Gus Yusron Shidqi

Haul ke-4 KH. Hasyim Muzadi | Gus Yusron : Meneladani Abah Hasyim yang lahir tak membawa apa-apa dan mati pun tak membawa apa-apa.

Abah Hasyim Acara Berita

Walisongoonline.com, Depok | Bertepatan dengan hari Selasa (16/03/21) setelah Shalat Ashar, Pesantren Al-Hikam Depok menyelenggarakan peringatan Haul KH. Hasyim Muzadi yang ke-4. Acara ini sedikit berbeda dengan peringatan yang diadakan sebelumnya. Pasalnya untuk tiga tahun terakhir acara haul Abah Hasyim (panggilan akrab KH. Hasyim Muzadi) diselenggarakan secara terbuka dan padat agenda. Namun  pada peringatan haul yang ke 4, situasi pandemi membuat acara ini hanya berlangsung secara tertutup untuk kalangan internal saja dari para santri dan keluarga sendiri, sekalipun pihak pesantren juga tetap menyediakan platform media-live zoom dan youtube- bagi alumni, masyarakat dan semua handaitolan yang ingin mengikuti acara tersebut via online.  Sehingga melalui dua media itu pihak luar tetap bisa menyaksikan dan mengikuti rangkaian acara demi acara dengan baik..

Turut hadir juga dalam Haul kali ini, Nyai Muthammimah Hasyim, selaku istri dari Almarhum Abah Hasyim Muzadi, K.H. DR.Muhaimin Zein, teman seperjuangan beliau, lalu Gus Elbi El-Banna al-Quthbiy, anak dari pengasuh pesantren Gontor, K.H. Hasan bin Abdullah Sahal dan KH.Cholil Nafis, P.hD ‘santri langsung’ Abah Hasyim yang juga dosen di STKQ Al-Hikam.

Acara ini dipandu oleh Farid Mubarak, selaku santri mahasiswa Al-Hikam. Sebelunmnya, acara ini dibuka dengan khatmil Qur’an selama tiga hari tiga malam yang dilakukan oleh para santri hafidzul Qur’an Sekolah Tinggi Kulliyatul Qur’an (STKQ) Al-Hikam.  Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan surah Yasin dan Tahlil yang masing masing dipimpin oleh Amrina Rasyada, santri STKQ Al-Hikam dan Ustadz Adib Minanul Kholik, M.A., selaku ketua STKQ Al-Hikam. Acara ini berlangsung khidmat dan khusyu’.

Setelah pembacaan tahlil selesai, kemudian disambung dengan sambutan dari Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam, K.H. Muhammad Yusron Shiddqi, Lc. MA., putra bungsu Abah Hasyim Muzadi. Dalam hal ini beliau berpesan kepada seluruh hadirin bahwa “Meneladani Abah Hasyim bisa dilakukan dengan dua hal yang tidak bisa dipisahkan salah satunya. Pertama, Meneladani a’mal (perilaku yang dilakukan secara dzhohir) dan kedua, meneladani  ahwal (kondisi bathin). Kualitas amal seseorang itu berbeda beda sesuai dengan kualitas ahwalnya. Misalnya,  seorang yang bersedekah di waktu luang dan di waktu sempit dengan uang yang  sama, tentu sama-sama dzhohirnya tapi berbeda ahwalnya maka nilai yang dihasilkan juga berbeda. Oleh karena itu, meneladani Abah itu tidak bisa hanya dengan dzhohir (yang terlihat oleh mata saja) namun juga harus dengan ahwalnya.”

Beliau juga menceritakan bahwa salah satu kebiasaannya,  Abah ketika kedatangan tamu di malam hari pasti beliau menyuruh saya atau orang lain membeli nasi goreng buat tamu itu agar mereka betah. Sembari Abah sering menyela dan mengisi dengan nasehat dan dawuh buat para tamunya.

Beliau juga menyampaikan beberapa dawuh Abah Hasyim : “Saya itu lahir tak membawa apa-apa dan mati pun tak membawa apa-apa. Harta itu kalau mau abadi maka lepaskan jika tak mau abadi maka genggamlah.”

Salah satu doa yang selalu Abah Hasyim panjatkan adalah :

اللهم أحيني مسكينا وأمتني مسكينا

Allah kabulkan doanya dengan Allah wafatkan dalam keadaan tidak memiliki apa-apa karena semua telah habis beliau bagikan

Kiyai yang pernah menjabat sebagai Ketum PBNU selama dua periode  itu hidupnya dimuliakan orang karena ketika hidup beliau selalu memuliakan banyak orang.

Bersambung kepada sesi selanjutnya yaitu sambutan dari pihak keluarga sendiri yang kali ini disampaikan oleh Nyai Muthammimah Hasyim. Dalam sambutan beliau banyak berterima kasih kepada seluruh pihak terkait yang turut andil membantu dalam acara haul ini. Beliau juga menyampaikan beberapa nasihat dan kenangan-kenangan selama beliau mendampingi Abah Hasyim sebagai seorang istri, ibu atau bahkan sepanjang kehidupan dakwahnya.

“Sebelum wafat, beliau (Abah Hasyim) banyak melakukan hal-hal yang tidak pernah dilakukan sebelumnya, mulai dari pergi umrah di bulan Ramadhan, mengajak foto bersama, mengumpulkan anak-anaknya untuk membagi segala harta-hartanya, menyampaikan wasiatnya. Allah yang berkehendak dan tentu Allah yang akan mengatur segalanya. Abah.” Nyai Muthammimah juga mengatakan “Abah Hasyim adalah orang sangat bangga dengan para santri dan asatidz yang selalu berjuang tak kenal lelah menjaga dan mengembangkan pesantren. Karenanya, kebanggaan ini haruslah dipegang dan diwujudkan sesuai keinginan beliau sebagaimana tertuang dalam moto Al Hikam. Jadilah santri yang bermanfaat dan berprestasi dengan satu tujuan yakni mencapai ridhonya Allah,” pesan beliau.

Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Gus Jihad El-Banna al-Quthuby, putra dari Pegasuh Pesantren Gontor, K.H. Hasan bin Abdullah Sahal. Abah Hasyim bisa dibilang teman akrab dari ayah beliau, disamping Kiai Sahal, ayahnya K.H. Hasan adalah guru dari Abah Hasyim selama beliau nyatri Gontor, Ponorogo. Gus Elbi (nama panggilannya) menyampaikan beberapa hal dalam sambutannya kepada para hadirin.

“Sebenarnya Gontor itu fifty-fifty antara Muhammadiyah dan NU. Karena apa? Kalau orang NU yang NU nya sudah tinggi, dia akan ke Muhammadiyah-an. Dan kalau orang Muhammadiyah yang Muhammadiyah nya sudah tinggi, dia akan ke Nu-Nu an.”

Pesantren Gontor sangat berterima kasih kepada KH. Hasyim tanpa Cashback tanpa Give Away sebab baik secara intelektual maupun spiritual, Kyai Hasyim di antara jebolan Pesantren Gontor yang sangat sukses, bahkan kiprahnya tidak hanya membawa nama baik gontor melainkan bagi nasional bahkan internasional.

Tak luput pula penyampaian sambutan dari K.H. Cholil Nafis Ph. D, selaku santri senior sekaligus dosen di STKQ Al-Hikam. Kiyai Cholil yang juga pengasuh Pesantren Cendekia Amanah, Depok menceritakan kenangan;

“Abah Hasyim pernah berwasiat “Belum ada orang NU yang bergelut di bidang IT dengan konten-konten narasi yang cukup. Baru ada yang bersaingnya karena menang marah-marah doang. Makanya walisongonline ini dijadikan wadah Al-hikam untuk membuat konten yang baik,” ujar beliau.

Beliau juga ingat dengan pesan Abah Hasyim yang pernah bilang “Fis, kalau kamu cuma mentok jadi dosen, maka ketika kamu meninggal akan dilupakan begitu saja. Supaya diingat harus apa? Ya bikin pondok pesantren. Disitulah kita merintis lembaga pendidikan dari kecil-kecil dahulu hingga kita bisa menjadi kyai yang dikenal masyarakat luas.”

Acara selanjutnya, yakni untaian nasihat dan doa dari K.H. Muhaimin Zein, sebagai orang yang bersama dengan almarhum merintis pesantren Al-Hikam Depok. Mantan Ketua Umum Jam’iyyatul Qurra walhuffadz itu  berpesan “Teruslah kalian sebagai santri sekaligus anak untuk terus mendoakan Almarhum sebagai bakti kalian kepada sang pendiri walaupun beliau sudah wafat. Dan yang perlu diketahui bahwa Abah Hasyim itu sekarang berada dalam kenikmatan yang diberikan Allah kepadanya” ujar beliau sambil mengutip surah Ali Imran ayat 169. Rangkaian acara ini diakhiri dengan doa dari K.H. Muhaimin Zein yang penuh khidmat dan diamini oleh seluruh hadirin.

Pewarta : Muhammad Izharuddin
Editor : Ust. Nasril Albab, S.Ag

Berbagi :