Ngaji Tafsir : Pentingnya Konsensus Ulama Dalam Penafsiran Al-Qur’an

Artikel Ngaji

Depok, Walisongoonline | Salah satu keutamaan dan kelebihan yang Allah swt. anugerahkan atas umat Islam adalah tercapainya sebuah kesepakatan para ulama (ijma’). Disebut “keutamaan dan kelebihan” karena yang namanya ijma’ merupakan kesepakatan sejumlah Ahlul Hali wal ‘Aqdi (para ahli yang berkompeten dalam menyelesaikan urusan agama). Mengingat pemaknaan terhadap suatu ayat Al-Qur’an yang dilakukan secara personal tidak menutup kemungkinan terjadi kecurangan, kesesatan, serta penyimpangan dari apa yang telah disyariatkan Allah swt., maka ijma’ menutup itu semua. Dalam ilmu tafsir, istilah ijma’/konsensus ulama kerap dibahas oleh para mufasir yang berkaitan dengan interpretasi ayat-ayat Al-Qur’an.

Hal mendasar yang penting untuk dipahami dalam suatu interpretasi/pemaknaan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an ialah sesuai kadar kemampuan manusia (بِقَدْرِ الطَّاقَةِ الْبَشَرِيَّةِ). Oleh karena itu, timbul konsekuensi logis atasnya, yakni bahwasanya suatu interpretasi ayat-ayat dalam Al-Qur’an oleh seorang mufasir tidak dapat dinyatakan sebagai kebenaran yang mutlak. Semasyhur apapun seorang mufasir, tidak mungkin ia merasa bahwa penafsirannya terhadap ayat Al-Qur’an sebagai sebuah interpretasi yang paling benar. Bahkan, sekelas Syekh Wahbah Az-Zuhaili dan Syekh Said Ramadan Al-Buthi-pun yang sedemikian alimnya tidak mungkin akan mengatakan bahwa tafsir milik mereka adalah yang paling benar.

Terdapat sejumlah faktor atau penarik terkait perlunya konsensus di dalam interpretasi Al-Qur’an oleh kalangan para mufasir. Dalam kitab Ilmu Tafsir Ushuluhu Wa Manahijuhu, disebutkan setidaknya ada tujuh faktor pentingnya permufakatan bersama para mufasir berhubungan dengan penafsiran teks Al-Qur’an.

1. Satu kata jamak akan makna (isytarak)

Di dalam Al-Qur’an, banyak ditemukan kata-kata yang memiliki beragam makna (homonim).

Contoh:

QS. Ta-Ha [20]: 15

إِنَّ ٱلسَّاعَةَ ءَاتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيهَا لِتُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍۭ بِمَا تَسْعَىٰ

“Segungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan.”

QS. Ar-Rum [30]: 55

وَيَوْمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ يُقْسِمُ ٱلْمُجْرِمُونَ مَا لَبِثُوا۟ غَيْرَ سَاعَةٍۢ ۚ كَذَٰلِكَ كَانُوا۟ يُؤْفَكُونَ

“Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa; “mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat (saja)”. Seperti demikianlah mereka selalu dipalingkan (dari kebenaran).”

Para ulama sepakat bahwa lafaz ٱلسَّاعَة yang pertama bermakna ‘hari kiamat’. Sementara kata سَاعَة yang kedua bermakna ‘waktu yang sedikit (sesaat)’. 

Terdapat dua lafaz yang memiliki akar kata sama, namun masing-masing memiliki makna yang berbeda. Hal ini menjadi satu bukti betapa pentingnya konsensus di antara para ulama dalam penafsiran teks Al-Qur’an supaya tidak menimbulkan kerancuan dalam pemaknaan ayat-ayat Al-Qur’an.

2. Menghilangkan “lokus perdebatan” dalam pemaknaan suatu ayat

Untuk menyelesaikan pertikaian terkait pemaknaan suatu ayat Al-Qur’an yang menuai perdebatan di antara para ulama, perlu dicarikan benang merah yang dapat menghubungkan beberapa perbedaan dalam pemaknaan teks Al-Qur’an yang ada, yakni dengan adanya kesepakatan atas makna ayat oleh para ulama.

Contoh:

QS. Al-Baqarah [2]: 233

…لَا تُضَآرَّ وَٰلِدَةٌۢ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌۭ لَّهُۥ بِوَلَدِهِۦ ۚ وَعَلَى ٱلْوَارِثِ مِثْلُ ذَٰلِكَ ۗ …

“…Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan juga seorang ayah (menderita) karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian….”

Para ulama sepakat dalam memaknai وَلَا مَوْلُودٌۭ لَّهُۥ dengan arti “ayah”.

وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذٰلِكَ

“…Ahli waris pun seperti itu pula…”

Lafaz الْوَارِثِ mengandung makna yang ambigu. Apakah ia berarti seorang pewaris atau berarti orang yang menerima waris. Sebab, ini merupakan dua hal yang berbeda. Para ulama akhirnya sepakat memaknai الْوَارِثِ dengan makna ahli waris.

3. Sebagai bantahan bagi orang yang kontra (menyimpang)

Contoh:

QS. Al-Hijr [15]: 99

وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِينُ

“dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).”

Sebagian kalangan sufi ekstrem ada yang memaknai lafaz ٱلْيَقِينُ sebagai suatu derajat/maqam di mana seseorang berada pada tingkat kedekatan dengan Allah swt. yang paling tinggi sehingga kewajiban menjalankan syariat Islam seperti salat misalnya dianggap telah gugur. Kalangan tersebut berpandangan bahwasanya yang terpenting ialah kondisi hati yang yakin akan kedekatannya dengan Sang Pencipta. Pemaknaan ini jelas keliru dan bertentangan dengan ajaran yang dibawa Rasulullah saw.

Sebagaimana kita ketahui, Rasulullah saw. yang mana merupakan makhluk paling mulia sekalipun masih mengerjakan perintah salat hingga akhir hayatnya. Hal ini menjadi bukti bahwa pemaknaan ٱلْيَقِينُ seperti yang disebutkan di atas merupakan hal yang tidak dapat dibenarkan. Kemudian para ulama sepakat memaknai redaksi ٱلْيَقِينُ dengan ٱلْمَوْتُ (mati). Artinya, kewajiban seorang muslim dalam menjalankan syariat ialah sepanjang hayat (hingga ajal menjemput). Pemaknaan ini selaras dengan syariat Nabi Muhammad saw.

4. Sebagai landasan argumen dalam mengunggulkan suatu qoul/pendapat

Contoh:

QS. Al-Mai’dah [5]: 95

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَاَنْتُمْ حُرُمٌ ۗوَمَنْ قَتَلَهٗ مِنْكُمْ مُّتَعَمِّدًا فَجَزَۤاءٌ مِّثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهٖ ذَوَا عَدْلٍ مِّنْكُمْ هَدْيًاۢ بٰلِغَ الْكَعْبَةِ اَوْ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسٰكِيْنَ اَوْ عَدْلُ ذٰلِكَ صِيَامًا لِّيَذُوْقَ وَبَالَ اَمْرِهٖ ۗعَفَا اللّٰهُ عَمَّا سَلَفَ ۗوَمَنْ عَادَ فَيَنْتَقِمُ اللّٰهُ مِنْهُ ۗوَاللّٰهُ عَزِيْزٌ ذُو انْتِقَامٍ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh hewan buruan, ketika kamu sedang berihram (haji atau umrah). Siapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, dendanya (ialah menggantinya) dengan hewan ternak yang sepadan dengan (hewan buruan) yang dibunuhnya menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai hadyu (hewan kurban) yang (dibawa) sampai ke Ka‘bah atau (membayar) kafarat dengan memberi makan orang-orang miskin atau berpuasa, seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, agar dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan perbuatan yang telah lalu. Siapa kembali mengerjakannya, pasti Allah akan menyiksanya. Allah Mahaperkasa lagi Maha Memiliki (kekuasaan) untuk membalas.”

Di antara sekian kandungan dalam ayat ini adalah kewajiban membayar fidyah bagi orang yang berburu. Bagian yang menjadi concern (perhatian) ialah pada lafaz أَوْ, apakah bermakna perintah untuk takhyir (pilihan) atau perintah untuk menjalankan seluruh konsekuensi fidyah yang ada. Dalam hal ini, Ulama sepakat bahwasanya lafaz أَوْ bermakna takhyir (pilihan).

QS. Al-Baqarah [2]: 196

وَأَتِمُّوا۟ ٱلْحَجَّ وَٱلْعُمْرَةَ لِلَّهِ ۚ فَإِنْ أُحْصِرْتُمْ فَمَا ٱسْتَيْسَرَ مِنَ ٱلْهَدْىِ ۖ وَلَا تَحْلِقُوا۟ رُءُوسَكُمْ حَتَّىٰ يَبْلُغَ ٱلْهَدْىُ مَحِلَّهُۥ ۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ بِهِۦٓ أَذًۭى مِّن رَّأْسِهِۦ فَفِدْيَةٌۭ مِّن صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍۢ ۚ فَإِذَآ أَمِنتُمْ فَمَن تَمَتَّعَ بِٱلْعُمْرَةِ إِلَى ٱلْحَجِّ فَمَا ٱسْتَيْسَرَ مِنَ ٱلْهَدْىِ ۚ فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَـٰثَةِ أَيَّامٍۢ فِى ٱلْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ ۗ تِلْكَ عَشَرَةٌۭ كَامِلَةٌۭ ۗ ذَٰلِكَ لِمَن لَّمْ يَكُنْ أَهْلُهُۥ حَاضِرِى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya ber-fidyah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan ‘umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.”

5. Menolak tawahhum/dugaan yang salah

Contoh:

وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ اَبٰى وَاسْتَكْبَرَۖ وَكَانَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ

“(Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka, mereka pun sujud, kecuali Iblis.14) Ia menolaknya dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan kafir.”

Poin pembahasan dalam ayat ini ialah lafaz اسْجُدُوْا. Pada dasarnya, sujud ialah bentuk penghambaan kita kepada Allah swt. Oleh karenanya, sujud kepada selain Allah swt. merupakan perbuatan musyrik yang dilarang keras oleh agama Islam. Akan tetapi, apabila kita melihat pengertian tadi, agaknya tampak bertentangan dengan perintah Allah swt. pada ayat di atas, yaitu perintah Allah kepada malaikat dan iblis untuk bersujud kepada Nabi Adam as. Tidak mungkin Allah swt. memerintahkan malaikat dan iblis untuk melakukan perbuatan musyrik. Oleh karena itu, para ulama melakukan ijma’/konsensus bahwa sujud yang dimaksud di ayat ini bukan bermakna ta’abud/penghambaan (ibadah), akan tetapi sujud yang bermakna sebagai bentuk penghormatan.

6. Adanya perbedaan ta’wil pada ayat yang dhohir atau umum dalam penggunaannya

قَالَ لَقَدْ ظَلَمَكَ بِسُؤَالِ نَعْجَتِكَ اِلٰى نِعَاجِهٖۗ وَاِنَّ كَثِيْرًا مِّنَ الْخُلَطَاۤءِ لَيَبْغِيْ بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَقَلِيْلٌ مَّا هُمْۗ وَظَنَّ دَاوٗدُ اَنَّمَا فَتَنّٰهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهٗ وَخَرَّ رَاكِعًا وَّاَنَابَ

“Dia (Daud) berkata, “Sungguh, dia benar-benar telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk (digabungkan) kepada kambing-kambingnya. Sesungguhnya banyak di antara orang-orang yang berserikat itu benar-benar saling merugikan satu sama lain, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan sedikit sekali mereka itu.” Daud meyakini bahwa Kami hanya mengujinya. Maka, dia memohon ampunan kepada Tuhannya dan dia tersungkur jatuh serta bertobat.”

Lafaz وَخَرَّ رَاكِعًا menjadi yang menjadi poin pembahasannya. Lafaz tersebut secara dhohir dalam bahasa Arab bermakna ruku’. Dalam hal ini, para ulama ber-ijma’ menta’wil lafaz وَخَرَّ رَاكِعًا dengan makna sujud (tersungkur).

7. Menutup kemungkinan adanya makna lafaz ayat yang tidak dimaksud ayat secara jelas dari sesuatu yang tidak dapat sempurna ayat kecuali dengannya

اَلَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبٰوا لَا يَقُوْمُوْنَ اِلَّا كَمَا يَقُوْمُ الَّذِيْ يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطٰنُ مِنَ الْمَسِّۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَالُوْٓا اِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبٰواۘ وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰواۗ فَمَنْ جَاۤءَهٗ مَوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّهٖ فَانْتَهٰى فَلَهٗ مَا سَلَفَۗ وَاَمْرُهٗٓ اِلَى اللّٰهِ ۗ وَمَنْ عَادَ فَاُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِ ۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ

“Orang-orang yang memakan (bertransaksi dengan) riba tidak dapat berdiri, kecuali seperti orang yang berdiri sempoyongan karena kesurupan setan. Demikian itu terjadi karena mereka berkata bahwa jual beli itu sama dengan riba. Padahal, Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Siapa pun yang telah sampai kepadanya peringatan dari Tuhannya (menyangkut riba), lalu dia berhenti sehingga apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Siapa yang mengulangi (transaksi riba), mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.”

Lafaz يَقُوْمُوْنَ dalam ayat di atas maknanya ialah “kesurupan setan”. Akan tetapi, apabila kita melihat realitas yang ada, para pemakan riba yang kita saksikan secara kasat mata tampak seperti orang normal pada umumnya (tidak kesurupan).

Para ulama bersepakat bahwasanya makna “kesurupan setan” yang dimaksud ialah sebuah hukuman bagi para pemakan riaba yang ditangguhkan hingga kelak di hari kiamat. Artinya, bukan berarti orang-orang yang memakan harta riba seketika itu juga langsung kesurupan, namun bermakna hukuman pada hari kiamat nanti.

Editor: Ust. Nasril Albab, S.Ag

Berbagi :