Kajian Kitab Al-Hikam Ibnu Athaillah : Hikmah ke-111

Pengajian Resume

Kajian Ahad Subuh 21 November 2021/16 Rabi’ul Tsani 1443 H Bersama KH. M. Yusron Shidqi, Lc. MA

Hikmah ke-111

Memulai Pagi Versi Orang yang Lalai Dengan Orang yang Berakal

الغَافِلُ اِذاَ اَصْبَحَ نَظَرَ فيماَ يَفْعَلُ، والعاَقِلُ يَنْظُرُ ماَذاَ يَفْعَلُ اللهُ بِهِ

Orang yang lalai memulai harinya dengan memikirkan apa yang harus ia lakukan
Sedangkan orang berakal merenungkan apa yang dilakukan Allah terhadap dirinya

Jika kita melihat dari kalam Ibnu Athaillah di atas dapat kita ambil pemahaman bahwa ada dua tipe orang dalam memposisikan Allah SWT ketika memulai harinya.

Pertama, orang yang lalai. Ketika bangun tidur di waktu pagi pasti yang terlintas dalam pikirannya adalah apa yang akan dilakukan dan bagaimana cara melakukuannya tanpa berpikir untuk melibatkan Allah dalam urusan tersebut. Jika lebih diperjelas lagi, orang yang lalai itu seperti orang mengatur takdirnya sendiri dan merasa mampu untuk melakukannya sendiri tanpa campur tangan Allah.
Namun, hal ini suudah cukup baik dibandingkan orang yang tidak memiliki rencana sama sekali, yang hanya bangun tanpa tujuan.

Kedua, orang yang berakal saat bangun tidur di waktu pagi ia akan memikirkan bagaimana Allah berbuat baik kepadanya. Ia akan bangun dengan cara mengingat kekuasaan Alla dan keagungan-Nya, lalu mempersiapkan diri terhadap takdir yang Allah akan berikan padanya. Jika sudah demikian, maka Allah akan mencukupi dan memenuhi apa yang menjadi kebutuhannya. Jadi permulaan pemikiran yang bergerak dalam hati itulah yang menjadi ukuran kehendak Allah kepadanya.

Pesan orang saleh itu sebagaimana ketika tidur itu berwirid begitu pula ketika bangun haruslah dengan berwirid.

Kita bisa menganalogikannya dengan fa’il dan maf’ul atau juga dengan dalang dan wayang dalam pertunjukan wayang. Kita harus tahu di mana posisi dan peran kita, apakah sebagai fa’il atau dalang ataukah sebaliknya sebagai maf’ul atau wayangnya. Kenapa demikian, karena orang yang lalai, ia akan mengira bahwa posisinya sebagai fa’il atau dalang yang bebas mengatur wayang sesuai kehendaknya sehingga membuatnya lupa untuk memikirkan siapa fa’il atau dalang yang sebenarnya. Berbeda dengan orang yang berakal, ia akan sadar bahwa dirinya hanyalah sebagai maf’ul atau wayang. Oleh karena itu, ia akan mendekati fa’il atau dalangnya, sehingga sang fa’il atau dalang akan berbuat baik kepadanya.

Inti sari yang bisa kita ambil dari hikmah ini adalah hendaklah kita memulai pagi dengan mengingat Allah yaitu dengan cara berzikir (berwirid) dan zikir yang paling utama adalah membaca al-Qur’an. Pikirkanlah apa yang Allah kerjakan bukan apa yang kita kerjakan karena Allah adalah fa’il hakiki sedangkan kita adalah maf’ul (wayang).

Peresume Habibullah & M. Izharuddin (Mahasantri STKQ Al-Hikam)

Berbagi :
Muhammad Izharuddin
Mahasantri STKQ Al-Hikam