WEBINAR INSANI

WEBINAR INSANI TALK 2021 | “Berteman dengan Kegagalan”

Berita Seminar

Walisongoonline, Depok | Pada hari Sabtu, 13 Maret 2021, telah dilaksanakan Webinar INSANI TALK 2021 dengan tema besarnya yaitu “Berteman Dengan Kegagalan”. Webinar ini diselenggarakan oleh Ikatan Santri Pesantren Mahasiswi Al-Hikam Depok, yang merupakan sebuah pesantren yang dikhususkan untuk mahasiswi yang ingin kuliah sambil mondok.

Acara ini dilaksanakan dari pukul 08.30 – 11.00 WIB. Mengingat pelaksanaan acara secara offline di masa pandemi Covid 19 masih memiliki banyak resiko, webinar kali ini dilaksanakan secara online melalui platform zoom meeting.

Berdasarkan tema webinar yaitu “ Berteman Dengan Kegagalan “, topik bahasan dalam acara ini diangkat dari pentingnya peran setiap perempuan dalam membangun sebuah peradaban di tengah perkembangan zaman yang semakin pesat. Selain itu, tidak bisa dipungkirinya media sosial sebagai produk modernisasi yang turut menyumbang ketakutan akan kegagalan bagi perempuan dalam menjalankan setiap perannya tersebut.

Melalui topik bahasan tersebut, kegiatan INSANI TALK “ Berteman Dengan Kegagalan ” menjadi jembatan untuk membahas dengan tuntas bagaimana konsep kegagalan dari sudut pandang psikologi dan bagaimana pula islam memandang konsep kegagalan tersebut.

Webinar ini diusung untuk memberikan semangat, inspirasi, dan motivasi bagi para perempuan-perempuan dalam menjalankan perannya.

Dalam webinar ini, terdapat dua pembicara dari latar belakang keilmuan yang berbeda namun memiliki peran yang sama-sama pentingnya sebagai seorang wanita. Pembicara pertama adalah Puspita Alwi yang merupakan Co-Founder Sehat Jiwa dan Positive Psychology Practitioner. Pembicara kedua adalah Birrul Qodriyah yang merupakan Alumni The University Of Edinburgh dan juga sebagai Mahasiswi Berprestasi Nasional Terinspiratif 2013.

Kedua pembicara membawakan materi yang sangat informatif dan menarik terkait kisah dan perjuangan serta proses kegagalan yang menghasilkan kemenangan sesungguhnya bagi seorang perempuan dalam menjalani dan menikmati setiap perannya.

Materi yang pertama disampaikan oleh Birrul Qodriyah. Beliau membuka materinya dengan menjelaskan makna kegagalan dalam pandangannya. Menurutnya, kegagalan adalah ketika hasil yang kita targetkan tidak sesuai dan dibawah dari apa yang kita harapkan/ekspektasikan.
Namun, dalam hakikat kegagalan tersebut, hal pertama dan harus menjadi pegangan kita dalam menghadapinya adalah memahami sudut pandang islam dalam memaknai kegagalan. Allah berfirman,

كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Kutiba ‘alaikumul-qitālu wa huwa kur-hul lakum, wa ‘asā an takrahụ syaiaw wa huwa khairul lakum, wa ‘asā an takrahụ syaiaw wa huwa syarrul lakum, wallāhu ya’lamu wa antum lā ta’lamụn.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

Beliau juga menjelaskan bahwa dalam setiap proses sebelum menuju kepada hasil, hal penting yang harus kita lakukan adalah meluruskan arah dan tujuan impian kita untuk tidak hanya fokus pada output saja, karena inilah hal terbesar yang menyebabkan adanya kegagalan. Sebaliknya, arahkan fokus dan seluruh ambisi kita pada proses pencapaian impian tersebut, sehingga bahkan gagal sekalipun, ia akan menjadi proses belajar yang menjadikan kita kuat.

Membangun “coping” terhadap kegagalan dapat dilakukan dengan selalu menanamkan positive thinking pada diri sendiri dan mengarahkan mindset belajar dalam setiap kondisi kita. Gagal adalah bagian penting dari belajar. Mendapatkan ilmu dari proses belajar tersebut adalah bagian penting dari bersyukur. Hal ini akan mengantarkan kita pada kualitas diri yang matang karena fokus pada pembenahan proses pendidikan, bukan hasil. Selain itu, penting untuk memiliki lingkungan yang positif untuk mengiringi tumbuh dan berkembang kita kearah yang baik.

Beliau menutup materinya dengan mengatakan bahwa,
“Gagal itu sebenarnya tentang cara pandang. Jika kita memaknai gagal sebagai bagian dari proses belajar, tidak ada yang namanya gagal. Karena bahkan, gagal itu sendiri adalah pembelajaran untuk bertumbuh.”

Materi yang kedua disampaikan oleh Puspita Alwi yang menekankan gagasannya supaya setiap orang bisa selalu open mind, open heart, dan open will terhadap segala permasalahan dalam hidupnya.

Beliau mengatakan “Ketika sesuatu berjalan tidak semestinya, maka kreativitas kita meningkat untuk terus mencapai tujuan awal. Akan tetapi, banyak diantara kita dalam kehidupan nyata memilih untuk diam.”

Menurutnya, hakikat kegagalan bukan tentang diri kita, akan tetapi bisa juga berasal karena kita mengizinkan society untuk menetapkan kegagalan atas diri kita.

Hal ini berdampak psikis kita sehingga terlalu sibuk menekan emosi buruk, padahal itu adalah sinyal bagi diri kita. Emosi yang kita anggap buruk adalah baik dan wajar, yang tidak baik adalah berdiam diri di titik tersebut.
Beliau memberikan tips seputar bagaimana menghadapi kegagalan dengan cara mencoba untuk berhenti sejenak supaya dapat memproses kegagalan tersebut alih-alih kabur darinya.

Pada hakikatnya, kegagalan mendekatkan kita dengan diri kita sendiri. Kegagalan ada untuk memperlihatkan bahwa kita masih memiliki ruang untuk bertumbuh. Karena gagal itu indah, yang lebih sulit adalah kemauan kita untuk mencoba lagi.

Beliau menekankan agar setiap orang tidak menyerah untuk terus mencoba benar-benar sadar terlebih dahulu tentang apa yang sebenarnya kita inginkan dan mencoba untuk mengingat hal positif atau pencapaian kita, hal ini sangat membantu kita untuk bangkit dari kegagalan.

Setelah penyampaian materi, acara ditutup dengan foto bersama dan pengumuman pemenang campaign “I was me, I am me” yang diadakan oleh panitia beberapa hari sebelumnya.

Campaign itu mengangkat tiga tema menarik yaitu mensyukuri kegagalan, perempuan inspiratif, dan apresiasi perempuan. Setelah itu, master of ceremony menutup acara dengan doa dan berakhirlah diskusi mengenai kegagalan yang sangat menarik tersebut.

Pewarta : Hasna Qothrun Nadaa


Berbagi :