akan dipilih mana yang baik dan bagus. Inilah yang mengakibatkan mereka mempelajari bahasa Arab secara sungguh-sungguh, sehingga bahasa Arab cepat sekali berkembang di kalangan barat sejak abad pertengahan sampai sekarang.

Dengan berkembangya bahasa Arab di kalangan mereka (Dunia Barat), telah banyak buku-buku yang berhasil diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia, dan menjadi buku-buku rujukan dan pegangan para intelektual dunia. Satu catatan dari Al Badawi, bahwa ilmu hisab (matematika) yang berasal dari Arab masuk ke Eropa pada abad ke-13. Ilmu dengan perhitungan praktis yang mempunyai bilangan desimal (al ghubar) ini dibawa oleh Leonardo de Pisa. Masih dalam bidang matematika, ilmuan terkenal yang berasal dari Arab memperkenalkan temuannya dengan bahasa Arab yaitu angka 0 (nol), temuan ini pertama kali ditemukan dan dikenalkan oleh al-Khawarizmi. Lalu di bidang Kedokteran yang mana sangat diakui oleh Dunia Barat.

Kedokteran merupakan salah satu temuan yang berasal dari negara Arab, tokoh penemunya adalah Ibnu Sina (Aviciena). Beliau adalah penulis kitab al-Shifa yang terkenal. Salah satu magnum opusnya, yakni al-Qanun al-Thibb menjadi fenomenal di dunia sains. Buku ini adalah satu-satunya karya kedokteran terbesar dalam sejarah umat manusia. Buku ini merupakan mahakarya yang sangat kompleks, sangat luas, dan begitu efektif. Isinya mencakup sistem kesehatan manusia, kebersihan, anatomi, ratusan penyakit, penyebab dan penyembuhannya, termasuk tuberkolosis, radang otak, demam, diabetes, dan masih banyak lagi. Kitab Qanun al-Tibb tentu saja buku berbahasa Arab. Kitab ini diterjemahkan oleh Gerard of Cremona dengan judul The Canon of Medicine. Buku ini, selama 700 tahun di Eropa tidak pernah tergantikan. Untuk menghormati Ibnu Sina, di aula kehormatan Fakultas Kedokteran Universitas Paris, terpampang gambar wajah Ibnu Sina.

Tidak sampai di situ, ternyata bahasa Arab juga memiliki peran besar dalam terbentuknya bahasa Indonesia yang telah disebutkan dalam jurnal Humaniora Vol.26  No.2 2014 hal.235-243. Dikatakan bahwa setelah diteliti, ditemukan data yang diambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Di situ disebutkan bahwa ada tiga aspek penting sumbangan bahasa Arab terhadap bahasa Indonesia, yaitu pengayaan kosa kata, pembentukan sistem gramatika, dan pengembangan budaya. Pada aspek pengayaan kosakata, kurang lebih 2.336 kosakata Arab telah berpindah menjadi kosakata bahasa Indonesia. Pada aspek pembentukan gramatika, sistem gramatika bahasa Arab digunakan dalam sistem gramatika bahasa Indonesia dalam hal pembentukan jender dan pembentukan kata yang menunjukkan arti sifat. 

Pada aspek budaya, bahasa Arab juga mempunyai andil yang tidak kecil bagi pengembangan budaya Indonesia, seperti digunakannya nama-nama dari bahasa Arab oleh kalangan umat Islam Indonesia, lembaga-lembaga keagamaan, dan kenegaraan. Selain itu, istilah-istilah bahasa Arab juga digunakan dalam ungkapan sehari-hari, kesusastraan, dan dalam sistem ketatanegaraan Republik Indonesia.

Bahasa Arab masuk ke Nusantara seiring  dengan masuknya agama Islam antara abad ke-7 sampai dengan abad ke-8 M melalui para pedagang muslim dari Arab, Gujarat, Yaman dan Persia. Islam mulai berkembang di bumi Nusantara sekitar abad ke-11 hingga ke-12 M (Hadi 1995). Artinya, usia bahasa Arab di Nusantara telah mencapai 12 abad. Dalam rentang waktu yang panjang itu, bahasa Arab telah  menjadi bagian yang amat penting dalam ekspresi budaya suku-suku bangsa di Nusantara (Madjid, 1988), bahkan aksara Arab (hijā’iyah) pernah menjadi aksara yang digunakan dalam tulis menulis di Nusantara sampai menjelang Perang Dunia I (Asy’ari, 1998). Pemerintah Belandalah yang mengganti aksara Arab menjadi Aksara Latin dan berupaya secara sistematis melemahkan pengaruh bahasa Arab di Nusantara. Pada masa penjajahan Belanda itulah peran bahasa Arab di Nusantara merosot dan hanya dipelajari di pondok-pondok pesantren.

Di pondok pesantren, bahasa Arab tidak dipelajari secara utuh sebagai alat komunikasi, melainkan terbatas sebagai alat untuk mempelajari kitab-kitab keagamaan (kitab kuning). Keadaan ini menimbulkan kesan bahwa bahasa Arab hanya layak dipelajari oleh kaum sarungan di pesantren dan tidak layak dipelajari oleh kaum priyayi di sekolahan. Hal ini diperparah dengan ketidakterbukaan sebagian lembaga pendidikan pesantren terhadap modernisasi pendidikan termasuk modernisasi pengajaran bahasa Arab.

Pandangan miring terhadap bahasa Arab ini terus berlangsung hingga beberapa dekade setelah kemerdekaan hingga kini. Dalam rumusan hasil Seminar Politik Bahasa Nasional (PBN) tahun 1975, sama sekali tidak disebut-sebut keberadaan bahasa Arab sebagai bahasa yang berkontribusi membesarkan bahasa nasional. Namun, dalam rumusan hasil seminar PBN tahun 1999 baru disebutkan dan diakui peran bahasa Arab sebagai salah satu bahasa asing yang menjadi sumber pemerkaya perbendaharaan kata bahasa Indonesia. Bahasa Arab dikatakan sebagai bahasa asing kedua setelah bahasa Inggris yang memiliki kedudukan khusus, yaitu sebagai bahasa keagamaan dan budaya Islam.

Editor : Safarul Hidayat


Berbagi :