SEMINAR PESANTREN ALHIKAM DEPOK “Menyikapi Krisis Identitas di Usia Transisi”

Resume Seminar

Pembicara: Laily Abida, S.Psi., M.Psi., Psikolog
Peresume: M Lutfi dan Izhar

Walisongoonline.com, Depok|(15/03/2021) Manusia itu berat, dari kecil sudah punya tugas; dari SD sampai kuliah tugasnya terus bertambah. Apalagi sudah ketemu jodoh. Jika belum menemukan identitas diri di masa transisi bahaya.

Banyak pemuda yang masih kuliah S1 bahkan S2 kebingungan, itu diakibatkan krisis identitas. Faktornya banyak, bisa faktor komunikasi, akademik, pergaulan dll. Akhirnya berhenti berprogres, padahal dia manusia, yang harusnya terus berproses. Remaja yang demikian tidak produktif, meksipun secara intelektual bagus.

Intelektual ada batasnya, tidak bisa hanya mencukupkan dengan itu. Sebagaimana kata Abah Hasyim, “Intelektual akan goyah ketika emosional goncang”.

Di pesantren tidak terlalu banyak tantangan karena homogen, kalau di luar lebih berat. Kalau identitas masih kabur mudah berubah: kadang semangat, kadang malas. Kalau orang tidak bisa jujur terhadap diri sendiri sulit untuk bisa jujur pada orang lain. Biasanya cewek yang banyak seperti itu. Seandainya individu memiliki komunikasi yang baik maka akan disampaikan. Tentu, tidak harus dengan bahasa tinggi.

Itu bisa dilakukan jika teman-teman mengetahui kelemahan dan kelebihan diri sendiri. Identitas soial juga mencakup orientasi seksual. Misalnya penyimpangan seksual yang dilakukan oleh remaja atau bahkan orang dewasa, itu bisa karena di masa kanak-kanaknya orang tuanya tidak mengenalkan identitas gender.

Krisis identitas tidak hanya karena aspek emosional dan sosial tetapi juga berkaitan dengan gender.
Yang berpengaruh terhadap pembentukan indentitas:

  1. Pola Asuh
  2. Lingkungan
  3. Kepribadian
  4. Pengalaman di masa kanak-kanak
  5. Perkembangan Intelektual

Jangan bicara terlalu luas kalau di dalam diri kita masih proses belajar (meraba). Manusia bergerak ada motifnya, ada latar belakangnya; ada motivasinya. Motivasi itu bertahap dan berkembang, tidak perlu buru-buru. Jika motivasinya masih level satu tidak usah berharap sesuatu yang tinggi-tinggi. Ekspektasi melebihi kemampuan itu sumber masalah.

Penting untuk meregulasi/ mengatur diri untuk mengetahui potensi diri. Ubah pengalaman traumatis sebagai sumber potensi. Saya tidak bisa membuat klien saya memafkan orang-orang yang berbuat buruk padanya, tetapi bagaimana mengubah kekuatan negatif menjadi kekuatan positif.

Motivasi paling bagus dan biasanya awet itu internal, tetapi tidak semua orang bisa seperti itu. Ada yang butuh distribusi dari orang lain. Distribusi itu bisa keseluruhan atau hanya sebagiannya.

Untuk mampu bisa memproduksi motivasi itu penting, dan harus dicari. Usahakan untuk mampu memproduksi motivasi internal. Sekalipun jenengan mengharapkan motivasi dari orang lain, jangan menggantungkan secara total, tetapi sebagian saja.

Kita membangun motivasi itu sebenarnya Invest, karena ke depan tantangannya semakin berat. Kembangkan potensi jenengan. Tidak ada potensi yang remeh. Ketika kita sudah menemukan potensi maka motivasi itu akan tumbuh. Meksipun pada perjalanannya naik turun, tetapi kan gak berhenti.

Hati tambah sakit ketika kita sudah mencapai ekspektasi tetapi tidak dihargai oleh orang yang menjadi motivasi kita. Itu, kalau motivasi kita bersumber dari eksternal.

Kalau memenuhi ekspektasi orang lain berdampak positif pada diri, lakukan. Akan tetapi, jika malah berdampak negatif buat apa? Kita tidak bisa memenuhi semua ekspektasi orang lain.

Membuat diri senang haruslah tidak melanggar norma-norma. Baik norma agama atau sosial.

Tidak adanya Motivasi dari dalam diri membuat timbul kecemasan atau frustasi ketika tidak terwujudnya keinginan yang timbul dari paksaan.

Berbagi :