Ikhlas Sebagai Soul (Ruh) Keabsahan Sebuah Amal

Artikel

Oleh M. Lutfi (Mahasantri STKQ Al-Hikam)

Editor: Ust. Nasril Albab, S.Ag.   

Ikhlas, inilah kata yang penting dan paling penting menjadi sandaran bagi siapapun yang hendak melakukan suatu perbuatan (amal shalih). Ia layaknya pondasi yang membuat gedung itu kokoh,  kuat akan berbagai terpaaan dan tetap tegak menghalau badai kemalasan, kesombongan dan ke-riyaan yang terus menghampirinya. Ia juga laiknya jembatan yang menghubungkan antara Allah SWT dan Hamba-Nya sehingga dirinya selalu dalam bimbingan-Nya. Seperti halnya kata Ikhlas dalam bahasa Arab, lafadz ini berasal dari akhlasha-yukhlisu-ikhlashan yang dilihat dari makna bahasanya (etimologi) berarti murni, jernih,  bersih, tidak tercampur dan lain-lain. Dari makna bahasanya saja, bisa dipahami seakan mengisyaratkan kepada siapapun agar,  murnikanlah niatmu, jernihkanlah tekadmu dan bersihkanlah keinginanmu dari segala yang bukan karena dan menuju (Ridha) Allah Swt..

Sementara dalam pengertian yang lebih luas (terminologi), para ulama berbeda-berbeda dalam mendefinisikan ikhlas. Mengutip uraian Ahmad Zacky El-Syafa dalam bukunya, 10 Amalan Inti Penghapus Dosa setidaknya ada empat definisi ikhlas yang dikemukaan oleh beberapa ulama, yaitu:

  • Pendapat Imam al- Qusyairi an-Naisabury

Ikhlas adalah melakukan suatu amal perbuatan semata-mata karena Allah. Karenanya, jelas al Qusyairi, bila seorang memiliki sifat ikhlas, ia akan menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan hidup.

  • Pendapat Imam al- Qusyairi an-Naisabury

Ikhlas adalah melakukan suatu amal perbuatan semata-mata karena Allah. Karenanya, jelas al Qusyairi, bila seorang memiliki sifat ikhlas, ia akan menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan hidup.

  • Al-Imam Masy’ari

Beliau mengatakan bahwa ikhlas adalah kesamaan antara amalan lahir maupun batin seorang hamba.

  •  Al-‘Izz bin Abdis Salam

Beliau berpendapat  bahwa yang dimaksud dengan ikhlas adalah seseorang mukallaf melaksanakan ketaatan yang semata-mata karena Allah SWT. la tidak berharap pengagungan dan penghormatan manusia dan tidak pula berharap manfaat dan menolak bahaya.

  • AI-Fudhail

Beliau mengatakan bahwa, “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’ dan beramal karena manusia adalah syirik.     

Dari keempat definisi ikhlas yang diuraikan oleh sementara ulama di atas, setidaknya masing-masing dari definisi yang ada tidak terlalu jauh, memiliki kesamaan di dalamnya. Demikian, kemurnian dalam sebuah amal yang dimaksudkan karena Allah SWT menjadikan seseorang dalam melakukannya tidak akan mengharap pujian dari orang lain (riya) atau melaksanakannya demi orang lain (syirik);ada persamaan (balance)dalam amalan dzahir dan batin. Sehingga yang ada adalah selalu berorientasi kepada ridha-Nya dan hanya berkeinginan amal yang dilakukan itu disaksikan oleh Allah SWT. Selanjutnya, yang terpenting adalah bagaimana kita bisa mengaplikasikannya dalam setiap gerak langkah kita sehari-hari ?  Karena, meskipun definisi ikhlas cukup simpel dan mudah diingat tentu untuk menerapkannya tidak semudah itu. Butuh latihan secara continue agar sifat ikhlas benar-benar bisa menjadi identitas dan kerakter dalam diri. Dan itu butuh proses yang panjang. Namun begitu, kita tidak boleh meninggalkan sebuah amalan  dengan asumsi, “karena belum bisa ikhlas”. Ada ungkapan seorang ulama yang cukup familiar, ikhlas itu dengan pura-pura ikhlas dulu”. Artinya, meskipun kita belum bisa sepenuhnya ikhlas dalam beramal tetap kita harus melakukan amalan tersebut dengan terus berupaya menghadirkan sifat ikhlas dalam diri kita.“Bisa karena biasa”, begitupun dalam ikhlas, butuh kebiasaan.               

Jika seseorang mengharapkan pahala dalam kebaikan-kebaikan yang dilakukannya, maka ia harus bisa ikhlas dalam amal tersebut, dalam pengertian tidak menjadikan pahala sebagai alasan atau orientasi dalam melaksanakan sebuah amal perbuatan dan terus untuk mengerjakannya.  Karena, sebanyak apapun kebaikan yang sudah diperbuat jika tidak didasari dengan hati yang ikhlas maka akan sia-sia, ditolak oleh Allah SWT. Begitu meruginya, jika seseorang sudah banyak berbuat kebajikan, dan ternyata ia tidak memperoleh apa-apa dari amalnya tersebut. Benar apa yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW, “ Banyak orang yang puasa hanya mendapatkan lapar dan dahaga, banyak orang yang bangun malam (shaat tahajud) tidak mendapat apa-apa, kecuali kantuk) .

                Dalam al Qur’an sendiri, term ikhlas berikut derivasinya tersebut dalam beberapa konteks, di antaranya berkenaan dengan perintah untuk beribadah kepada Allah SWT dengan Ikhlas, (artinya), “…Sembahlah Dia dengan tulus ikhlas beragamanya kepada-Nya… (QS. Ghafir; 65). Berkaitan juga tentang ahli surga adalah mereka hamba-hamba Allah yang ikhlas, “… (mereka di dalam surga yang akan memperoleh rizki yang telah ditentukan, buah-buahan dan dimuliakanadalah“hamba-hamba Allah yang ikhlas. (QS. al Shaffat: 40).

                Sebagai penunjang dari pembahasan tentang ikhlas ini, kiranya hadits-hadits berikut bisa menambah gambaran tentang pengertian Ikhlas untuk lebih mudah dalam mengaplikasikannya. Hadist yang pertama adalah hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim, yaitu:

 “Sesungguhnya Allah tidaklah melihat rupa dan harta kalian, akan tetapi Allah hanya melihat hati dan amal kalian.”

                Maksudnya adalah Allah SWT tidak menilai seorang seorang hamba berdasarkan dari fisik dan harta. Akan tetapi, yang Allah SWT nilai adalah amal dan hatinya. Artinya, paras yang elok tidak bisa menambah kemuliaan seorang hamba di hadapan Allah SWT. Begitu pula sebaliknya. Dan harta yang banyak, juga tidak menentukan derajat seorang hamba di sisi-Nya.Karena, barometer kemuliaan seorang hamba hanya bisa  diukur darikebajikan-kebajikan yang ia lakukan dengan hati yang tulus. Hadits yang kedua: Dari Mu’adz Bin Jabal, dia berkata pada Rasulullah Saw ketika dia diutus ke Yaman: “Berilah aku wasiat.” Nabi bersabda “Ikhlaslah kamu dalam beramal, maka amal yang sedikit akan mencukupi.” (H.R Baihaki dalam syu’bul iman)

                Dari hadits ini kita bisa mengambil pelajaran bahwa, jangan pernah berbesar hati terhadap kebaikan-kebaikan yang telah kita lakukan, barangkali niat kita belum tulus, sehingga bisa berakibat pada tidak bernilainya kebaikan tersebut di hadapan Allah. Sebaliknya jangan juga pernah berkecil hati atau meremehkan setiap amal kebaikan. Karena, jika hal itu dilakukan dengan ikhlas, maka akan sangat bernilai di sisi Allah SWT.

Azhami Samiun Jazuli, dalam bukunya,“Hijrah Dalam Pandangan Al-Qur’an, hal 57” mengutip sebuah hadits yang diriwayatkan oleh  Imam Ahmad dari Jabir bin Mut’im r.a. ia berkata , Rasulullah saw . bersabda,

 “Tiga perkara yang tidak akan iri kepadanya hati seorang muslim, yaitu ikhlas beramal karena Allah , menasihati pemuka-pemuka kaum muslimin, serta setia kepada jamaah mereka.” ( Musnad Imam Ahmad 4 : 80-82 )

                Dari keterangan-keterangan di atas, melihat akan pentingnya ikhlas ini dalam sebuah amal Syeiky al Hidayat memahami dan mencoba memberikan syarat agar suatu amal bisa diterima disisi Allah setidaknya harus memenuhi tiga syarat; Pertama,(didasarkan pada akidah yang benar), kedua, (amal yang dikerjakan sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW), ketiga, (Ikhlas karena Allah SWT). Sebagai penutup saya akan mengutip sebuah ungkapan yang cukup terkenal dari ulama sufi

“Semua manusia akan binasa kecuali orang-orang yang berilmu, yang berilmu pun akan binasa kecuali yang mengamalkan ilmunya, yang mengamalkan ilmunya pun akan binasa kecuali mereka yang ikhlas, dan mereka yang ikhlas pun masih dalam kekhawatiran yang besar.” Ungkapan yang begitu fenomenal tersebut patut kita renungkan, sebagai bahan introspeksi diri agar kita tidak menjadi jumawa akan semua pencapaian yang sudah kita raih. Bagaimana tidak, orang yang ikhlas pun tidak boleh merasa dirinya sudah berada di titik aman. Karena, tidak seseorang tidak tahu bagaimana akhir kehidupannya. Lalu, bagaimana dengan yang belum bisa ikhlas dalam amalnya. “Keikhlasan itu tidak nampak dan tidak perlu ditampak-tampakkan. Tetapi Allah akan menampakkan hasil dari keikhlasan itu.”~ KH. Hasyim Muzadi

Berbagi :