Kajian Kitab Al-Hikam Ibnu Athaillah : Hikmah ke-107

Pengajian Resume

Masjid Al-Hikam, Depok | Kajian Ahad Subuh Bersama KH. M. Yusron Shidqi, Lc. MA.

Hikmah ke-107

Nikmat Bagi Seorang Hamba : Ketaatan Fisik dan Kepasrahan Hati

مَتَى جَعَلَكَ فِي الظَّاهِرِ مُمْتَثِلاً لِأََمْرِهِ

وَرَزَقَكَ فِي البَاطِنِ الإِسْتِسْلاَمُ لِقَهْرِهِ فَقَدْ أَعْظَمَ المِنَّةَ عَلَيْكَ

 Saat Allah membuatmu patuh pada perintah-Nya

Dan menjadikan batinmu pasrah atas takdir-Nya maka itu pertanda bahwa Allah sedang memberi sesuatu yang besar padamu

Kalau kita perhatikan dan amati nasehat ke-107 ini masih berkaitan dengan nasehat sebelumnya

“Jangan kau menuntut Allah ketika Allah mengakhirkan permintaanmu, akan tetapi tuntutlah dirimu yang kurang dalam beradab kepada-Nya”

Imam Ibnu Athaillah ingin menyampaikan pesan kepada setiap orang yang menempuh jalan penghambaan kepada Allah agar jangan sampai hubungannya dengan Allah itu layaknya hubungan transaksional. Sebagaimana diketahui, bahwa dalam kegiatan transaksi itu menghendaki setiap pembeli untuk memperoleh barang yang ia inginkan sesuai dengan ukuran uang yang ia keluarkan. Bahkan  pembeli memiliki hak untuk menuntut penjual jika barang yang ia inginkan tidak sesuai dengan harapannya. Sikap inilah yang harus dijauhi bagi setiap hamba.

Seorang hamba harus menjauhkan dirinya dari memfokuskan diri terhadap pemberian Allah padanya. Karena sikap tersebut dapat menimbulkan penyesalan jika ia merasa telah banyak melakukan kebaikan namun nyatanya Allah belum mengabulkan apa yang ia minta. Ibarat anak kecil yang mengukur kecintaan orang tuanya lewat pemberian orang tua kepadanya. Ketika diberi apa yang ia minta ia merasa senang dan ketika keingianannya tidak terpenuhi ia menyesal dan menjauhi kedua orang tuanya. Jauhilah sikap seperti ini kepada Allah, karena nikmat yang Allah berikan itu tak sebanding dengan seluruh ibadah yang telah ia lakukan.

Seorang hamba harus memfokuskan dirinya ketika Allah menjadikannya berada dalam ketaatan kepada-Nya dan membuatnya rela atas apa yang Allah takdirkan kepadanya.

Cobalah untuk merenungi dan membayangkan ketika Allah memposiskannya berada dalam tiga hal :

1. Memiliki ketaatan dzhohir, tapi batimu meronta-ronta.

2. Memiliki kepasrahan hati namun terjebak dalam kemaksiatan.

3. Terjebak dalam lubang kemaksiatan dengan batin yang tersiksa.

Ketiga hal ini pasti tak ada seorangpun yang menginginkannya. Yang pertama itu adalah sifat orang munafik, karena apa yang dikerjakannya bertolak belakang dengan apa yang ada dalam hatinya. Sedangkan yang kedua ini berlawanan dengan konsep keimanan yang tidak hanya sebatas meyakini dalam hati tapi mengaplikasikannya dengan melakukan ketaatan dhohir. Adapun yang ketiga ini adalah hal yang sangat parah, karena selain terjerumus ke dalam kemaksiatan, batinnya juga tersiksa. Oleh karena itu, untuk menjadi hamba Allah haruslah melalui dua hal, yakni ketaatan dhohir dan kepasrahan batin

Perlu diketahui, bahwa ketaatan dzhohir dan kepasrahan hati itu tidak lantas menjadikan hamba itu sebagai orang yang maksum (terjaga dari dosa). Karena tidak ada seorangpun yang mendapat predikat maksum kecuali para nabi. Dengan demikian, seorang hamba itu bisa saja jatuh dalam perbuatan maksiat tapi hal yang terpenting adalah bagaiamana caranya agar ia segera memohon ampun dan kembali kepada Allah.

Yang dimaksud dengan kepasrahan hati atas hal-hal yang tidak disukai adalah kesabaran dan rida dalam menghadapi musibah dan segala bentuk kesulitan hidup sebagaimana manusia itu bersabar dalam menerima kenikmatan dari Allah.

Janganlah sering melihat kenikmatan orang lain karena hal itu dapat memunculakan penderitaan dalam dirinya sendiri. Selain itu, juga berakibat pada timbulnya perasaan menyalahkan orang lain yang diberi nikmat apalagi ketika nikmat itu tidak ada pada dirinya. Pada akhirnya dikhawatirkan akan timbulnya perasaan menyalahkan Allah karena telah salah dalam menentukan takdir untuknya.

Dawuh Abah Hasyim :

“Allah ketika mencabut sesuatu pasti akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik”.

Ini menunjukkan bahwa Allah itu Maha Adil dan Bijaksana karena Allah itu Maha Tahu atas apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

Kalau ingin tahu seberapa besar rida Allah padamu maka lihatlah seberapa besar engkau rida kepada Allah.

Di antara tips yang bisa dilakukan seorang hamba untuk memasrahkan batinnya kepada Allah yakni

Pertama, yakinlah bahwa takdir terbaik adalah yang Allah berikan saat ini, maka jangan meminta takdir yang sedang diterima orang lain.

Kedua, yakinlah bahwa kedekatan hamba kepada Allah itu tergantung seberapa besar responnya atas takdir yang Allah berikan saat ini, kalau ia menanggapi takdir terhadap dirinya itu dengan sikap rela dan sabar, tentu akan mempermudah dirinya dalam memasrahkan batinnya kepada Allah.

Peresume : M. Izharuddin (Mahasantri STKQ)

Editor : M. Luthfi (Mahasantri STKQ)

Berbagi :
Muhammad Izharuddin
Mahasantri STKQ Al-Hikam