Kajian Kitab Al-Hikam Ibnu Athaillah : Hikmah ke-106

Pengajian

Kajian Ba’da Subuh Ahad bersama KH. Muhammad Yusron Ash-Shidqi, Lc. MA

Hikmah ke-106

Adab Berdoa : Jangan Menuntut

لا تطالب ربّك بتأخّر مطلبك
Jangan kau tuntut Pengaturmu atas lambatnya waktu (pengabulan) permintaanmu.
ولكن طالب نفسك بتأخّر أدبك
Akan tetapi, tuntutlah dirimu atas lambatnya adabmu

Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang menyebutkan kata ربّ “Rabb” yang bermakna pengatur. Jika kita perhatikan, ketika Allah sedang menyebutkan kata “ربّ” dalam suatu ayat maka Allah sedang menyebutkan eksistensi sifat-Nya sebagai Dzat Yang Maha Pengatur. Adapun salah satu contohnya :

الحمد لله ربّ العالمين
“Segala puji bagi Allah Dzat Yang Mengatur seluruh alam.”

Ibnu Athoillah memulai nasehatnya dalam hikmah ke-105 ini dengan ucapan:
“Jangan kalian tuntut Pengaturmu atas lambatnya permintaanmu.”

Ini mengindikasikan bahwa adanya kesalahan dari orang yang sudah merasa dirinya banyak dalam beribadah, lalu timbul pikiran-pikiran negatif dari dirinya ketika ia berdoa lalu doanya tidak dikabulkan.
Dan ini adalah salah satu bentuk su’ul adab kepada Allah, yang dipicu dari nafsu yang tidak terkontrol.

Salah satu bukti identitas seseorang sebagai hamba Allah adalah ketika seorang hamba tersebut butuh sesuatu maka ia langsung meminta kepada Allah dan berikhtiar yang sejalan dengan permintaannya.

Lantas timbul pertanyaan di benak kita, jika seorang hamba menunjukkan identitasnya sebagi hamba dengan berdoa kepada Allah, lalu apakah Allah juga akan menunjukkan identitasnya sebagai Dzat Yang Maha Pengatur dengan mengabulkan segala permintaan (ukuran, waktu dan tempatnya) seperti yang seorang hamba inginkan?

Jawabannya tentu tidak. Jikalau Allah tidak mengabulkan suatu permintaan dari hamba-Nya bukan berarti Allah kehilangan status-Nya sebagai Dzat Yang Maha Pengatur. Kapasitas Allah sebagai Rabb itu tampak ketika mampu mendahulukan dan mengakhirkan sesuatu, karena sesuatu yang dilakukan pasti ada maksud yang tersembunyi di baliknya. Ibarat seorang manajer, tentu ia akan melihat kapan sesuatu itu dilakukan berdasarkan kebutuhan yang tepat, bukan dari yang lain seperti tuntutan para pekerjanya. Ia tidak mungkin dipecat kontraktor, hanya karena ia menunda melakukan sesuatu, jika didasari oleh pertimbangan logika yang benar.

Begitu pula dengan Rabb (Maha Pengatur) jauh lebih mengetahui apa yang hamba-Nya butuhkan. Allah-lah yang memilihkan dan mengatur apa dan bagaimana yang terbaik untuk diberikan padamu, bukan yang lain, apalagi dari hamba tersebut. Maka jangan sekali-kali seorang hamba menuntut kepada Allah di saat Allah mempercepat atau menunda setiap urusannya.

“Akan tetapi tuntutlah dirimu atas lambatnya adabmu”

Justru hal yang perlu dituntut seorang hamba adalah kurangnya adab dari dirinya sendiri terhadap Allah. Karena yang perlu disadari bahwa di antara alasan Allah tidak mengabulkan permintaan hamba-Nya adalah karena hamba tersebut kurang bersyukur dan tidak mengindahkan atas apa yang telah diberikan Allah kepadanya. Ketika ia diberi kesehatan, ia kurang bersyukur dengan menggunakannya pada hal-hal yang Allah benci bahkan membuat dirinya sendiri menjauh dari Allah Yang Maha Pemberi.

Selain itu juga dikarenakan kurangnya rasa ridho. Tidak mau menerima dan rela terhadap keputusan yang saat ini Allah berikan kepadanya sehingga membuat dirinya sendiri terbebani dengan hal-hal yang ada.

Jangan sampai timbul dalam diri seorang hamba rasa menyalahkan orang lain bahkan menyalahkan Allah Dzat Yang Maha Tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Andai kata mesin yang tidak optimal maka yang harus dintropeksi adalah mesin milik sendiri bukanlah mesin milik orang lain.

Status Allah sebagai Maha Pengatur tidak berubah karena belum mengabulkan, tidak naik dan tidak turun, justru status hambalah (derajat) yang merosot ketika menyudutkan Allah saat keinginannya belum dipenuhi oleh-Nya.

Kesimpulan

Tertundanya sesuatu yang sudah dirancang dan diikhtiarkan seorang hamba adalah murni keputusan Allah. Ibnu Athaillah mendidik kita untuk menjadi hamba Allah tidak hanya saat keinginan kita dipenuhi, karena itu artinya kita menuhankan keinginan, bukan menuhankan Allah. Jangan kita jadikan Allah sebagai perantara menuju keinginan kita. Landasilah dengan keyakinan bahwa Allah memotivasi kita dengan ijabah doa bagi setiap yang berdoa sebagai hubungan dan langkah awal untuk semakin mendekatkan diri kita sebagai seorang hamba kepada Allah, sebagai Tuhan Maha Pengatur Yang Tahu atas segala yang terbaik bagi setiap hamba-Nya.

Abah Hasyim Muzadi
“Kamu akan besar dengan segala kesulitan bukan dengan segala kesenangan.”

Semoga Allah memberi kita hidayah. Wallahu A’lam bi ash-Showab

Resume oleh Muhammad Izharuddin
Editor oleh Muhammad Luthfi

Berbagi :
Muhammad Izharuddin
Mahasantri STKQ Al-Hikam Minat pada kajian Tafsir dan Ulumul Qur'an