Institut Hasyim Muzadi

Webinar Nasional : “Hak Asasi, Toleransi, dan Penghinaan terhadap Nabi”

Berita

Dr. KH. Fadlolan Musyaffa’, Lc. MA

Baru-baru ini, Presiden Perancis, Emmanuel Macron, sedang menjadi sorotan publik, hal ini berkaitan dengan pernyataan dalam isi pidatonya mengenai kasus yang baru saja terjadi di Perancis yaitu seorang guru yang dipenggal kepalanya oleh seorang muslim karena menggunakan karikatur Nabi Muhammad SAW ketika mengajar di kelas. Dalam Webinar Nasional yang diselenggarakan oleh Institut Hasyim Muzadi (IHM) dengan topik “Hak Asasi, Toleransi, dan Penghinaan terhadap Nabi”, Dr. KH. Fadlolan Musyaffa’ memberikan beberapa tanggapan mengenai kasus ini.

Berbagai Kecaman untuk Presiden Macron

Mengenai sikap Presiden Emmanuel Macron, KH. Fadlolan menyayangkan sikapnya, di tengah kecaman yang luar biasa, baik dari hubungan bilateral multi lateralnya, atau bahkan dari rakyat yang sama sekali tidak ada hubungan diplomasinya pun juga mengecam. Namun, Macron tetap mempertahankan statement dalam pidatonya, yang apabila dilihat dari sudut pandang ushul fiqih, pasti lebih besar mudaratnya daripada manfaatnya. Barangkali hal ini disebabkan karena adanya keinginan untuk mempertahankan nilai universalitas kemanusiaan, namun, menurut KH. Fadlolan hal ini akan menjadi bumerang apabila dipertahankan atau akan lebih parah lagi karena Macron dasarnya bukan dari agama yang benar. Beliau menambahkan, bahayanya bahkan bukan ekonomi saja melainkan juga eksistensi sebuah Negara tehadap diplomasi Negara lain.

KH. Fadlolan mengatakan, membela karikatur yang menghina nabi atau islam dari Charlie Hebdo merupakan sesuatu yang benar apabila dilihat dari kacamata kebebasan dan berekspresi. Namun, apabila hal itu mengesampingkan agama menjadi sangat disayangkan sekali. Sekalipun orang tersebut bukan beragama islam, seharusnya mampu membaca dengan baik, karena setiap agama mempunyai nilai-nilai universal yang mempertahankan kebaikan dan kebenaran. KH. Fadlolan berpendapat, barangkali karena Macron tidak memiliki nilai kebaikan dalam agama dan dendam pribadi terhadap islam, sehingga alasan demokrasi atau HAM pun menjadi salah karena nilai dari universalitas agama tidak dipahami dengan baik. Beliau menambahkan bahwa sesungguhnya demokrasi dengan agama tidak saling bertentangan. Begitu pula HAM, agama islam sangat melindungi demokrasi dan HAM. Seorang agamawan sekalipun yang berasal dari non muslim, apabila diamalkan dengan baik dan memahami agama dengan baik, akan mampu melindungi demokrasi dan HAM. Menurut KH. Fadlolan, apapun agama yang dianut oleh Macron, seharusnya mempunyai nilai universalitas agama yang di dalamnya terdapat kebaikan dan kebenaran. Dengan demikian, apabila yang disampaikan menggunakan dalih membela HAM atau demokrasi menjadi salah karena tidak dipahami dari nilai agama yang sebenarnya.

Pernyataan sikap Macron tersebut setidaknya akan mampu mengundang nilai-nilai agama menjadi fobia, entah agama apa saja, terutama islam. KH. Fadlolan juga mengatakan bahwa sikap ini bersifat provokatif dan menimbullkan perpecahan perdamaian antar umat beragama, perdamaian antar umat di dunia menjadi terpecah karena pernyataannya. Padahal menurut KH. Fadlolan apabila Macron melakukan introspeksi terhadap pernyataanya, menarik pernyataannya, dan meminta maaf akan membuat permasalahan ini tidak berkepanjangan. Hampir semua Negara-negara di timur tengah mengecam sikapnya, justru di Irak, Macron dibuat kartun dengan membuatnya waajah dan telinganya seperti iblis. Kemudian, KH. Fadlolan mengingatkan pesan Rasulullah agar umat islam tidan boleh memaki banyak orang, non muslim sekalipun. Jangan sampai terjadi penghinaan tehadap simbol-simbol keagaaman lagi untuk dilecehkan.

Sikap Pemerintah dan Rakyat Indonesia

Presiden Jokowi pun telah mengeluarkan pernyataan pada tanggal 31 Oktober 2020 yang mengecam keras perilaku Emmanuel Macron dengan pernyataan yang sangat bagus menurut KH. Fadlolan. Beliau menambahkan, bahwa sebelum mengeluarkan pernyataan ini, pemerintah Indonesia juga telah memanggil Duta Besar Perancis yang ada di Indonesia untuk diberikan sebuah klarifikasi atas ketidaksetujuan pemerintah Indonesia atas pernyataan Presiden Perancis, yang mengeluarkan pidatonya pada tanggal 2 Oktober. Barangkali, menurut KH. Fadlolan, pernyataan Macron ini dilatarbelakangi oleh sentimen pribadi Macron terhadap islam sehingga membela guru yang mengunakan karikatur Nabi Muhammad SAW tersebut.

KH. Fadlolan menyatakan, apabila Pemerintah Indonesia telah melakukan Government to Government antar presiden dengan Presiden Perancis, semestinya secara diplomasi atau bilateral sudah selesai urusan antar Negara. Namun, permasalahan ini bukan hanya Negara saja, melainkan agama yang dilecehkan sehingga setiap warga Negara diwakili presiden pun tidak cukup, begitu pula ormas islam termasuk juga rakyat secara pribadi akan melakukan sikap mengecam kepada Presiden Perancis dan mengarah kepada pemboikotan produk. Hal ini menurut KH. Fadlolan adalah hal yang wajar untuk dijadikan sanksi dan pelajaran bagi Presiden Perancis. Beliau menambahkan bahwa hal ini merupakan gerakan moral ketika agama yang diyakini atau diimani kemudian dilecehkan sebagaimana yang dilakukan oleh Emmanuel Macron, bahkan merasa benar, tidak minta maaf, dan memberikan stigma islam sebagai agama teroris. Maka dari itu, Negara-negara muslim secara keseluruhan merasa dicederai.

Terakhir, KH. Fadlolan menyatakan, Negara dan ormas sudah mengecam kemudian rakyat juga rencananya akan ada demo tanggal 2 November nanti di depan kedutaan Perancis yang ada di Jakarta. Kalau pun hal ini tidak belum cukup, rakyat di dunia ini akan semakin marah apabila Macron belum menarik statement atau minta maaf kepada umat islam di seluruh dunia agar suasana menjadi lebih damai lagi.

Resume oleh : Nuzulul Ilma

Berbagi :