SURAT UNTUK ABAH

Abah Hasyim
Berbagi Artikel

Oleh Ali Maksum
Mahasantri STKQ Al-Hikam Angkatan V

Surat ini kami tulis menjelang seribu harimu untuk menghantarkan salam kami pada engkau yang di sana.
Kami bubuhkan kerinduan dan sedikit kegelisahan kami sejak engkau tiada. Minimal dari sudut mata kami yang alpa.

Bah, mengapa kebenaran kian membingungkan, kebenaran saling menjadi ancaman ? Sungguh kami terlalu takut dan bodoh untuk mempertarungkan kebenaran. Lebih-lebih pertentangan para agamawan. Awam yang menjadi korban. Anak sejarah ditimpa kelimpungan.

Bah, mengapa kebaikan makin mengenaskan ? Ia sering dihakimi sebagai kemunafikan. Kami berdebat tentang isi perasaan daripada kebermanfaatan. Padahal siapa yang bisa membaca keikhlasan yang tak tampak dan tak perlu ditampakkan ?

Bah, mengapa kebijaksanaan kini lebih memprihatinkan ? Pekikan dan grasa-grusu yang lebih diimankan. Yang bestari kerapkali dituduh tak punya pendirian. Padahal Ia berdiri mengambil jarak agar melihat kedalaman dan keluasan. Keluar dari lingkaran perseteruan agar melihat keadilan.

Bah, mengapa perbedaan menjadi ketakutan ? Ia biang keladi perdebatan. Banyak dalil yang ditunjukkan. Namun masih susah sekali merumuskan perbedaan sebagai keindahan. Apalagi hari-hari ini perbedaan khilafiyah saja sungguh sudah sampai pada titik yang memuakkan.

Bah, mengapa persamaan kian disembunyikan ? Berduyun-duyun orang menimbun persamaan. Ia naik ke permukaan saat ada kepentingan. Ribuan kesamaan hilang hanya dengan satu percikan. Bahkan saudara seagama pun saling merasa tak aman.

Bah, mengapa persatuan menjelma menjadi utopia harapan ? Apa ini karena telah disuratkan bahwa umat kita akan terbagi menjadi 73 golongan dan manusianya seperti buih di lautan ? Apa ini karena pemikiran dan keadaban yang memang dimarjinalkan ? Dominasi ego dan kebringasan yang dipertontonkan.

Bah, kami seringkali gamang melihat realita. Kami ragu membaca hamparan masalah yang ada. Kami bodoh menelaah apa yang semestinya. Kami bimbang kehilangan acuan tetesan cahaya.

Bah, mungkin benar katamu negeri ini butuh orang tua. Yang ngemong semua. Menimang keberagaman yang ada. Mengajak duduk bersama. Dan menghentikan perebutan vonis siapa yang salah dan berganti pada rumusan apa yang yang salah dari kita.

Bah, bila aku menulis ini dengan tinta duka. Bukan berarti aku sedang berputus asa. Aku hanya sedang merindu keteladanan nyata. Tanpa ada kerumitan retorika dan drama. Dan membumi dengan sederhana.

Bah, meski tak ada jawabnya dan surat ini mungkin lebay adanya. Semoga menjadi doa untuk kami agar tak mundur dan kehilangan cita dan canda seperti engkau telah menyontohkannya. Untuk menghadapi dunia yang memang mungkin beginilah takdirnya.

Bah, kini hanya terbaring sebuah pusara. Semoga cukup untuk melantunkan cerita perjuanganmu dibaliknya. Menumpahruahkan syair-syair kebaikanmu di dalamnya. Cermin kami untuk kini, nanti dan selamanya.

Bila jarak adalah sebuah batas
Maka biarkan rindu ini yang menempuhnya
Bila tempat adalah adalah pemisah
Maka biarlah doa ini yang merekatkannya
Bila waktu adalah jeda
Maka biarlah hati ini yang meneruskannya
Tak ada penghalang bagi para pecinta
Tak ada sekat bagi para pengikat
Tak ada jangka bagi para penimba
Tak ada henti bagi yang terus mengenang & meneladani
Satu kyai
Seribu hari
Sejuta bestari
Kedatanganmu adalah anugerah
Dan kepergianmu adalah falsafah
Kehidupanmu adalah ilmu
Ketiadanmu adalah buku
Perjalananmu adalah perjuangan
Perhentianmu adalah pelajaran
1000 hari adalah soal waktu
Selamanya adalah kami mengenangmu.


Berbagi Artikel