Ust. Nasril Albab, S.Ag

Ngaji Tafsir (2)

Pengajian Resume

Kajian Malam Jum’at bersam Ust. Nasril Albab, S.Ag

A. Pengertian Takwil

Takwil secara bahasa memiliki kesamaan makna dengan tafsir. Sebagaimana diulas dalam kitab al Qamus bahwa makna dari takwil itu adalah penjelasan, perkiraan, penghayatan dan penafsiran.

Karenanya secara umum, Takwil bisa diartikan dengan mengira-ngira makna dari suatu ayat dengan aturan-aturan yang telah  ditetapkan dalam ilmu tafsir.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمۡ زَيۡغٞ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَٰبَهَ مِنۡهُ ٱبۡتِغَآءَ ٱلۡفِتۡنَةِ وَٱبۡتِغَآءَ تَأۡوِيلِهِۦۖ وَمَا يَعۡلَمُ تَأۡوِيلَهُۥٓ إِلَّا ٱللَّهُۗ

Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah.”  (Q.S Ali ‘Imran ayat 7)

Banyak ayat Al – Quran yang menggunakan redaksi takwil tapi bermakna tafsir yang secara keseluruhan bermakna Al-Bayan (penjelasan),  Al-Kasyfu (mengungkapkan), dan Al-Idhoh (menerangkan).Sedangkan untuk makna takwil secara terminologi, para ulama berbeda pendapat.

Sebagian ulama dari kalangan mutaqaddimin diantaranya seperti Mujahid mengatakan bahwa antara takwil dan tafsir itu sama secara istilah. Begitu pula Ibnu Jarir yang menggunakan istilah takwil dalam kitab tafsirnya. Pendapat ini dikaitkan kepada Abu Ubaidah dan segolongan ulama.

Sebagian ulama ada juga yang berbeda dalam memaknai tafsir dan takwil :

  1. Sebagian ulama ada yg mengatakan bahwa tafsir itu lebih umum daripada takwil. Takwil yakni menjelaskan makna lafaz selain dari yang terbaca kali pertama (ada makna lain yang bisa digali). Sedangkan tafsir hanya terbatas pada makna yang pertama kali terbaca saja (secara mutlak) . (Qaul Ar-Raghib)
  2.  Sebagian lagi mengatakan bahwa tafsir itu memastikan maksud Allah dari suatu ayat. Sedangkan takwil itu mengunggulkan salah satu dari sekian kemungkinan makna dari suatu teks tanpa menjustifikasi bahwa makna tersebut adalah yang paling benar menurut Allah.  (Qaul Al-Maturidi)
  3.  Ada yang mengatakan, bahwa tafsir itu menjelaskan lafaz dari segi transformasi riwayat sedangkan takwil menjelaskan lafaz melalui analisa (dirayah)
  4.  Ada pula yang mengatakan, bahwa tafsir itu menjelaskan makna yang diambil dari segi lafaz (ungkapan bahasa), sedangkan takwil menjelaskan makna yang diambil dengan metode isyarah
  5.  Ada pula yang mengatakan bahwa tafsir itu adalah penjelasan terkait petunjuk apa yang dimaksud sedangkan takwil adalah hakikat dari maksudnya, karena lafaz itu menyingkap yang dimaksud sedangkan kasyf itu dalil (petunjuk).

Contohnya: (إنّ ربّك لبالمرصاد) الفجر : ١٤

“Sungguh Tuhanmu benar-benar mengawasi” Dari segi tafsir dari ayat ini bahwasanya lafaz مرصاد itu berasal dari رصد yang berarti mengawasi, mengamati. Ikut wazan مفعال menjadi مرصاد

Sedangkan dari segi takwil dari ayat itu diartikan sebagai kehati-hatian dari meremehkan perintah Allah dan lalai serta selalu siap terhadap perintah-Nya 

Pengertian Ushul At-Tafsir

Ashlu secara bahasa yaitu dasar dari sesuatu.
Ushul At-Tafsir adalah pondasi/asas dan permulaan ilmu yang dapat membantu dalam memahami tafsir, perbedaan yang terjadi, dan cara untuk mengamalkannya.

B. Bagaimana Menafsirkan Al-Qur’an

  1. Kembali kepada tafsir-tafsirnya ulama mufassirun terdahulu serta mengetahui cara dan metode mereka
  2. Berpegang dengan ushul/asas dalam tafsir-tafsir terdahulu. Menggunakan pokok-pokok dari penafsiran yang telah digariskan ulama

C. Syarat-Syarat Mufassir
Diantara syarat-syarat yang perlu diperhatikan dan dipenuhi secara khusus bagi para mufassir sebagai berikut.

  1. Mengetahui ilmu lughah, diantaranya ilmu mufrodat, kaidah-kaidah bahasa Arab, dan ilmu balaghah (bayan, badi’, ma’ani)
  2. Mengetahui ilmu-ilmu yang berkaitan dengan tafsir seperti ilmu qiraat, asbabun nuzul, nasikh wal mansukh, ilmu ushul at-Tafsir
  3. Ilmu-ilmu yang berkaitan dengan ilmu-ilmu syariat seperti Ushuluddin, Hadist dan ilmunya, Fiqh dan Ushul fiqh.
  4. Mengetahui ilmu-ilmu kauniyyah (ilmu mengetahui tanda-tanda kebesaran Allah melalui alam) dan ijtima’iyyah (ilmu sosial,adat dan tradisi)
  5. Ilmu Mawhibah (ilmu yang Allah wariskan keadaan kepada siapa yang mengamalkan ilmunya)

Resume oleh : Muhammad Idzharuddin

Berbagi :