Hari Bela Negara 2019

Artikel Nasional
Berbagi :

Oleh Muadz Mukhlis Fuadi
Mahasantri STKQ Al-Hikam Depok

Indonesia merupakan negeri yang memiliki banyak pulau, kurang lebih terdapat sekitar 17.504 pulau yang mengelilingi Khatulistiwa. Dari pulau sedemikian banyak di negeri Indonesia, terdapat juga berbagai macam suku, agama, ras dan budaya. Ada banyak macam suku di Indonesia yang dapat ditemui mulai dari suku Jawa, Sunda, Madura, Papua dan lain-lain. Setiap suku memiliki ciri khas yang berbeda-beda mulai dari segi bahasa, pakaian, adat, dan panganan. Suku Jawa misalnya, orang jawa sangat terkenal dengan tata kramanya mulai dari cara berbicara dengan anak-anak sampai orang yang lebih tua ada aturan-aturanya sendiri.

Di Jawa ada berbagai macam tingkat kesopanan dalam hal cara berbicara, di antara lain mulai dari ngoko (rendah) , madya (menengah) sampai dengan kromo (atas). Biasanya cara berbicara dengan ngoko digunakan oleh orang-orang yang lebih rendah derajatnya, misalkan seorang raja kepada rakyatnya, orang tua kepada anaknya dan lain-lain. Orang yang menggunakan bahasa ngoko berarti menghormati orang kecil dari yang berbicara. Sedangkan madya adalah cara berbicara dengan orang yang sederajatnya, misalkan sesama teman, sesama rakyat maupun sederajat yang lain. Orang yang menggunakan cara bahasa madya biasanya adalah orang yang sudah dikenal dan sudah dekat. Yang paling tinggi tingkat kesopanan berbicara adalah kromo, ini merupakan cara berbahasa yang paling sopan dalam suku Jawa, biasanya dilakukan oleh orang yang pangkat derajatnya lebih tinggi seperti berbicaranya rakyat kepada raja, anak kepada orang tua, bahkan cara meminta/berdoa kepada Tuhan itu termasuk ke dalam penggunaan bahasa kromo.

Sedangkan dari segi keyakinan misalnya ada banyak agama yang tersebar di Nusantara, mulai dari Islam, Kristen, Hindu, Budha, Khatolik dan Khonghuchu. Mereka hidup secara berdampingan dengan saling menghormati agama satu sama lain karena sudah diikat dengan semboyan bangsa Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika yaitu berbeda-beda tetapi tetap satu jiwa. Tak ada perbedaan antar agama yang menghalangi mereka untuk bisa hidup rukun dan damai. Bagi mereka, perbedaan itu bukan untuk dipersamakan tetapi mencari titik persamaan dari segala perbedaan agar bisa melaksanakan aktifitas ibadah masing-masing agama secara damai tanpa ada gangguan apapun. Maka dalam Dasar Negara Indonesia yaitu pancasila terdapat sila pertama yaitu “Ketuhanan Yang Maha Esa” Yang menjadi jaminan seluruh rakyat Indonesia untuk bisa menjalankan ibadah agama tanpa mengganggu ibadah-ibadah agama yang lain. Indonesia yang beragam-ragam agama ini merupakan manifestasi daris sila Pancasila yang pertama.

Dalam sila kedua terdapat kalimat “Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab”. Di sinilah bentuk perwujudan dari nilai-nilai agama yang esensi. Setiap agama pasti mengajarkan nilai-nilai kebaikan di dalamnya, seperti menghormati, menghargai setiap individu manusia serta tidak pilih kasih atau berbuat adil. Sikap-sikap inilah yang menjadikan bangsa Indonesia sangat ramah, dan yang terpenting adalah adanya sikap saling menghargai dan menghormati yang menjadi sebab terwujudnya kondisi yang tentram dan damai sehingga bangsa Indonesia bisa beribadah secara tenang.

Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah ruah, hampir setiap tanah di Indonesia sangat subur dan dapat langsung ditanam oleh berbagai macam tanaman. Di negeri ini terdapat 17.504 pulau yang hanya telah dihuni, belum lagi pulau-pulau yang masih belum berpenghuni yang alamnya masih terjaga, tanaman-tanaman yang tumbuh subur dan berkembang karena masih belum terjamah oleh manusia. Hutan-hutan masih dapat dijumpai di setiap daerah yang ada di Indonesia. Kekayaan alam Indonesia juga banyak yang bisa dimanfaatkan seperti batu bara, emas, logam, dan lain-lain. Semua kekayaan alam dapat dinikmati oleh rakyat Indonesia dengan bebas karena merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Semua pemaparan di atas menjelaskan tentang ke-Indonesia-an atau tentang negara yang tercinta yaitu Republik Indonesia, akankah kenikmatan-kenikmatan itu masih bisa dirasakan oleh anak-cucu kita? Sudikah jika Indonesia terpecah belah di mana tidak ada lagi rasa saling menghargai, saling menghormati ?. Dengan adanya berbagai budaya di Indonesia harusnya kita dapat memahami satu sama lain, tapi yang kita lihat dari fenomena sekarang, banyak suku, ras yang dibenturkan, masing-masing mengklaim merasa benar, akibatnya terjadilah perpecahan bahkan sampai terjadi pertumpahan darah antar saudara sebangsa. Kondisi ini juga diperparah dengan konflik di berbagai daerah yang terus terjadi hanya karena disebabkan oleh kepentingan sesaat. Budaya kita juga semakin teriris oleh budaya luar, orang-orang dengan pd-nya dan bangga melakukan kegiatan-kegiatan yang kadang tidak mencerminkan kearifan lokal dari budaya yang kita punya.

Sudah saatnya kita sadar akan problem-problem yang melanda di negeri kita ini. Sebagai warga negara, kita harus punya andil untuk menjaga, melindungi, membela dari serangan-serangan baik fisik, pemikiran, budaya dan masih banyak yang lain. Bela negara tidak selalu diartikan dengan fisik karena akan mempersempit makna jika kata bela itu diartikan dengan perang yang bersifat fisik. Mempebaharui pemikiran kita dengan terus belajar kembali tentang ke-Indonesiaan agar tidak mudah tertipu oleh bangsa-bangsa asing yang ingin menguasai atau merusak negara ini, giat bekerja supaya perekonomian negara menjadi stabil dan baik. Kesetiaan kita kepada negara harus terus ditananamkan baik oleh rakyat maupun pemerintah. Semoga kita bisa memiliki pemerintah yang bersih dan yang bisa bekerjasama dengan rakyat agar saling percaya. Cinta tanah air harus ditumbuhkan mulai sejak dini supaya tumbuh tunas-tunas bangsa yang dapat mengharumkan negara. Dengan cara-cara di atas berarti kita juga berperan dalam hal membela negara, maka pada tanggal 18 Desember 2019 kemarin yang bertepatan dengan Peringatan Hari Bela Negara, mari bersama-sama kita sebagai bangsa Indonesia mengisi kemerdekaan ini dengan nilai-nilai kebaikan sebagai wujud bakti kita kepada negara. Merdeka…!!!!!

Editor : Safarul Hidayat


Berbagi :